DENTANG. DENTANG. DENTANG.
Kabut pagi menggantung rendah di atas jalan batu Thornmire saat suara palu kembali memenuhi kota. Asap tipis naik dari bengkel-bengkel besi di sisi timur kota. Bekas pertarungan semalam masih terlihat jelas di beberapa sudut jalan. Batu retak, gerobak pecah, dan noda darah hitam mengering di sela jalan.
Tentara Khazrek menarik bangkai beruang ke atas rantai besi besar. Tubuh makhluk itu diseret perlahan menuju tungku pembakaran luar kota.
Beberapa warga berdiri jauh sambil berbisik pelan. Tatapan mereka sesekali bergerak ke arah skuad Kael.
Wesi duduk di atas peti kayu dekat barak, ia menguap panjang. Rambut hitamnya masih berantakan. “Thornmire benar-benar kota bagus.” Ia menatap jalanan yang rusak. “Malamnya berisik. Paginya juga berisik.”
Arkan berdiri di dekat pagar batu, matanya menatap tentara Khazrek membersihkan darah di jalan. “Orang-orang masih lihat ke sini."
“Karena Kael sekarang terkenal," sahut Wesi.
Kael duduk diam di bawah atap barak. asap tipis mengepul dari cakaran Vessel jaguar di bahunya. Luka di kulitnya perlahan menutup.
Nila melirik bekas luka itu beberapa detik. “...Pemulihanmu lebih lambat.”
Kael mengangkat matanya sedikit. “Karena yang kulawan Vessel yang diambil alih oleh Darah.”
Seorang anak kecil muncul di ujung jalan, tangannya membawa sekeranjang roti kecil. Ia berdiri beberapa meter dari Kael, lalu perlahan mendekat.
Arkan menatap anak itu. “Hei...”
Anak kecil itu meletakkan satu roti di dekat Kael lalu buru-buru mundur lagi. “Untuk monster besar,” ucapnya cepat.
Wesi tertawa keras. Kael menatap roti itu beberapa detik. Anak kecil itu berlari pergi sebelum Kael bicara.
Wesi menyeringai lebar. “Nah. Sekarang kau resmi jadi legenda kota.”
Kael mengambil rotinya pelan. “Aku lebih pilih jadi orang asing.”
“Sayangnya kau terlalu besar buat itu.”
Suara langkah armor terdengar mendekat. Rennic muncul dari jalan utama bersama dua tentara Khazrek. Mantel abu gelapnya bergerak pelan diterpa angin rawa pagi.
“Pandai besi ingin bertemu kalian,” ucap Rennic.
Mata Wesi langsung menyala. “Sekarang?”
“Sekarang.”
Wesi berdiri cepat. “Aku suka pria tua itu.”
Nila mendecak kecil. “Kau suka semua orang yang memberi senjata.”
“Karena mereka memahami hidup.”
Mereka berjalan melewati jalan pasar Thornmire. Pedagang membuka toko. Lampu rawa hijau masih menyala di bawah atap batu. Aroma logam panas, roti panggang dan ikan asap memenuhi udara pagi.
Langkah Arkan melambat, ia menoleh ke beberapa pekerja tambang mendorong troli penuh bijih hitam.
DENTANG.
Percikan api beterbangan dari bengkel-bengkel sisi timur. Pandai besi tua yang mereka temui semalam berdiri di depan tungku besar. Tubuhnya lebar seperti dinding batu. Lengannya penuh luka bakar lama.
Ia melirik mereka lalu mendengus. “Kalian penghancur senjata sudah datang.”
Wesi menyeringai. “Kami datang membawa bisnis.”
Pandai besi itu menunjuk meja besi panjang di sisi ruangan. Patahan pedang Wesi dan kepala kapak Arkan sudah tergeletak di atas meja.
Arkan berjalan ke arah meja. Matanya menatap gagang baru kapaknya terbuat dari baja hitam Khazrek. Ia mengangkatnya perlahan. Logam dingin merambat ke telapak tangannya.
“Besi tambang selatan Khazrek,” ucap pandai besi itu. “Tidak mudah patah.”
Arkan mengayunkan kapaknya pelan. Suara angin pendek terdengar dari ujung bilah. “Lebih berat.”
“Bagus.” Pandai besi itu berjalan ke sisi lain bengkel lalu menarik sesuatu dari dinding.
DUG.
Sebuah war hammer besar jatuh ke meja besi.
Arkan mengangkat alisnya sedikit. “Kapak ini cukup.”
“Kau butuh ini." Pandai besi mundur selangkah. "Dunia tidak dibangun untuk tangan kecil.”
Wesi tertawa keras.
Arkan mendekat, tangannya terulur meraih gagang war hammer. Jemarinya menyusuri gagang, lalu berhenti di kepala, ujung jarinya meraba ukiran kasar Khazrek. Besinya lebih tebal dari kepala manusia