A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #17

16. SWAMP LORD KAELOR ZENN

Kabut rawa bergerak rendah di atas sungai hitam Morvath saat matahari sore mulai tenggelam di balik hutan akar raksasa.

Perahu-perahu kayu panjang bergerak pelan membelah air gelap tanpa suara besar. Lentera serangga bercahaya hijau menggantung di ujung perahu, cahayanya memantul samar di permukaan sungai yang dipenuhi lumut tipis.

Akar pohon rawa sebesar menara menjulur dari air seperti kaki monster kuno. Sebagian menggantung di atas sungai, dipenuhi kain ritual hitam dan tulang ikan rawa kecil yang bergerak pelan diterpa angin lembab.

Suara serangga malam terdengar dari balik kabut. Seorang anak kecil duduk di ujung dermaga kayu, ia memegang tombak ikan pendek. Di belakangnya, perempuan tua Morvath menggantung kulit reptil rawa di bawah atap rumah panggung.

Di sisi sungai lain, dua pemburu rawa menarik bangkai kadal besar ke atas jembatan kayu. Darah hewan itu menetes ke air, perlahan menghilang ditelan arus gelap.

Perahu dagang lewat di dekat mereka. Peti-peti kayu berisi tanaman rawa dan minyak hitam tersusun tinggi di atas dek. Seorang pria tua meniup seruling tulang pelan, nadanya panjang di tengah kabut.

Jauh di tengah rawa, Istana Morvath berdiri. Pohon rawa raksasa tumbuh menyatu membentuk menara, jembatan, dan dinding hidup. Akar sebesar rumah melilit struktur kayu hitam yang menjulang di atas sungai.

Lampu hijau kecil menyala di sela akar seperti mata-mata makhluk rawa. Kabut bergerak mengelilingi istana perlahan.

Seekor makhluk mirip ikan dengan kaki kecil memanjat akar pohon sebelum menghilang ke dalam air. Suara genderang rendah terdengar samar dari dalam istana.

Di pusat bangunan rawa, ruangan melingkar besar berdiri sunyi di bawah akar-akar raksasa. Air hitam mengalir pelan di bawah lantai kayu. Tanaman rawa tumbuh liar di sela tiang-tiang akar. Tengkorak monster rawa menggantung di dinding bersama jimat tulang kecil.

Kaelor duduk diam di tengah ruangan. Tubuhnya tegak di atas lantai akar hitam. Matanya tertutup, kedua tangannya terbuka di atas lutut.

Akar rawa melilit pergelangan tangannya perlahan, bergerak pelan. Nadinya berdenyut samar seperti makhluk hidup. Kabut tipis bergerak rendah di sekitar tubuh Kaelor, napasnya tenang. Di bawah lantai kayu, suara air bergerak pelan terdengar seperti bisikan jauh.

Pintu akar terbuka dari luar. Seorang pria tinggi masuk cepat ke ruangan. Armor rawa Morvath di tubuhnya dipenuhi lumpur. Mantel hitamnya basah sampai ujung.

Kapten detasemen Morvath berhenti beberapa meter dari Zenn lalu berlutut. "Lord Zenn."

Kelopak mata Kaelor terbuka perlahan, cahaya hijau rawa terpantul dari pupil matanya.

Akar yang melilit tangannya bergerak pelan, lalu melepaskan kulitnya sedikit demi sedikit, lalu turun kembali ke lantai seperti ular hidup.

Vaelor menundukkan kepalanya lebih dalam.

"Apa yang terjadi, Vaelor?" suara Kaelor rendah.

Kapten Vaelor mengangkat wajahnya perlahan. Bekas cakaran panjang terlihat di armor bahunya. "...Vessel Jaguar itu mati."

Suara air di bawah ruangan bergerak pelan. Kaelor menatap lurus wajah Vaelor.

"Di Thornmire," lanjut Vaelor. "Dia kehilangan kendali setelah darahnya mengambil alih tubuh."

Kaelor berdiri perlahan. Jubah hitam panjangnya jatuh menyentuh lantai akar. "Dan?"

Vaelor menelan ludah. "Dia dibunuh Vessel lain."

Kabut bergerak tipis di sekitar kaki Kaelor. "Ceritakan."

"Setelah anda perintahkan patroli. Kami berpatroli sampai ke perbatasan Morvath." Vaelor menarik napas pendek. "Vessel itu mengamuk, menyerang beberapa tentara. Saat saya tiba, Vessel itu melarikan diri ke arah Thornmire."

Vaelor menunduk sedikit. "Saya perintahkan beberapa tentara mengejarnya."

Kaelor berjalan pelan ke sisi ruangan. Di dekat akar besar, sepotong daging merah mentah tergeletak di atas mangkuk batu hitam. Ia mengambil daging itu tanpa bicara.

Tangannya bergerak, lantai akar di bawah ruangan perlahan terbuka. Air hitam bergerak pelan dari bawah celah kayu. Bau rawa lembab naik memenuhi udara.

Vaelor terdiam. Kaelor melempar daging itu ke bawah. Sesuatu bergerak dari dalam air.

DUUUSH.

Makhluk besar muncul cepat dari bawah rawa hitam. Rahangnya panjang dipenuhi gigi kecil bergerigi. Sisik besar dan gelap seperti tameng hidup. Mata merahnya terbuka sesaat sebelum rahangnya menelan daging itu utuh.

Lihat selengkapnya