DENTANG. DENTANG. DENTANG.
Asap tipis naik dari cerobong bengkel besi di sisi timur. Tentara Khazrek mengangkat puing kios hancur, para pekerja mengganti papan kayu yang patah. Lampu rawa hijau masih menyala redup di beberapa sudut jalan.
Skuad Kael berdiri di depan barak tamu Thornmire. Arkan menarik tali tas di punggungnya.
Wesi meregangkan bahunya, Chain blade hitam barunya tergantung melingkar di pinggang, rantainya berdenting kecil setiap kali ia bergerak. "Aku suka kota ini," gumamnya. "Ada minuman, senjata, dan keributan."
Mata Nila melirik ke Wesi. "Kau bisa tinggal kalau mau."
"Tidak. Biasanya kota bagus berakhir jadi tempat mayatku ditemukan."
Arkan mengangkat war hammer barunya ke bahu. Cahaya pagi memantul di besi hitam Khazrek. Kapak lamanya tergantung di sisi pinggang dengan gagang baja baru.
Kael berdiri paling depan. Mantel hitam panjangnya bergerak pelan diterpa angin rawa pagi. Luka cakaran di wajahnya menghilang tanpa bekas.
Beberapa warga Thornmire menatap mereka dari jauh. Seorang anak kecil menunjuk Kael dari balik gerobak ikan, ibunya menarik tangannya.
Rennic muncul dari arah jalan utama bersama dua tentara Khazrek. "Gerbang selatan sudah dibuka," ucapnya.
Mereka berjalan bersama melewati jalan pasar Thornmire. Pandai besi memukul logam merah membara. Pedagang Morvath membuka peti minyak rawa. Pemburu membawa bangkai reptil sungai ke pasar daging.
Langkah Rennic berhenti di depan gerbang selatan, kabut pagi mulai menipis. Rawa luas Morvath terlihat jauh di depan, membentang gelap sampai ke cakrawala.
Tangannya masuk ke dalam mantel abu gelapnya lalu mengeluarkan kantung kecil. Lima belas keping emas jatuh ke telapak tangan Kael.
Wesi mendekat. "Aku suka bagian ini."
"Hadiah resmi Thornmire," jawab Rennic. "Untuk membantu kota."
Kael menatap keping emas itu, tangannya meraih kantung di samping pinggangnya. Ia memasukkan koin emas, menarik tali kantung, lalu mengikatnya kembali ke pinggang.
"Kalau kalian ingin ke Hutan Kabut," lanjut Rennic, "ada dua jalur."
Ia menunjuk jalan batu besar ke arah barat. "Ibukota Khazrek." Lalu ke jalan tanah sempit menuju rawa. "Morvath."
Nila menyilangkan tangan. "Bedanya?"
"Khazrek lebih aman." Rennic menatap jalan batu besar. "Jalur pegunungan, tapi lebih aman."
"Dan lebih jauh," sambung Kael.
Rennic mengangguk kecil.
"Morvath?" Wesi menatap rawa luas di arah timur.
"Lebih cepat." Rennic berhenti sebentar. "Tapi kalian akan melewati rawa dan desa-desa perbatasan."
"Artinya monster," gumam Wesi.
"Dan Vessel."
Arkan memandangi rawa luas di kejauhan. Kabut tipis bergerak rendah di atas air hitam.
"Kalau lewat Khazrek?" tanya Nila.
"Lebih nyaman," jawab Rennic. "Tapi disana lebih keras dari Thornmire."
Mata Rennic bergerak ke arah Kael. "Dan belum banyak yang terbiasa dengan Vessel."
Kael menatap rawa selatan. "Aku pilih Morvath."
Wesi menyeringai. "Tentu saja."
"Kau bahkan tidak berpikir dulu?" tanya Nila.
"Sudah."
Nila mendecak kecil. "Itu lebih buruk."
Rennic mengembuskan napas kecil lewat hidung. "Kalau begitu..." Ia mengulurkan tangan ke Kael. "Semoga kalian tetap hidup sampai keluar dari rawa."
Kael menatap tangan Rennic, lalu mengulurkan tangan. "Dan semoga Thornmire tetap berdiri," balas Kael.
Rennic tersenyum tipis. "Itu tugas kami."
Gerbang besar Thornmire perlahan terbuka. Suara rantai besi menggema panjang. Skuad Kael berjalan meninggalkan kota frontier itu tanpa menoleh lagi.
Matahari naik tinggi saat mereka memasuki jalur utara Morvath. Jalan batu perlahan berubah menjadi tanah lembab bercampur akar rawa. Udara semakin basah.