A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #19

18. DESA RAWA

Cahaya matahari muncul samar di balik langit kelabu Morvath. Suara palu terdengar pelan dari kejauhan. Warga desa memperbaiki pagar dan dinding rumah yang rusak akibat amukan Jaguar beberapa hari lalu.

Kael berdiri di depan rumah tempat mereka bermalam. Mantel hitamnya bergerak kecil diterpa angin lembab rawa. Arkan keluar paling akhir.

Beberapa warga berjalan pelan membawa ember air dari sumur kecil di tengah desa. Asap tipis naik dari cerobong rumah kayu yang selamat dari serangan Jaguar. Bau lumpur basah, kayu terbakar, dan sup akar rawa memenuhi udara pagi.

Seekor ayam kurus berlari melintasi jalan tanah sebelum ditangkap anak kecil yang tertawa kecil. Di dekat pagar rusak, dua pria desa memasang papan kayu baru, mereka sesekali melirik ke arah rumah tempat skuad Kael menginap.

Wesi meliriknya mata Arkan. “Mukamu seperti habis digigit setan," ucapnya sambil mengunyah roti kering.

Arkan memasang war hammer di punggungnya lalu berjalan melewati mereka.

Wesi mengangkat alis. “Nah. Itu bukan jawaban yang meyakinkan.”

Nila menatap Arkan lalu menoleh ke Kael. “Dia mimpi lagi?”

Kael diam sebentar. “Ya.”

Arkan berhenti dekat sumur kecil desa. Matanya menatap ember kayu bergerak pelan tertiup angin. Tangannya mengepal perlahan.

Wesi mendekat, tangannya menggenggam kantung air. “Kalau kau terus pasang muka begitu,” Ia menyandar ke dinding sumur. “Orang bakal mikir aku yang bunuh keluargamu.”

Arkan mendengus kecil. “Kau berisik sekali hari ini.”

“Bagus.” Wesi menyeringai. “Berarti kau masih punya semangat hidup.”

Kael berjalan mendekat. “Kita berangkat.”

Seorang perempuan tua yang sedang menyapu halaman rumah berhenti saat mata mereka bertemu. Ia menunduk cepat.

Di dekat pusat desa, beberapa warga membagikan sisa makanan. Anak-anak duduk melingkar, memegang mangkuk kayu kecil.

Ketua desa muncul dari balik kabut membawa kendi tanah liat. Lengannya masih diperban. "Kalian bangun cepat,” ucapnya.

“Kalau tidur terlalu lama,” sahut Wesi. “Arkan mulai ngomong sambil tidur.”

Arkan menoleh cepat. “Aku nggak ngomong.”

“Kau teriak.”

“Aku nggak teriak.”

“Kau manggil nama seseorang.”

Arkan terdiam.

Nila melirik Arkan sekilas lalu mengambil cangkir kayu dari tangan ketua desa.

“Minum,” katanya. “Tidak enak. Tapi membantu tubuh tetap hangat di jalur rawa.”

Pria tua itu menuangkan air hangat bercampur daun rawa ke beberapa cangkir kecil.

“Kalian benar-benar mau masuk lebih dalam?” Matanya bergerak ke arah rawa timur.

Kael mengangguk kecil.

“Kalau malam tiba...” suaranya mengecil. "...jangan menyalakan api.”

Nila mengernyit. “Kenapa?”

Tatapan pria tua itu bergerak ke rawa hitam di kejauhan. “Rawa mendengar cahaya.”

Wesi tertawa pendek. “Kedengarannya seperti cerita mabuk.”

“Itu bukan cerita," balas pria tua itu datar. Kabut bergerak perlahan di belakang tubuhnya.

Kael menatap mata pria tua itu lalu berjalan melewatiya.

Mereka meninggalkan desa kecil saat matahari mulai naik lebih tinggi. Jalur tanah berubah makin sempit. Air hitam muncul di sisi kanan kiri jalan. Akar pohon rawa sebesar tubuh manusia keluar dari lumpur seperti ular raksasa.

Langkah mereka terdengar pelan di atas tanah lembek. Seekor bangkai rusa tergantung di cabang pohon. Separuh tubuhnya hilang. Lalat rawa memenuhi daging busuknya.

Arkan melirik bangkai itu sekilas, lalu menoleh ke bangkai lain. Pupil matanya melebar menatap kerangka manusia tergantung di pohon, jemarinya meremas tali tasnya.

Lihat selengkapnya