A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #20

19. KERAJAAN MORVATH

Kabut pagi menggantung rendah di bawah rumah-rumah panggung desa rawa, suara dayung mulai terdengar dari kejauhan. Air hitam bergerak pelan di antara akar rawa besar. Lentera hijau kecil muncul satu per satu dari balik kabut.

Kael membuka matanya perlahan. Ia bangkit, berjalan menuju jendela. Matanya menatap air rawa yang tenang. Suara napas besar di bawah rumah semalam sudah menghilang.

Wesi masih tidur setengah sadar di sudut ruangan. Chain blade hitam melingkar di samping tubuhnya seperti ular besi. Arkan duduk dekat jendela sejak subuh. War hammer hitamnya berdiri di samping lututnya.

Nila berdiri paling dekat pintu. Matanya menatap luar rumah. “Kael,” gumamnya pelan.

Kael Menoleh. Suara dayung kembali terdengar. Kabut di luar rumah bergerak perlahan. Bayangan panjang muncul di sela rawa hitam.

Tubuh perahu panjang dan rendah. Kayunya hitam seperti arang basah. Lentera serangga hijau menggantung di sisi kanan kiri kapal. Delapan prajurit Morvath berdiri diam membawa tombak rawa.

Wesi membuka satu matanya. “Pagi yang menyebalkan.”

Mereka keluar dari rumah. Papan jembatan kayu berderit pelan saat Kael melangkah turun. Matanya menyusuri sekitar. Semua pintu dan jendela rumah tertutup rapat.

Kael berdiri paling depan. Arkan menggenggam erat war hammer ditangannya. Wesi menggenggam gagang chain blade di samping pinggangnya. Nila berjongkok perlahan, jemarinya menyentuh tanah. Kabut tipis bergerak di sela jarinya.

Perahu Morvath berhenti beberapa meter dari dermaga kecil. Kayu perahu menghantam tiang dermaga. Para tentara Morvath tidak bergerak. Kapten Vaelor turun dari perahu.

Armor rawa abu rawa masih dipenuhi bekas lumpur perjalanan. Mantel hijau gelap panjang jatuh sampai lutut. Kedua tangannya berayun mengiktui langkah kakinya.

Wesi menggenggam chain bladenya lebih erat, urat lengannya menonjol. “Kalau dia datang tanpa senjata, biasanya justru lebih bahaya.”

Arkan memutar bahunya pelan. War hammer hitam terangkat ke pundaknya. Nila tetap berjongkok. Tanah lumpur di sela papan kayu dermaga bergerak kecil.

Kael berdiri diam di depan dermaga. Tubuhnya sedikit merendah, tulang di bahunya bergerak kecil.

Vaelor menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat kedua tangannya pelan. “Aku tidak datang untuk bertarung.”

Kabut bergerak di sekitar kaki mereka. Wesi menarik pedangnya setengah.. “Biasanya semua orang bilang begitu sebelum mulai membunuh.”

Beberapa tentara Morvath menggenggam tombaknya lebih erat.

“Aku membawa perintah Lord Morvath.” Vaelor berjalan mendekat, langkah kakinya pelan.

Kael menatap lurus matanya. “Aku tidak punya urusan dengan Morvath.”

“Sekarang punya.”

Air hitam bergerak pelan di bawah papan kayu. Bayangan besar bergerak di dalam air.

“Lord Zenn ingin berbicara denganmu," lanjut Vaelor.

“Kalau aku menolak?” tanya Kael datar.

“Kalau kau menolak,” jawab Vaelor menatap lurus mata Kael. “Aku tetap harus mencoba membawamu.”

Wesi menyeringai. “Itu baru jawaban bagus.”

Nila menoleh kecil ke Kael. Jemarinya masih menyentuh tanah.

Kael menoleh ke arah rumah kepala desa. Pria tua itu berdiri di depan pintunya. Kabut bergerak di sekitar tubuh kurusnya. Mata tua itu menatap Kael beberapa detik, lalu mengangguk.

Kael menarik napas pendek, otot tubuhnya kembali normal. Tulang bahunya berhenti bergerak, pupil matanya kembali bulat.

Wesi mendecak kecil, ia memasukkan pedangnya kembali. “Sayang sekali.”

“Mulutmu bakal bikin kita mati suatu hari,” gumam Nila.

“Kalau mati tapi tetap cantik, aku rela.”

Vaelor menatap mereka beberapa detik lalu berbalik menuju perahu. “Kalau begitu ikut aku.”

Kael berjalan mengikuti Vaelor. Wesi berjalan tepat dibelakangnya, diikuti Nila dan Arkan.

Kapal Morvath bergerak pelan membelah rawa hitam. Kabut tebal menggantung di atas air. Lentera hijau memantul samar di permukaan rawa.

Kael duduk diam di ujung kapal. Mantel hitamnya bergerak kecil diterpa angin lembab. Arkan duduk dekat peti logam. War hammer hitam bersandar di bahunya. Matanya sesekali bergerak menatap air rawa. Nila menatap akar-akar raksasa yang menjulur dari air seperti kaki monster kuno. Wesi berbaring setengah tubuh di sisi kapal, jemarinya memainkan rantai chain blade.

Salah satu tentara Morvath meliriknya. “Kalau kau jatuh,” gumam tentara itu, “sesuatu di bawah sana akan memakanmu.”

Wesi menoleh. “Kalau wajahku dimakan monster rawa, itu kerugian dunia.”

Tentara itu diam beberapa detik. “Pantas saja temanmu ingin membunuhmu.”

Lihat selengkapnya