Kabut tipis menggantung di antara pepohonan Hutan Bandit bagian selatan. Cahaya matahari sore masuk samar dari sela ranting hitam yang hangus terbakar. Bau abu dan kayu gosong memenuhi udara. Bekas perkemahan pemburu liar hangus terbakar. Gerobak terbalik di atas tanah hitam. Pedang bengkok dan tombak terbakar berserakan di sekitar api unggun yang sudah lama padam.
Seorang pria bertelanjang dada berjalan pelan di tengah hutan. Rambut hitam panjangnya jatuh sampai leher. Bekas luka tipis memenuhi dada dan lengannya seperti guratan lama peperangan.
Seekor kadal kecil merayap keluar dari batu. Kulit kadal itu langsung mengering saat pria itu lewat di sampingnya.
Pria itu melirik sekilas. "Sial." Ia mengusap tengkuknya pelan. "Aku bahkan belum lapar."
Asap tipis melayang di atas kulit kadal yang terbakar. Pria itu terus berjalan, ia menggaruk lehernya. Embun di dedaunan menguap sebelum jatuh ke tanah. Rumput kecil mengering di jalur langkahnya.
Langkah kakinya terhenti, matanya menatap seekor monster memakan bangkai rusa di bawah pohon besar. Tubuh monster itu kurus panjang dengan tulang menonjol keluar dari kulit. Air liurnya menetes ke tanah bersama potongan daging merah.
Monster itu menoleh, kepalanya bergerak perlahan, matanya kuning menyala. Bulu monster itu berdiri tegak, suara geraman terdengar dari mulutnya.
Pria itu memiringkan kepala. "Kalau mau nyerang, langsung saja."
Monster itu berlari menerjang. Udara panas menyapu pepohonan sekitar. Tubuh monster itu perlahan terbakar, lalu terpental menghantam batang pohon besar. Bulu monster itu menghitam hangus terbakar.
Pria itu berjalan melewati monster itu. "Monster sekarang mudah mati."
Angin bergerak pelan di antara pepohonan. Langkahnya pelan, sesekali menendang batu, suara siulan terdengar pelan dari mulutnya.
Udara di sekitarnya berubah lebih dingin, langkah kakinya melambat. Uap putih keluar dari mulutnya. Matanya menyipit menatap tanah membeku perlahan di hadapannya.
Es tipis merambat di atas akar pohon dan rumput hitam. Udara panas di sekitarnya dipenuhi kabut dingin.
Langkah kakinya terhenti. "Yah." sudut bibirnya terangkat kecil. "Aku kenal suhu ini."
Seseorang wanita berjalan keluar dari balik pepohonan. Rambut putih panjangnya bergerak pelan diterpa angin dingin. Mantel biru gelap menutupi tubuhnya sampai lutut. Matanya ungu pucat, uap dingin keluar dari mulutnya setiap kali bernapas.
Wanita itu berhenti beberapa meter di depan pria itu. Kabut dingin bergerak di sekitar kakinya.
"Ignar."
Ignar menyeringai kecil. "Erelith. Kau terlihat makin cantik." Uap panas keluar dari hidungnya.
"Kau terlihat makin menyebalkan." Erelith menatap lurus ke mata Ignar.
Ignar tertawa kecil. "Ah." Ia mengangguk santai. "Berarti semuanya normal."
Tatapan Erelith bergerak ke pepohonan terbakar di belakang Ignar. "Apimu terlihat sampai luar Hutan Bandit."
"Bagus." Ignar menyeringai kecil. "Berarti apiku masih sehat."
"Kau terlalu mencolok. Ignar"
"Aku memang pria yang hangat."
"Aku serius."
"Aku juga serius."
Es bergerak tipis di bawah kaki Erelith. "Kau membakar tiga desa dalam dua bulan."
"Itu berita bohong." Ignar mengangkat satu jari. "Dua desa."
"Conclave akan bergerak," ucap Erelith
Ignar melirik tanah membeku itu sebentar lalu kembali menatap wajah Erelith. "Mereka selalu bergerak."
Kabut bergerak pelan di antara mereka.
"Dan aku kira Conclave mengirimmu untuk membunuhku."
"Kalau aku ingin membunuhmu," jawab Erelith datar, "hutan ini sudah menjadi lautan es."
Ignar tertawa kecil. Suara tawanya menggema di antara pepohonan hangus. "Aku merindukan bagian itu."
Erelith diam beberapa detik. "Mereka akan memburu Darah Mythic."
Ignar mengusap dagunya pelan. "Dan?"