A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #22

21. RAWA MORVATH

Kabut pagi menggantung di antara akar-akar raksasa Morvath. Skuad Kael berjalan mengikuti Vaelor melewati jembatan akar hitam. Langkah mereka menggema pelan di atas kayu yang melilit seluruh kota rawa.

Arkan menatap sekitar sejak mereka masuk lebih dalam ke pusat Morvath. Matanya bergerak mengikuti rumah-rumah kayu yang tumbuh menyatu dengan akar pohon raksasa. Lentera hijau menggantung di mana-mana seperti mata serangga.

Air hitam mengalir jauh di bawah mereka. Sesuatu bergerak di kedalaman rawa.

Wesi melirik bawah jembatan lalu mendecak kecil. “Aku masih yakin ada monster sebesar gunung di bawah sana.”

“Kalau ada,” gumam Nila, “semoga dia makan kau duluan.”

“Mustahil.” Wesi menunjuk wajahnya sendiri. “Aku terlalu cantik untuk dimakan.”

Salah satu tentara Morvath di depan mereka menghela napas panjang. 

“Istana Lord Zenn ada di pusat akar," ucap Vaelor tanpa menoleh, mantel abunya menyeret di atas jembatan kayu. 

Mereka melewati pasar rawa besar. Para pedagang berhenti bicara saat melihat Kael lewat. Mata mereka bergerak ke mantel hitam Kael, lalu ke war hammer Arkan dan chain blade Wesi. Beberapa orang menunduk. Yang lain menatap Kael terlalu lama.

“Orang-orang sini aneh,” gumam Arkan pelan.

“Mereka takut,” jawab Vaelor datar.

“Takut pada siapa?” tanya Nila.

Vaelor menoleh sedikit. “Semua yang cukup kuat untuk menghancurkan kota ini.”

Langkah mereka berhenti di depan gerbang akar raksasa setinggi benteng. Akar hitam melilit dinding seperti ular. Lumut hijau tumbuh di sela ukiran tua. Dua penjaga Morvath berdiri diam, tangannya menggenggam tombak panjang.

Gerbang perlahan terbuka. Suara kayu tua bergesekan menggema panjang. Ruangan dalam istana Morvath jauh lebih gelap dibanding luar. Cahaya hijau dari rawa di bawah lantai kaca memantul ke langit-langit akar.

Kael berjalan paling depan. Matanya menyusuri ruangan luas dengan pilar akar hitam menjulang tinggi. Air rawa mengalir pelan di sela lantai batu.

Di ujung ruangan, Swamp Lord Kaelor Zenn duduk santai di singgasana akar hidup. Rambut panjang hitamnya jatuh sampai bahu. Jubah rawa gelap menutupi tubuhnya. Tatapan matanya tenang.

Mata Kaelor menatap Kael, senyum tipis muncul di wajahnya. “Sudah lama keluarga Valentark tidak menginjak Morvath.”

Nila menoleh cepat ke Kael. Arkan membeku beberapa detik lalu menoleh ke Wesi.

“Kau tahu dia keturunan Valentark?”

Wesi menyeringai, ia mengangkat bahu. “Kalian nggak pernah nanya.”

“Kau serius?” Nila menatap Wesi. 

“Aku pikir kalian sudah sadar.” Wesi menunjuk Kael. “Lihat wajahnya. Wajah orang bermasalah turun-temurun.”

Arkan menatap Kael lagi. Kael mematap lurus arah Kaelor.

Kaelor tertawa kecil. “Menarik.” Matanya bergerak ke Wesi. “Aku mulai mengerti kenapa kelompok ini masih hidup.”

Vaelor berjalan mendekat lalu berlutut satu lutut di depan singgasana. “Lord Zenn.”

“Kalian bisa pergi." Kaelor mengibas telapak tangannya. "Dan kau Vaelor, tunggu di depan."

Para tentara Morvath berbalik tanpa berbicara. Vaelor berdiri lalu ikut mundur keluar ruangan.

Pintu akar besar tertutup perlahan. Kaelor bangkit perlahan dari singgasananya. Langkahnya pelan menuju meja akar besar di tengah ruangan.

Kael menatap cangkir batu hitam di atas meja, asap hijau tipis keluar dari cairan di dalamnya. 

“Duduk.”

Mereka saling tatap, lalu duduk mengelilingi meja.

Kael duduk di dekat Kaelor. Kaelor mengangkat salah satu cangkir lalu meminumnya. “Ramuan rawa Morvath.”

Nila melirik cairan hijau pekat itu. “Kelihatannya seperti racun.”

“Sebagian memang racun.”

Wesi mengangkat cangkirnya. "Ini baru minuman yang jujur.” Ia meneguk setengah isi cangkir. Ekspresi wajahnya berubah. "Rasanya seperti lumpur mati.”

“Karena memang dibuat dari lumpur rawa,” sahut Kaelor datar. 

Wesi mendorong cangkirnya menjauh. “Aku ingin minta maaf pada semua minuman yang pernah kuhina.”

Arkan belum menyentuh cangkirnya. Kael menatap cairan hijau itu beberapa detik.

Kaelor menatap Kael, lalu tersenyum tipis. “Tubuhmu tidak akan terpengaruh.”

Kael mengangkat matanya.

“Itu hanya ramuan rawa.”

Kael mengulurkan tangan, meraih cangkir lalu meminumnya sekali teguk.

Nila dan Arkan saling tatap, lalu ikut minum.

Arkan mengernyit. “Demi Elder.”

“Benar kan?” Wesi menunjuk Arkan, ia memyeringai. “Aku tidak berlebihan.”

Lihat selengkapnya