Cahaya lentera rawa masuk samar ke dalam kamar. Pintu kamar terbuka dari luar, Vaelor berdiri di depan pintu, lalu menggeser tubuhnya.
Kael masuk pertama, melewati Vaelor, diikuti Wesi, Nila lalu Arkan. Para pelayanan kerajaan Morvath berjalan masuk di belakang Vaelor.
Tatapannya menenelusuri setiap sudut kamar. Dinding kamar terbentuk dari akar hitam hidup yang terus bergerak kecil seperti bernapas. Matanya bergerak ke ranjang rawa berjajar di sisi ruangan. Kasur tebal, dilapisi kulit monster rawa lembut dan kain hitam. Bau akar basah memenuhi udara.
Wesi menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Tubuhnya tenggelam setengah ke dalam kasur.
Mata Wesi langsung melebar. “Demi Elder." Tubuhnya memantul di atas ranjang. “Kasur ini lebih empuk dari dosa.”
Nila berdiri dekat meja kayu, matanya menatap pakaian baru yang ditinggalkan pelayan Morvath. Gaun tempur hitam-hijau dengan jahitan kulit rawa. Mantelnya panjang dan hangat. “Setidaknya mereka punya selera bagus,” gumamnya.
Arkan berdiri dekat pintu, jemarinya meraba pakaian barunya. Pakaiannya jauh lebih bagus dibanding pakaian yang ia kenakan.
Kael duduk diam di sudut ruangan. Mantel hitamnya melekat di tubuh. Ia menunduk, matanya menatap lantai.
Wesi meliriknya sekilas. “Oy.”
Kael tidak merespon.
“Kalau kau terus pasang wajah begitu,” lanjut Wesi, “aku mulai yakin kau benar-benar ingin menghancurkan Morvath.”
Nila membuka gesper bajunya. Wesi ikut menarik bajunya ke atas.
Pupil mata Arkan melebar, menatap otot perut Wesi.
Vaelor membalikkan badan ke arah pintu. “Kalian benar-benar santai telanjang di depan kami?”
Arkan tersentak, ia ikut berbalik menghadap pintu.
Wesi menoleh, lalu menarik sabuk, celananya turun sampai mata kaki. “Dua minggu lagi kami mati.”
“Itu bukan alasan," balas Arkan, wajahnya merah. "Kalau ingin mati, setidaknya matilah dengan sopan."
Nila tertawa kecil. “Kenapa?” Ia melirik Arkan, tangannya meraih pakaian di atas ranjang. “Kau malu?”
Wesi menyeringai, ia menghentakkan kakinya, celananya terlempar ke kaki Arkan. “Dua minggu lagi kita mungkin udah jadi pupuk di rawa ini, Arkan."
Nila mengikat tali baju di pinggangnya. “Dia benar. Kalau mati, mending nggak bau lumpur.”
“Tapi... Kalian wanita.”
“Dan kau anak kecil.” Wesi menarik celana barunya lalu menunjuk Arkan. “Kalau kita hidup lebih dari dua minggu, akan kucarikan wanita supaya kau jadi pria dewasa.”
“Aku sudah dewasa!”
“Kau masih enam belas tahun.” Wesi menggeleng. “Dan kau masih panik lihat paha.”
Nila menahan tawa.
Vaelor masih menatap pintu. “Aku mulai mengerti,” gumam Vaelor pelan, “kenapa Lord Zenn menyebut kelompok kalian aneh.”
“Dia belum lihat separuhnya,” sahut Wesi.
Kael tetap duduk diam di pojok.
Vaelor menarik napas panjang, lalu menghembuskan lewat mulut, kepalanya tertunduk. “Besok pagi aku akan memberi informasi perjalanan kalian.”
Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti sebentar sebelum keluar.
“Dan.” Ia menoleh setengah wajah. “Jangan mencoba kabur malam ini.”
Wesi mengangkat alis. “Kenapa?”
“Rawa Morvath akan memakan kalian.”
Vaelor melangkah keluar, pintu tertutup. Suara gembok terkunci terdengar dari balik pintu.
Wesi menjatuhkan tubuh ke kasur lagi. “Demi Elder.” gumamnya sambil memeluk bantal. “Aku rela mati di tempat ini.”
Nila ikut naik ke ranjang lain. “Aku belum pernah tidur di kasur seenak ini.”
Arkan mendecak kecil lalu menggelar kain di lantai. Wesi mengangkat kepala, menoleh ke arah Arkan. “Kau tidur di bawah?”
“Aku lebih nyaman.”
“Itu karena kau aneh.” Wesi menjatuhkan kepalanya ke bantal.
“Aku tidak mau tidur dekat kalian.”
“Takut kami lihat tubuhmu?” Wesi menyeringai.
Arkan menarik selimut kasar ke wajahnya. “Diam.” Ia memejamkan matanya.
Nila tertawa lalu memejamkan mata.
Kael duduk diam di sudut ruangan. Cahaya rawa hijau memantul samar di wajahnya. Tangannya perlahan bergerak ke dada sendiri. Ia menoleh ke jendela, matanya menatap air rawa diam tampa riak. Kabut hijau bergerak pelan di antara akar raksasa Morvath.
Cahaya rawa perlahan meredup. Suara napas Wesi dan Nila memenuhi kamar. Arkan memejamkan mata.
Suara detak jantung Arkan berdetak kencang. Tangannya menggenggam, kakinya bergerak perlahan.
Arkan kecil berlari di tengah salju, napasnya memburu. Suara langkah kaki terdengar di belakang.
Kayu hitam menghantam punggungnya. Arkan jatuh tersungkur ke salju.
“Bangun.” Suara kakek tua terdengar keras.
Arkan mengangkat kepala. Kakeknya berdiri di depannya, jemarinya menggenggam tombak kayu panjang. Jubah bulu tuanya bergerak diterpa angin salju. “Musuh tidak akan menunggumu bangkit.”
Arkan menggertakkan gigi lalu berdiri.
Kakeknya melempar tombak kayu lain ke arahnya. “Tangkap.”
Arkan mencondongkan tubuh ke depan, tangannya terulur. Tombak kayu jatuh melewati tangannya.
Tongkat tua kembali menghantam bahunya. “Kau lambat.”
“Aku sudah berusaha!”