A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #24

23. KOTA DREYMOOR

Kabut rawa bergerak pelan di atas sungai hitam. Kapal Morvath melaju membelah arus selama dua hari tanpa berhenti. Akar-akar raksasa perlahan mulai menghilang dari tepian sungai. Pepohonan rawa berubah lebih pendek. Rumah-rumah kayu mulai terlihat di sepanjang tepian.

Langit sore menggantung kelabu saat kapal mereka melewati tikungan sungai besar.

Arkan duduk dekat peti barang perlahan mengangkat kepala. Matanya menyipit, ia menatap deretan menara kayu tinggi berdiri di atas kabut sungai. Lentera-lentera rawa menyala di sepanjang dermaga raksasa. Kapal-kapal besar memenuhi tepian sungai.

Suara lonceng berat menggema dari kejauhan. Kabut bergerak pelan di antara tiang-tiang kayu hitam.

“Dreymoor,” gumam Vaelor di depan kapal.

Wesi berdiri dari tempat duduknya lalu menyandarkan siku ke sisi kapal. “Bagus.” Matanya bergerak melihat kota di depan. “Ini baru kota yang benar.”

Nila berdiri di sampingnya. Angin dingin meniup rambut hitamnya.

Dermaga kayu panjang memenuhi tepian sungai. Gudang-gudang besar berdiri rapat di belakang pasar. Menara pengawas hitam berdiri di sisi sungai seperti tombak raksasa.

Kapal pemburu dan kapal dagang memenuhi pelabuhan.

Asap tipis naik dari cerobong rumah. Arkan menoleh ke arah utara. Kabut sungai perlahan terbuka. Danau Lovrane terlihat samar di kejauhan. 

“Kita belum masuk wilayah Lovrane,” ucap Vaelor datar. “Kita masih di wilayah Morvath.”

“Tempat ini tidak terasa seperti Morvath,” gumam Arkan.

“Karena Dreymoor hidup dari orang luar.” Vaelor melepas zirah besinya. 

Arkan menoleh. "Kau melepas zirah?"

"Banyak vessel yang benci dengan kerajaan," jawab Vaelor, lanjut melepas zirah rantainya. 

Kapal perlahan mendekati dermaga utama. Suara para pekerja memenuhi udara. Salah satu tentara melempar tambang, melilitnya ke tiang dermaga. Peti-peti kayu dipindahkan.

Beberapa pemburu berjalan melewati dermaga, tangan mereka menggenggam tombak besar dan kepala monster rawa yang sudah dipotong. Bau ikan, lumpur, asap kayu, dan alkohol bercampur di udara.

Kael berdiri diam di ujung kapal. Matanya menatap sekitar tanpa bicara. Beberapa orang di dermaga melirik sebentar ke arah mereka, lalu berpaling.

Vaelor melompat turun lebih dulu dari kapal. “Kalian menginap semalam di Dreymoor.”

Wesi mengangkat alis. “Kenapa?”

“Kapal menuju Lovrane baru berangkat besok pagi.”

“Bagus.” Wesi turun dari kapal, ia mengangkat kedua tangannya ke atas, meregangkan pinggangnya. “Aku mulai bosan lihat wajah kalian.”

“Aku justru mulai terbiasa,” balas Nila.

“Itu pertanda buruk.”

Mereka berjalan memasuki kota. Arkan menatap orang-orang di jalan utama Dreymoor. Pemburu resmi Morvath mengenakan mantel rawa hijau gelap berjalan berdampingan dengan pedagang luar. Vessel terlihat di beberapa sudut jalan.

Ia menoleh ke seorang pria besar membawa peti kayu di pundaknya. Peti itu retak perlahan di bawah genggamannya.

“Ada banyak vessel di sini,” gumam Arkan.

“Karena turnamen Lovrane dimulai minggu depan,” jawab Vaelor.

Wesi langsung menoleh. “Turnamen?”

“Turnamen Vessel tahunan.”

Mata Wesi membesar. “Dan kenapa kau baru bilang sekarang?”

Vaelor meliriknya datar. “Karena kalian tidak bertanya.”

Wesi mendecak kecil. “Aku mulai benci cara kalian menjawab.”

Mereka melewati pasar transit Dreymoor. Wesi menyeringai menatap armor dari kulit monster. Ia menoleh ke tombak rawa di toko sebelahnya. 

"Wah sepertinya enak." Wesi menatap pedagang yang mengipas kulit monster di atas panggangan. 

Nila memijat pelipisnya. "Dasar maniak."

Lihat selengkapnya