Air sungai bergerak lebih tenang dibanding rawa Morvath. Kabut hijau perlahan menghilang sejak dua hari terakhir perjalanan. Akar-akar hitam yang memenuhi tepian sungai berganti dengan pohon pinus tinggi dan batu-batu putih besar.
Arkan berdiri di sisi kapal, matanya menatap air sungai yang jauh lebih jernih dibanding rawa Morvath. Pantulan cahaya matahari bergerak di permukaan air.
Ia menyipitkan mata. "Akhirnya ada matahari juga," gumamnya.
Wesi mendecak kecil dari belakang. Ia duduk di atas peti barang, menggigit roti keras. “Aku mulai lupa warna langit gara-gara Morvath.”
Nila berdiri dekat ujung kapal. Mantel hijaunya bergerak pelan diterpa angin utara yang dingin. “Udara berubah,” ucapnya pelan.
Vaelor berdiri dekat kemudi kapal. Tatapannya lurus ke depan. “Kita sudah meninggalkan wilayah rawa.”
Arkan menoleh ke tepian sungai. Pepohonan tinggi berjejer rapi di sisi kiri kanan jalur sungai. Jalan batu putih terlihat mengikuti aliran air di tepian. Sesekali kereta dagang melintas membawa peti dan kain.
“Tempat ini terasa...” Arkan diam sebentar. “Normal.”
“Jangan tertipu,” jawab Vaelor datar.
Wesi mengangkat alis. “Kalimat itu biasanya pertanda tempat ini lebih berbahaya.”
Kael berdiri diam di ujung kapal. Mantel hitamnya bergerak pelan diterpa angin dingin. Matanya menatap lurus ke depan.
Dua hari terakhir ia hampir tidak bicara. Pupil matanya menyempit saat udara dingin bergerak lebih kuat.
Wesi melirik Kael sekilas lalu kembali menggigit rotinya. “Aku mulai yakin dia memang setengah serigala.”
Nila menoleh. “Kenapa?”
“Dia lebih tenang sejak cuaca mulai dingin.”
Arkan ikut melirik Kael.
Kapal bergerak melewati tikungan sungai besar. Danau raksasa terbuka di depan mereka.
Arkan terdiam beberapa detik. Air biru keperakan membentang sejauh mata memandang. Cahaya matahari memantul di permukaan danau seperti kaca. Kapal-kapal putih besar bergerak di kejauhan.
Arkan menoleh ke sisi timur danau. Bangunan batu putih dan kayu terang memenuhi tepian air. Menara-menara tinggi berdiri menghadap danau. Jembatan batu melengkung menghubungkan sungai-sungai kecil di dalam kota.
Sebuah kastil besar berdiri di atas bukit batu terlihat dari kejauhan Dinding putihnya memantulkan cahaya matahari. Bendera hitam-biru House Voss berkibar di atas menara.
“Demi Elder...” gumam Arkan pelan menatap sigil mata di atas air.
Wesi berdiri dari peti barang lalu menyeringai lebar. Ia mengangkat kedua tangannya sedikit. “Ini baru kerajaan.”
Nila menatap kapal-kapal besar di danau. “Banyak sekali orang.”
“Karena Lovrane pusat perdagangan sungai utara,” jawab Vaelor.
“Nama ibukotanya?” tanya Arkan.
“Eldrake.”
Tatapan Arkan bergerak ke kastil besar di atas bukit. “Dan kastil itu?”
“Castle Eirenhalt.”
Wesi tertawa kecil. “Namanya terdengar mahal.”
Kapal mereka mendekati pelabuhan utama Eldrake. Dermaga batu putih memenuhi tepian danau. Puluhan kapal dagang berlabuh rapi. Para pekerja memindahkan peti, tong, dan kandang besi.
Suara peluit kapal bercampur dengan teriakan pekerja. Arkan menatap para penjaga kota. Armor mereka lebih bersih dan elegan. Pedang panjang tergantung di samping pinggang.
Kapal berhenti di dermaga. Arkan mengangkat tangan menutupi mata, cahaya matahari menyinark wajahnya.
Wesi menoleh ke wajah Arkan. Ia menatapnya beberapa detik.
Arkan mengernyit. “Apa?"
Wesi menyipitkan mata. “Aku baru sadar warna matamu lebih orange daripada cokelat.”
Arkan memiringkan kepala. “Hah?”
Nila ikut melirik sekilas. Cahaya matahari memantul di pupil Arkan. Warna jingga redup terlihat dari pupil matanya.
“Sekarang aku juga baru sadar,” gumam Nila.
Arkan membuang muka. “Itu cuma pantulan matahari.”
“Kalau begitu matamu aneh,” sahut Wesi.
Kael melirik Arkan beberapa detik, lalu berjalan meninggalkan dermaga.
“Jangan tertinggal.” Vaelor mengikuti Kael dari belakang.
Mereka berjalan memasuki Eldrake. Jalan utama kota jauh lebih lebar dibanding Morvath. Pohon-pohon tinggi berjejer rapi di sisi jalan batu putih. Daun-daunnya bergerak pelan diterpa angin dingin utara.
Sungai kecil membelah kota. Airnya bersih. Perahu-perahu kecil bergerak tenang membawa penumpang dan barang. Bangunan kayu terang berdiri rapi.
Arkan menatap balkon rumah yang dipenuhi bunga tanpa berkedip. “Tempat ini terlalu indah.”
“Karena uang mengalir di sini,” jawab Vaelor.
Wesi menunjuk toko senjata besar di sisi jalan. “Dan karena mereka tahu cara menghabiskan uang.”
Mereka berjalan melewati alun-alun besar kota.
Pemburu, pedagang, Vessel, Tentara, Orang luar kerajaan, bercampur menjadi satu.