A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #27

26. PASAR SUNGAI

Cahaya matahari pagi menyinari sungai-sungai Lovrane. Kabut tipis masih menggantung di permukaan kanal, udara Lovrane dingin, segar, dan dipenuhi aroma kayu pinus dari utara.

Kereta kuda bergerak di jalan batu putih. Kapal-kapal ramping melintas tenang di kanal. Suara lonceng kecil terdengar dari menara sungai.

Arkan berdiri di balkon penginapan. Cahaya matahari pagi memantul di pupil matanya.

“Demi Elder…” gumamnya pelan, ia menutup sebagian wajah.

“Masih belum terbiasa?” tanya Nila.

Arkan mendecak kecil. “Kota ini terlalu terang.”

Wesi keluar dari kamar, menggigit roti hangat. Rambut hitamnya masih berantakan. “Kau seperti vampir.”

“Aku tidak terbiasa matahari seterang ini.”

“Karena selama ini hidupmu isinya salju, hutan, dan depresi.”

Arkan mendengus kecil.

Wesi berhenti beberapa detik menatap wajah Arkan. “Kau tahu?”

“Apa?”

“Matamu.”

Arkan mengernyit.

“Warnanya benar-benar orange.”

Arkan berkedip pelan.

Arkan mengusap matanya. “Ini warna normal.”

“Tidak,” jawab Wesi cepat. “Ini warna orang yang akan bikin masalah besar suatu hari nanti.”

Kael keluar terakhir dari kamar. Mantel hitamnya menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tatapannya menuju jalanan kota di bawah penginapan.

Vaelor sudah berdiri dekat tangga bawah. “Kita bergerak sekarang.”

“Pagi sekali,” keluh Wesi.

“Pendaftaran turnamen dimulai pagi.”

Wesi langsung tegak. “Akhirnya kau mengatakan sesuatu yang indah.”

Jalanan Eldrake jauh lebih ramai dibanding kemarin. Pemburu dari berbagai wilayah memenuhi kota.

Arkan melihat vessel hampir di setiap sudut jalan. “Tempat ini benar-benar penuh monster.”

Ia menatap pria besar manipulasi berat yang kemarin menghancurkan meja tavern, berdiri dekat gerbang arena, tangannya menggenggam palu besi raksasa di pundaknya.

Ia menoleh wanita manipulasi benang duduk santai di pagar batu, ia menjahit luka di lengan seseorang hanya dengan gerakan jari. Benang hitam bergerak sendiri seperti hidup.

“Dia bicara begiru sambil jalan di sebelah Direwolf,” sahut Wesi.

Mereka tiba di plaza arena. Bangunan arena Lovrane berdiri megah di tengah kota. Dindingnya putih dengan pilar batu tinggi. Bendera-bendera kerajaan menggantung di sepanjang jalan masuk. Puluhan tentara Lovrane berjaga di sekitar pintu masuk.

Ratusan orang memenuhi plaza. Teriakan pedagang, suara taruhan, dan benturan senjata bercampur jadi satu.

Mata Wesi membesar. “Aku suka tempat ini.”

“Karena penuh kekacauan?” tanya Nila.

“Karena penuh uang.”

Mereka melewati papan pengumuman besar.

TURNAMEN VESSEL LOVRANE

HADIAH: 200 KEPING EMAS

TURNAMEN PEMBURU

HADIAH: RELIC DARAH

Di bawah tulisan itu tertempel daftar peserta sementara.

Wesi berjalan cepat ke meja pendaftaran.

“Nama?” tanya petugas tanpa mengangkat kepala.

“Wesi.”

“Nama belakang?”

Wesi memutar pupilnya ke atas. “Cantik.”

Petugas mengangkat kepala.

Nila memalingkan wajah sambil menahan tawa.

Lihat selengkapnya