Lampu-lampu kanal memantul di permukaan air danau seperti ribuan bintang kecil. Kapal-kapal bergerak perlahan di bawah jembatan batu putih. Musik lembut terdengar samar dari restoran pinggir kanal.
Kael berjalan sendirian di tepi kanal. Mantel hitamnya bergerak pelan diterpa angin dingin utara. Sepatunya melewati jalan batu basah yang memantulkan cahaya lampu kota.
Sudah hampir satu jam sejak ia keluar dari penginapan. Kael berhenti di pagar kanal, matanya menatap permukaan air tenang.
Pantulan wajahnya berubah sesaat. Pupil matanya memanjang, lalu kembali normal.
Kael memejamkan mata beberapa detik. Suara geraman rendah kembali terdengar di kepalanya.
Angin dingin bergerak melewati kanal. Kael membuka mata. Tiga tentara sungai Lovrane berdiri beberapa meter di belakangnya.
Armor hitam-biru mereka memantulkan cahaya lampu malam. Kael menoleh ke belakang, tiga tentara lagi berdiri beberapa meter.
“Kael Valentark.” Kael menoleh pelan.
Tentara paling depan membungkukkan kepala kecil. “Yang Mulia Queen Mirella Voss ingin bertemu denganmu.”
Kael menatap mereka beberapa detik, lalu berbalik. “Tunjukkan jalannya.”
Castle Eirenhalt berdiri megah di tepi danau utara. Eirenhalt dibangun dari batu putih dan kaca besar. Lampu emas menyala di sepanjang balkon tinggi kastil. Air danau mengalir melalui kanal-kanal kecil yang mengitari dinding luar istana.
Kael berjalan melewati gerbang utama bersama para tentara. Pelayan lalu-lalang membawa nampan perak dan botol anggur mahal.
Para bangsawan Lovrane berbicara pelan di lorong panjang. Matanya bergerak pelan mengamati sekitar.
Kael berhenti setelah melewati salah satu balkon. Ia menoleh ke kanal, air kanal di bawah kastil bergerak melawan arus beberapa detik.
Tentara di depannya menegang. Mata Kael menyipit.
Lalu air kembali normal.
“Terus jalan,” ucap tentara tadi lebih cepat.
Kael kembali melangkah. Pintu besar ruang audiensi terbuka perlahan. Kael menoleh ke dinding kaca besar, ia menatap danau malam Lovrane, cahaya bulan memantul di atas air danau. Suara air mengalir pelan memenuhi ruangan.
Ia beralih ke meja putih panjang dan kursi elegan di depannya. Queen Mirella Voss duduk santai di dekat jendela danau. Gaunnya putih-biru. Rambut hitam panjangnya jatuh rapi di bahu. Tangannya memegang cangkir teh hangat.
Kael melirik ke pria di samping Mirella, seorang pria tinggi berpakaian hitam-biru gelap. Rambut abu gelapnya pendek rapi. Sarung tangan hitam menutupi kedua tangannya. Pupil matanya biru pucat.
Mirella mengangkat matanya perlahan. “Kael Valentark.” Suaranya lembut, hampir seperti bisikan. “Ternyata rumor tentangmu benar.”
Mirella mengulurkan tangan, menunjuk ke kursi di depannya. “Duduklah.”
Kael menarik kursi perlahan, lalu duduk.
Pria di samping Mirella tetap diam seperti patung.
“Seraph Noctis,” ucap Mirella santai. “Jenderal utama Lovrane.”
Seraph menundukkan kepala sedikit.
Kael menatap pria itu beberapa detik.
Mirella menyesap tehnya. “Aku turut berduka atas kejadian Morvath.”
Kael tidak merespon.
“Lord Zenn memang sulit diajak bicara.”
“Kalau kau tahu itu,” balas Kael datar, “kenapa tetap bekerja sama dengannya?”
Senyum tipis muncul di bibir Mirella. “Karena sungai tetap harus mengalir.”
“Jaguar Morvath mati," lanjut Mirella. “Direwolf muncul. Relic darah hilang.” Ia menatap mata Kael. "an sekarang seluruh kerajaan mulai membicarakanmu.”
Mirella meletakkan cangkir tehnya. “Lovrane tidak suka kejutan.”