A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #29

28. ARENA

Suara ribuan orang bercampur dengan bunyi lonceng logam dan teriakan bandar taruhan. Bendera-bendera House dari kerajaan Lovrane berkibar di atas tribun batu raksasa. Cahaya matahari utara memantul di permukaan danau besar belakang arena.

Arkan berdiri di tengah kerumunan penonton. Matanya bergerak ke segala arah. Tribun batu menjulang melingkar seperti benteng perang. Kanal-kanal kecil mengelilingi arena, cahaya putih langit Lovrane memantul di atas air sungai.

“Demi Elder...” gumam Arkan pelan.

Mata Wesi membesar. “Aku suka tempat ini.”

“Kau suka semua tempat yang penuh kekacauan,” balas Nila datar.

“Karena tempat tenang biasanya membosankan.”

Vaelor berjalan di depan mereka tanpa menoleh. “Jangan buat masalah.”

“Tidak janji,” jawab Wesi cepat.

Kael berjalan paling belakang. Tatapannya bergerak pelan menyapu arena. Bisik-bisik kecil terdengar dari tribun sekitar.

“Itu dia?”

“Wanita sinting yang ikut turnamen?”

“Katanya dari utara?”

“Dia terlihat biasa saja.”

Mereka tiba di tribun bawah dekat arena utama. Vaelor duduk lebih dulu. “Turnamen vessel dimulai lebih dulu.”

Wesi menjatuhkan tubuh ke kursi batu. “Akhirnya.”

Arkan duduk perlahan di samping Nila. Matanya menatap arena raksasa di bawah mereka.

Pasir putih memenuhi lantai arena. Bekas darah gelap masih terlihat di beberapa sudut. Lonceng besar berbunyi. Seluruh arena perlahan sunyi.

Seorang pria tua berpakaian biru-putih berjalan ke tengah arena sambil membawa tongkat perak panjang.

“Selamat datang di Turnamen Lovrane!”

Sorak langsung meledak.

“Turnamen vessel tahunan dimulai hari ini!”

Teriakan penonton menggema dari segala arah.

“Pertarungan pertama!” Pria tua itu mengangkat tongkatnya tinggi.

“Dorian!”

Pintu besi sisi kiri arena terbuka. Seorang pria berambut pendek berjalan masuk perlahan.

Tubuhnya tinggi kurus. Sarung tangan hitam menutupi kedua tangannya.

Suara logam terdengar saat ia melangkah. Bilah hitam panjang perlahan keluar dari siku kanannya.

Arkan menegakkan tubuh. “Pedang...”

“Manipulasi pedang,” gumam Vaelor.

Pria itu memutar lengannya. Bilah panjang memantulkan cahaya matahari arena.

Sorak penonton membesar.

“Dan lawannya!” Tongkat perak kembali menghantam lantai arena.

“Relric!”

Pintu kanan arena terbuka. Seorang pria bertubuh sedang berjalan masuk pelan tanpa armor, tiga pisau terjepit di sela jarinya.

Wesi mengernyit. “Yang itu vessel?”

Selric berhenti di tengah arena, lalu tersenyum.

“Aneh,” gumam Arkan.

DUONGGGG.

Lonceng pertarungan berbunyi. Dorian bergerak lebih dulu.

Tubuhnya melesat cepat. Pedang lengannya menebas lurus ke arah leher Selric.

Tubuh Selric terbelah. Tebasan itu melewati lehernya, tubuh bagian atas dan bawahnya terbuka mengikuti arah pedang.

Crowd bersorak liar.

“HOOOOO!”

Dorian melompat mundur.

Matanya menyipit.

Tubuh Selric perlahan kembali menyatu. Tanpa luka.

Wesi berdiri setengah. "Oh aku suka yang itu.”

Dorian menyerang lagi, lebih cepat. Dua bilah keluar dari kedua lengannya.

Tebasan beruntun menghantam tubuh Selric. Tubuh Selric terus membelah mengikuti arah serangan. Dadanya terbuka, bahunya terpisah, perutnya terbelah.

Arkan menatap tubuh Selric. "Tubuh itu..."

"Vessel Belah." potong Vaelor. "Tubuhnya otomatis terbelah saat terkena serangan senjata tajam."

Arkan mengangguk. “Dia tidak bisa ditebas...”

Di tengah arena, Dorian berhenti menyerang. Napasnya memburu.

Tubuh Selric menyatu kembali, ia menyeringai. “Sudah selesai?”

Sorak penonton memenuhi arena.

Lihat selengkapnya