A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #30

29. APEX PREDATOR

Suara ribuan orang menggema di bawah langit cerah Lovrane. Tribun batu raksasa berdiri mengelilingi arena seperti benteng perang. Salju tipis turun perlahan. Arkan mengangkat telapak tangannya. Serpihan salju mendarat di kulitnya lalu mencair perlahan.

Beberapa orang di tribun mulai berbisik.

“Belum musim dingin.”

“Aneh sekali.”

“Apa ada vessel es datang?”

Vaelor duduk diam di depan mereka. Tatapannya lurus ke arena. Mantel hitam-hijaunya bergerak kecil diterpa angin dingin.

Kael duduk paling ujung. Salju kecil jatuh di rambut hitamnya.

Nila berdiri perlahan.

Mata Arkan bergerak ke arah Nila. “Kau mau ke mana?”

“Keliling sebentar.”

“Sendiri?”

Nila mengangkat alis. “Aku tidak akan mati cuma karena jalan sendirian.”

Wesi tertawa. “Dia justru berbahaya buat orang lain.”

Nila memutar mata lalu berjalan meninggalkan tribun.

Arkan menatap punggung Nila beberapa detik sebelum lalu menoleh ke arena.

DUONGGGG.

Lonceng arena berbunyi. Sorakan penonton kembali meledak.

Pertarungan Vessel kedua berjalan lebih cepat, dilanjutkan pertarungan pemburu manusia.

"Tameng dan pedang. Pasti membosankan." Wesi menyandarkan punggungnya. Matanya menatap dua pemburu masuk ke dalam arena.

Suara denting pedang dan tameng terdengar samar di balik gemuruh penonton.

Di arena, Salah satu pemburu kehilangan tameng. Kedua tangannya menggenggam erat pedangnya, menyerang tanpa jeda.

Pemburu satunya menahan setiap ayunan pedang dengan tamengnya sampai pedang lawannya menebas terlalu dalam, tertahan di tamengnya.

Ia mendorong lawannya. Pegangan tangan lawan di pedangnya terlepas. Ia melempar tamengnya ke samping, lalu berlari menghunuskan pedangnya menusuk perut lawannya.

Penjaga memasuki arena, meraih kaki pemburu yang mati, lalu menyeretnya menuju gerbang.

Gemuruh penonton kembali bergema,

“PERTARUNGAN SELANJUTNYA!”

Gerbang kiri arena terbuka.

Seorang pria kurus berjalan masuk perlahan. Tubuhnya dipenuhi tonjolan tulang kecil di bawah kulit.

“VESSEL TULANG!”

Sorakan terdengar dari tribun atas.

Pria itu menyeringai kecil lalu mencodongkan tubuhnya ke depan. Tangannya bergerak ke belekang lehernya.

KRAKK.

Tulang panjang keluar dari bawah tengkuknya. Tangannya menarik keluar tulang belakangnya. Pedang tulang terhunus di depan matanya.

Arkan menegakkan tubuhnya sedikit. “Demi Elder...”

Gerbang kanan arena terbuka. Seorang pria bertubuh besar berjalan pelan menuju tengah arena. Tas kulit di tangannya berayun mengikuti langkahnya.

“VESSEL AMOEBA!”

Ia berhenti di tengah arena, meletakkan tasnya, lalu berjongkok membuka tasnya. Puluhan pedang dan pisau terbungkus di dalam tas.

"KAU CUMA PUNYA DUA TANGAN BODOH."

Teriakan dari arah tribun terdengar.

Pria besar itu menoleh ke arah tribun, lalu tubuhnya terbelah menjadi dua orang, terbelah lagi, dan lagi hingga menjadi sepuluh orang di tengah arena.

"WOY ITU KEROYOKAN." Teriakan lain terdengar.

DUONGGGG.

Vessel Tulang menyerang lebih dulu. Pedang tulangnya melesat cepat. Sepuluh Vessel Amoeba meraih pedang dari tas, lalu berpencar mengelilingi Vessel tulang.

Vessel tulang menghentak pedangnya. Pedang itu berubah menjadi cambuk tulang. Ia berputar, dua kepala Vessel Amoeba terputus, tubuhnya tergeletak di tengah arena.

Tubuh Vessel Amoeba lain menyerang, Potongan tulang beterbangan. Bilah hitam memotong bahu, Darah membasahi pasir arena.

Penonton bersorak liar setiap kali tubuh Vessel Amoeba jatuh. Lalu tubuh Amoeba lain kembali terbelah menjadi dua tubuh lagi.

Arkan menatap arena tanpa berkedip.

“DUA PULUH EMAS UNTUK VESSEL TULANG!”

“TIGA PULUH UNTUK AMOEBA!”

Suara bandar taruhan berteriak mengangkat papan angka dari sisi lain tribun.

Arkan menatap tujuh tubuh Vessel Amoeba tergeletak di atas pasir dan sepuluh tubuh lain masih berdiri. Ia menoleh ke kursi Nila, lalu menoleh ke sekitar tribun. Wesi masih sibuk makan. Vaelor fokus ke arena. Kael diam menatap bawah arena.

Arkan berdiri perlahan.

Wesi melirik sekilas. “Mau ke mana?”

Lihat selengkapnya