A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #31

30. PURE BLOOD

Langit Astaghor berwarna jingga gelap saat Erelith memasuki jalur batu dekat sungai utama kerajaan. Cahaya senja memantul di permukaan air panjang yang membelah wilayah selatan seperti ular raksasa. Kapal-kapal sungai bergerak pelan membawa peti kayu, kain, dan patung-patung Elder God menuju pusat kota.

Angin hangat bergerak pelan di antara pepohonan tinggi pinggir jalan. Erelith berjalan tanpa tergesa. Mantel biru gelapnya perlaham berubah hitam, bergerak menyapu batu jalan. Matanya lurus ke depan.

Di kejauhan, Kastil Astaghor berdiri besar dekat sungai. Menara putih keemasannya memantulkan cahaya matahari terakhir. Jembatan batu besar menghubungkan benteng kerajaan dengan pusat kota.

Suara doa terdengar samar dari arah kuil. Patung Elder God berdiri tinggi di tengah alun-alun sungai. Warga berjalan di bawahnya sambil menundukkan kepala.

Erelith melewati mereka tanpa menoleh. Ia terus berjalan memasuki wilayah dalam Astaghor.

Jalan kota dipenuhi pohon-pohon tinggi berjajar rapi di sisi jalan batu. Lentera putih mulai menyala satu per satu. Simbol Elder God terukir di setiap bangunan.

Erelith menoleh ke patung tanpa kepala di ujung jalan, relief batu yang dipahat ulang. Nama dewa lama yang dicoret kasar. Ia berhenti beberapa detik di depan salah satu dinding. Bekas simbol matahari terlihat samar di balik pahatan lambang Elder God.

Ia kembali berjalan, menuju Collegium Osthar yang berdiri jauh dari pusat sungai kerajaan. Bangunannya menjulang besar di atas bukit batu. Kubah observatorium berdiri tinggi menghadap langit malam yang mulai turun. Jendela-jendela panjang memantulkan cahaya putih lentera.

Para sarjana masih bergerak di dalam aula.

Beberapa membawa buku, menulis. Ia menoleh ke sudut, beberapa sarjana berdiskusi pelan.

Erelith berjalan melewati mereka tanpa bicara. Ia menaiki tangga batu menuju lantai paling atas Collegium.

Pintu kayu besar terbuka pelan. Rak buku memenuhi dinding, cahaya api kecil bergerak pelan di sudut ruangan. Seorang pria duduk dekat meja panjang. Kepalanya menunduk, membaca lembaran dokumen.

Pria itu mengangkat mata pelan. “Kau lebih lambat dua hari.”

Erelith menutup pintu di belakangnya. “Jalur sungai penuh kapal Conclave.” Ia berjalan mendekat ke meja. “Velskorath mulai bergerak cepat. Mereka panik.”

Pria itu tersenyum kecil. “Mereka memang selalu panik.”

Erelith menatap pria di depannya, lalu menarik kursi. Suara pena para sarjana terdengar samar dari luar ruangan.

“Bagaimana dengan Veyron?” Erelith menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Gagak datang dari desa perbatasan tiga kerajaan.” Pria itu menutup dokumen di tangannya.

“Kapan?”

“Tadi pagi.”

“Dan?”

“Empat hari lalu Veyron masih di sana.” Pria itu mengetuk meja pelan menggunakan jarinya.

“Kalau begitu...” gumam Erelith pelan. “Dia seharusnya sudah sampai di Lovrane sekarang,”

Pria itu mengangguk kecil. “Dia memberi tujuan?”

“Tidak.”

Sudut bibir pria itu bergerak tipis. “Ciri khas orang dari benua Therond.”

Erelith menatap rak buku belakang ruangan. “Aku heran kenapa kau masih membiarkan dia bergerak sesuka hati.”

“Karena bahkan aku tidak bisa menghentikannya.”

Angin malam masuk pelan dari sela jendela Collegium.

“Ignar?” Pria itu berdiri, berjalan menuju rak, tanganya terulur, menarik salah satu buku.

Mata Erelith bergerak kecil. “Aku bertemu dengannya di Hutan Bandit."

“Masih sama?”

Lihat selengkapnya