Suara lonceng darurat menggema di seluruh arena Lovrane. Sorakan penonton yang sebelumnya liar berubah jadi teriakan panik. Orang-orang berdiri dari kursi batu tribun. Orang-orang berdiri. Sebagian mencoba melihat asap hitam yang naik dari belakang arena. Sebagian lain mulai mendorong turun ke tangga batu. Salju tipis terus turun dari langit cerah.
"Kenapa makin dingin?!"
"Itu asap?!"
"Ada kebakaran!"
Di tengah arena utama, Kael masih berdiri berhadapan dengan Gormak.
Napas keduanya berat. Pasir putih arena berubah merah.
Kael dan Gormak masih saling mengunci.
Rahang besar Vessel Buaya menggigit bahu Kael. Darah mengalir deras membasahi lengan mereka berdua. Kael menghantam siku ke kepala Gormak berkali-kali sampai suara retakan terdengar samar.
Gormak tertawa. "BAGUS!" Ia mendorong Kael sampai keduanya terpisah beberapa langkah.
Rahang besar Vessel Buaya terbuka lebar, deretan gigi kasar dipenuhi darah. Bekas cakaran Kael membelah dada dan wajahnya.
"Aku suka mata itu..." gumamnya pelan. "Mata hewan yang mulai panik."
Kael tidak menjawab. Matanya bergerak ke arah lorong belakang arena. Asap semakin besar, jeritan mulai terdengar sampai ke arena utama.
Gormak tertawa pelan. "Kau kehilangan fokus." Tubuh besarnya langsung melesat.
Kael terlambat menghindar.
Bahu Gormak menghantam dadanya seperti banteng liar. Tubuh Kael terpental berguling di pasir arena.
Penonton di tribun bawah mulai berteriak panik.
"LARI!"
"JANGAN DORONG!"
Ledakan kecil terdengar dari belakang arena. Api membumbung dari arah kanal logistik.
"KEBAKARAN!"
Kael berdiri diam beberapa detik. Napasnya berat. Darah mengalir dari bahunya yang sobek.
Sorakan panik bercampur dengan suara taruhan yang jatuh berserakan.
Gormak menerkam lagi. Kael menahan rahang besar Vessel Buaya dengan kedua tangannya. Pasir arena retak di bawah kaki mereka. Otot lengan Kael menegang.
Rahang Gormak terus menekan turun perlahan ke arah wajahnya. "MATI!"
Kael menggeram pelan. Cakarnya menghantam mata kiri Gormak. Darah muncrat. Gormak meraung lalu mundur beberapa langkah sambil menutup wajahnya.
Kael bangkit perlahan. Napasnya mulai berubah berat.
Bau darah, asap, api dan jeritan bercampur memenuhi udara arena.
Di tribun atas, penonton mulai saling dorong. Beberapa jatuh dari tangga batu. Bandar taruhan kabur membawa kantong emas.
Lonceng darurat terus berbunyi. Kereta kayu terbakar memenuhi jalan batu kanal. Api menjalar cepat dari satu kapal ke kapal lain. Asap hitam memenuhi langit Lovrane.
Vessel-vessel tahanan berlarian ke segala arah. Sebagian menyerang penjaga. Sebagian hanya mencoba kabur.
Seorang vessel membakar rantainya sendiri sampai kulit tangannya ikut hangus. Seorang penjaga menusuk dadanya dari belakang. Darah menyembur ke batu jalan.
Kalung hitam mulai berdenyut satu per satu. Air keluar dari sela kalung di leher seorang Vessel perempuan. Kepalanya terputus, tubuhnya jatuh di jalan batu.
"LARI!"