A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #33

32. AWAKENING

Lonceng darurat terus berbunyi di seluruh Lovrane, asap hitam naik memenuhi langit kota. Api menyala di sepanjang kanal, kapal-kapal kayu saling bertabrakan di sungai.

Di tribun arena, orang-orang mulai berdesakan turun melewati tangga batu, saling dorong tanpa peduli siapa yang jatuh di bawah kaki mereka. Jeritan bercampur dengan suara baja, suara kayu runtuh, dan suara vessel yang mengamuk di lorong belakang arena.

Pasir putih arena sudah berubah merah gelap oleh darah. Retakan memenuhi lantai. Kael berdiri beberapa meter dari Gormak, napasnya memburu. Darah terus menetes dari bahu kirinya yang robek. Sebagian pakaiannya hancur, luka panjang di dada dan lengan masih mengucurkan darah hangat ke pasir dingin.

Di seberangnya, Gormak tertawa. "Sudah lama..." Ia meludah darah ke pasir lalu mengangkat kepalanya perlahan. "...aku tidak sesenang ini."

Sorakan liar masih terdengar dari sebagian penonton yang belum kabur.

"VESSEL BUAYA!"

"BUNUH DIA!"

"MAKAN ANJING ITU!"

Salju tipis turun perlahan di atas arena, mencair begitu menyentuh darah yang masih hangat. Gormak menundukkan tubuhnya sedikit, lalu suara retakan tulang udara.

Punggungnya membesar perlahan. Lengannya memanjang, suara patahan terdengar dari setiap sendi. Kulit kasarnya berubah menjadi sisik hitam kehijauan yang menebal cepat di bawah cahaya api dari luar arena. Rahangnya terdorong maju, giginya memanjang keluar seperti tombak-tombak bergerigi.

Penonton berdiri sambil berteriak histeris.

"DIA BERUBAH!"

Tubuh Gormak terus membesar, pasir arena retak di bawah beratnya sendiri. Ekor panjang menghantam tanah, suara ledakan keras dan hamburan pasir ke segala arah.

Monster buaya sepanjang tujuh meter berdiri rendah di tengah arena, mata kecil merah menatap Kael tanpa berkedip.

Wesi di tribun sambil tertawa keras. "KALAU KAU MASIH MENAHAN DIRI. BUAYA ITU AKAN MEMAKANMU KAEL."

Kael tidak bergerak, ia menatap tubuh raksasa di depannya, uap putih keluar dari mulutnya.

Gormak membuka rahangnya lebar lalu meraung keras, tribun bergetar. Ia melesat ke arah Kael.

Kael melompat ke samping, menghindari rahang besar Gormak. Rahang Gormak menghancurkan tempatnya berdiri tadi. Pasir dan batu beterbangan.

Ekor Gormak menyapu dari samping, menghantam tubuh Kael, ia terpental ke dinding arena. Batu retak di belakang punggungnya. Darah keluar dari mulutnya.

Gormak tertawa semakin keras, ia berlari mendekat. "LEMAH!"

Gormak kembali menerjang. Kael bangkit cepat, ia menyeka darah dari dagunya. Kukunya memanjang sedikit demi sedikit menjadi cakar hitam. Tubuhnya membungkuk.

Gormak membuka rahangnya lagi, Kael melompat maju. Dua monster bertabrakan di tengah arena, suara ledakan keras mengguncang tribun bawah. Pasir bercampur darah terlempar ke udara.

Kael mencakar wajah Gormak berkali-kali, sisik kasar di dekat matanya pecah, darah menyembur membasahi lengannya.

Gormak menggigit lengan Kael lalu membanting tubuhnya ke tanah, pasir arena retak di bawah mereka. Kael menggeram.

Gormak mencoba menggigit leher Kael. Kael mendorong tubuhnha menjauh lalu melompat mundur beberapa langkah, napasnya terengah.

Tubuh Kael bergetar. Rambut hitam tumbuh di sepanjang lengannya. Kukunya berubah menjadi cakar panjang. Matanya menyala merah terang di tengah asap dan salju yang turun semakin deras.

Suara retakan tulang kembali terdengar. Kael menunduk, otot punggung dan lengannya bergerak di bawah kulit. Rahangnya memanjang. Giginya berubah tajam. Bulu hitam tumbuh cepat memenuhi tubuhnya.

Direwolf setinggi dua meter berdiri di tengah arena, napas panas keluar dari mulutnya.

Penonton terdiam, sunyi sepersekian detik. Lalu sorakan meledak jauh lebih keras dari sebelumnya.

"DIREWOLF!"

Lihat selengkapnya