Asap hitam masih terlihat dari arah Lovrane saat malam turun perlahan di atas distrik luar kota. Api memantul samar di langit jauh seperti bara merah di balik kabut. Bau kayu terbakar terbawa angin sampai ke bangunan kosong tempat mereka bersembunyi.
Kael duduk bersandar di dekat dinding. Ia mendongak, menatap sebagian atap gudang yang runtuh. Salju turun pelan dari sela kayu lapuk di langit-langit. Tubuhnya sudah kembali normal, ia merapatkan mantel hitamnya. Luka gigitan di bahu kirinya menutup sempurna.
Nila duduk di lantai batu beberapa meter dari Kael, tangan kanannya menggenggam kain, menekan lengan kirinya. Wajahnya dipenuhi debu dan darah kering. Wesi berdiri dekat jendela pecah, ia mengintip ke jalan luar. Chain blade miliknya dipenuhi darah yang belum dibersihkan. Vaelor berdiri dekat pintu masuk gudang, tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya sesekali bergerak ke arah jalan luar yang gelap.
Suara kapal runtuh masih terdengar samar dari arah kanal Lovrane.
"Dia dibawa seseorang." Suara Nila memecah kesunyian. "Kalau dia mati..." suaranya pelan, "...aku bakal nyalahin kalian semua."
Wesi mendengus tanpa menoleh. "Anak itu keras kepala."
"Dia nyari aku." Nila menatap lantai batu beberapa detik. "Dan sekarang hilang."
Kael mengangkat kepalanya perlahan. "Aku akan kembali kesana."
"Ke mana?" Wesi akhirnya menoleh. "Kota lagi kebakar."
Kael berdiri perlahan. "Aku bisa nyium darahnya."
"Tidak," potong Varlor.
Kael menoleh.
"Kalau ada vessel level tinggi masih di kota, kau malah mati di jalan," lanjut Vaelor.
Kael diam beberapa detik. Rahangnya mengeras pelan.
Suara langkah kaki terdengar dari luar gudang. Semua kepala menoleh bersamaan.
Suara sepatu menghantam batu basah mendekat dari jalan gelap di luar.
Wesi menarik chain blade dari pinggangnya. Suara rantai besi bergeser memenuhi ruangan. Kael berdiri, Nila meraih pisaunya.
Vaelor tidak bergerak, matanya menyipit ke arah pintu.
Bayangan tinggi seseorang muncul di luar gudang. Mantel hitam panjang bergerak pelan diterpa angin malam. Ia berdiri di depan pintu, menggendong tubuh lain di pundaknya.
Wesi maju satu langkah. "Turunkan dia."
Orang itu berhenti. Api dari luar memantul samar di sisi wajahnya.
Tubuh Arkan diam di pundaknya. Darah kering memenuhi sisi leher dan bajunya.
Napas Nila tercekat. "Arkan."
Wesi mengangkat chain blade sedikit lebih tinggi. "Siapa kau?"
Orang itu menurunkan tubuh Arkan perlahan ke lantai gudang.
Kael mendorong tubuhnya dari dinding. Lututnya menyentuh lantai di samping Arkan. Tangannya menyentuh leher Arkan beberapa detik, ia mengembuskan napas pelan.
Wesi menatap tubuh Arkan di pangkuan Kael, lalu menoleh ke pintu. "Jawab pertanyaanku."
Orang itu mengangkat wajahnya sedikit. Mata orange menyala redup di bawah bayangan rambut hitamnya.
Genggaman tangan Wesi di gagang chain blade mengendur. Matanya menyipit. Chain blade di tangannya turun perlahan. "Mata itu."
Vaelor menatap pria itu tanpa berkedip.
Angin malam masuk pelan dari pintu gudang yang terbuka. Pria itu melirik Arkan sekilas. "Lukanya tidak parah." Suaranya tenang. Dalam.
Nila berdiri perlahan. "Kenapa kau menyelatkannya?"
Wesi menatap mata orange itu. "Warna matanya sama dengan Arkan," gumamnya pelan.
Veyron menoleh ke Nila, lalu ke Wesi, ia tersenyum tipis.
"Ah. Kau memperhatikan warna matanya," Veyron berjalan ke sudut ruangan, meraih peti kecil, meletakkan di tanah, lalu duduk. "Mata keluarga Duskveil.
Vaelor menoleh ke Veyron, tangannya turun dari dadanya. "Keluarga dari benua Therrond?"
Veyron menggangguk. Sunyi memenuhi gudang.
Kael berdiri perlahan di depan Arkan. Ia menoleh ke Veyron. "Kamu keluarganya?"
Ia menatap mata orange Veyron.
Veyron mengangguk lagi. Api dari luar berkedip samar di wajah Veyron.
"Dia keponakanku."
Nila menoleh cepat ke Arkan. Wesi menyipitkan mata. Vaelor tetap diam.
Cahaya api di luar gudang membesar, wajah Veyron terlihat lebih jelas sesaat. Garis rahang dan matanya seperti Arkan.
"Kau..." Wesi menatapnya beberapa detik. "Pamannya?"
Veyron menatap Arkan yang masih pingsan. "Ibu Arkan Kakakku. Dia menikahi orang utara saat mengunjungi benua ini." Ia menoleh ke Wesi. "Dan memilih tinggal di utara dengan pria itu."
Ruangan kembali sunyi. Di luar, suara bangunan runtuh terdengar jauh dari arah kota.
Nila duduk perlahan di dekat Arkan. Jemarinya menyapu darah kering di sisi wajah Arkan. "Dia tidak pernah cerita."