A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #35

34. VAELOR ZENN

Sungai Lovrane bergerak pelan di bawah langit abu-abu. Riak kecil menghantam sisi kapal kayu, suara hantaman air terdengar berulang. Bau hangus bercampur dengan bau kayu basah dan sisa darah kering yang belum benar-benar hilang dari pakaian mereka. Cahaya tipis masuk dari jendela bundar di sisi dinding kapal, bergerak mengikuti goyangan kapal.

Arkan membuka matanya perlahan. Langit-langit kayu tampak kabur beberapa detik, tenggorokannya kering. Suara rantai kecil terdengar dari sudut ruangan. Wesi duduk di kursi kayu dekat jendela, tangannya memainkan pisau kecil. Sebelah kakinya bertumpu di meja. Ia menatap keluar kapal.

“Kau tidur terlalu nyenyak.”

Arkan mengerjap beberapa kali, lalu bangkit. Ia mendorong tubuhnya dari kasur, matanya terpejam, rahangnya mengeras. Nafasnya tertahan pendek.

Wesi melirik tanpa bergerak dari kursinya. “Santai saja. Kau belum mati.”

Arkan duduk di atas kasur, ia menunduk, tangannya memegang kepalnya. Bayangan Kanal terbakar, pedang di lehernya. Mata orange di tengah asap terlintas sejenak. Ia menoleh cepat ke arah Wesi. “Pria mata orange.”

Wesi melempar sesuatu ke arah tempat tidurnya. Arkan menangkapnya sebelum benda kecil itu jatuh. Ia menatap botol kaca di tangannya, Darah ungu bergerak pelan, lalu menghilang, muncul lagi di sudut botol.

“Dia menitipkan itu." Wesi kembali menoleh ke luar, menatap kota Dreymoor yang baru mereka lewati.

Ruangan kembali sunyi beberapa detik. Suara ombak terdengar samar di luar kapal.

Arkan masih menatap botol itu, Wesi berdiri dari kursinya. Kayu lantai berderit pelan di bawah langkahnya. Ia berhenti di depan pintu, menoleh setengah.

“Kalau aku jadi kau,” katanya pelan, “aku bakal mulai banyak bertanya.”

Pintu terbuka. Angin Morvath masuk sebentar sebelum kembali tertutup. Arkan duduk diam di atas tempat tidur sempit kapal. Jemarinya bergerak pelan menyentuh kaca dingin botol. Di luar, suara burung terdengar jauh di atas sungai Lovrane.

Empat belas hari berlalu setelah mereka meminum ramuan rawa yang diberikan Kaelor. Kapal memasuki rawa Morvath, langit pagi dipenuhi kabut tipis berwarna abu kehijauan. Pohon-pohon rawa menjulang keluar dari air hitam seperti bayangan besar yang diam menunggu.

Dermaga utama Morvath mulai terlihat di depan. Rumah-rumah kayu berdiri di atas tiang tinggi. Lentera rawa masih menyala meski matahari mulai naik perlahan di balik kabut. Arkan keluar dari kamar kapal, tangan kirinya menyampirkan mantel hitamnya di bahu. Ia memejamkan mata, angin rawa lebih hangat dibanding Lovrane, bau lumpur dan air tenang memenuhi udara sampai ke ujung lidah.

Wesi berdiri dekat pagar kapal, matanya menatap dermaga utama Morvath. Kael duduk diam di dekat tali jangkar. Luka di tubuhnya tidak berbelas, bekas gigitan besar di bahunya menyisakan satu garis kecil. Nila berdiri di sampingnya, ia memakan potongan buah rawa tanpa suara.

Arkan berjalan mendekati Wesi. Botol Darah teleportasi di tangannya berayun mengikuti langkahnya.

Wesi melirik sekilas. “Kau masih menyimpannya.”

Arkan mengangkat botol itu ke arah Wesi. “Itu darah teleportasi,” katanya pelan. “Darah yang kau inginkan.”

Wesi menoleh penuh. Pupil matanya bergersk dari wajah Arkan ke botol Darah ungu di tangannya.

“Kau memberikannya untukku?”

Arkan mengangguk kecil.

Kabut bergerak pelan di antara mereka. Kael mengangkat kepalanya sedikit dari sisi kapal. Nila ikut menoleh ke arah Arkan beberapa detik lalu tersenyum kecil.

“Dia masih keras kepala.”

Kael diam sebentar. “Itu pilihannya.”

Wesi mengambil botol itu perlahan dari tangan Arkan. Darah ungu di dalam kaca bergerak pelan saat terkena cahaya pagi rawa. Ia menatap botol itu, lalu memasukkannya ke dalam mantel.

Kapal menghantam dermaga pelan. Suara kayu beradu menggema pendek di atas air rawa yang tenang. Kael turun lebih dulu, diikuti Nila berjalan di belakangnya Wesi dan Arkan paling belakang. Kabut pagi bergerak rendah di antara tiang-tiang kayu dan rumah rawa. Penduduk Morvath menghentikan aktivitas mereka saat melihat Kael berjalan turun dari kapal. Tatapan mereka berhenti lebih lama dari biasanya.

Di ujung dermaga, Kaelor berdiri menunggu. Mantel panjang hijau gelap bergerak pelan diterpa angin rawa. Tangannya bertumpu di kepala tongkat besi hitam. Ia menatap lurus ke arah Kael. Suara air rawa bergerak pelan di bawah dermaga.

“Kau masih hidup.” Kaelor maju satu langkah.

Kael berhenti beberapa langkah di depannya. “Kecewa?”

Sudut bibir Kaelor bergerak tipis. “Sedikit.”

Nila mendecakkan lidah pelan. Wesi bersandar di pagar dermaga sambil melipat tangan. Kael melempar Relic Darah buaya ke arah Kaelor. Kaelor menangkapnya, menatap sebentar, lalu beralih ke Kael.

"Kami sudah mengganti Relic Jaguar. Sekarang, bebaskan mereka." Kael menatap lurus mata Kaelor.

Kaelor tersenyum tipis. "Bebaskan?" Ia menoleh ke akar salah satu pohon rawa.

"Kau sudah janji, manusia rawa." Wesi menegakkan tubuhnya.

Kaelor meliriknya singkat. “Kalian pikir itu racun?”

Arkan mengernyit kecil. “Maksudmu?”

Lihat selengkapnya