A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #36

35. PERTEMUAN

Hujan tipis turun di balik jendela tinggi ruang sidang Velskorath. Cahaya pagi yang pucat jatuh di lantai batu hitam, memantul samar di antara lambang-lambang House yang tergantung panjang di dinding aula. Sigil telapak tangan Velskorath membentang di tengah ruangan. Di sisi kirinya, simbol gandum emas House Estren tergantung diam tanpa bergerak. Bendera merah tua House Khain berdiri berat di dekat pilar besi.

Suara kayu terbakar dan langkah sepatu para penjaga di luar ruangan memenuhi kesunyian. Severrion berdiri menghadap jendela besar benteng. Mantel hitam panjangnya jatuh lurus hingga lantai batu. Di belakangnya, meja sidang panjang dipenuhi dokumen, peta timur Varekh, dan beberapa cap lilin yang belum mengering.

King Harvald Khain duduk paling dekat ujung meja. Jemarinya dipenuhi cincin emas. Ia menatap peta diatas meja lalu menoleh ke Severrion. “Bukankah jalur timur sudah ditutup?” Suaranya memantul pelan di ruangan besar.

Severrion menatap rintik hujan di luar benteng beberapa detik lalu berbalik perlahan. “Kita akan membukanya kembali.”

King Alaric Estren mengangkat wajah. “Untuk apa?”

Severrion berjalan mendekati meja. Suara langkah sepatunya bergema pendek di lantai batu. “Hutan Kabut.”

Ruangan mendadak lebih sunyi.

Harvald menyandarkan tubuh ke kursi. “Tambang kami kehilangan tiga jalur perdagangan sejak musim dingin terakhir. Kau meminta emas dalam jumlah besar hanya untuk mengirim pasukan ke wilayah terkutuk itu?”

“Bukan hanya pasukan.” Severrion berhenti di dekat peta timur. Jemarinya menekan wilayah hitam besar di ujung peta. “Kita membutuhkan vessel.”

Alaric menatap peta lalu mengangkat matanya menatap Severrion. “Masih ada sesuatu di sana?”

Api kecil di sudut ruangan bergerak tertiup angin dingin dari sela jendela. Heil berdiri diam di dekat pilar batu sejak awal sidang. Ia menyampirkan tangannya di belakang tubuh, wajahnya tidak bergerak. Tatapannya berpindah perlahan ke Severrion.

Severrion menarik kursi lalu duduk perlahan. “Ada sesuatu yang belum boleh bangun.”

Suara hujan menghantam jendela terdengar samar.

Harvald menatap Severrion, ia menarik napas pendek. “Kalau memang seburuk itu, kenapa Velskorath baru bergerak sekarang?”

Tangan Severrion terulue, ia mengambil salah satu dokumen di meja. Segel lilinnya sudah terbuka. “Karena segelnya mulai melemah.”

Mata Alaric menyipit. “Segel?”

"Kalian yang bukan Vessel tidak akan pernah tertarik dengan sejarah Varekh." Severrion melempar dokumen itu ke tengah meja. "Raka The first Vessel."

Tidak ada yang bergerak beberapa detik.

Harvald menegakkan duduknya. “The Great Conqueror?”

Heil mengangkat mata sedikit.

Severrion mengangguk kecil. “Dia yang menyegel Hutan Kabut.”

Angin dingin masuk dari sela jendela tinggi. Api kecil di sudut ruangan bergerak makin liar.

Tangan Alaric meraih dokumen di atas meja, jemarinya membalik halaman. “Apa sebenarnya yang ada di sana?”

Severrion menopang dagu. Suara kayu terbakar terdengar jelas di seluruh ruangan. “Kekuatan yang bisa menghancurkan Varekh bagi siapa pun yang mampu mengendalikannya.”

Harvald menatap dokumen di tangan Alaric “Dan sekarang seseorang mencoba membuka segelnya?”

“Ya.”

“Siapa?”

“Belum pasti.”

Heil berjalan pelan mendekati meja panjang.

“Vessel elemen mulai bergerak.” Suaranya rendah dan datar. “Pergerakan mereka tidak lagi tersembunyi.”

Alaric menoleh ke arah Heil.

“Mereka mengumpulkan darah Vessel. Jalur laut utara juga tidak lagi aman," lanjut Heil

Harvald mengusap rahangnya pelan. “Berapa banyak vessel yang sudah masuk ke Hutan Kabut?”

“Tidak cukup," potong Severrion. Ia berdiri lagi, menatap satu per satu wajah di depannya. “Kita tidak punya banyak waktu.”

Sunyi kembali turun di ruang sidang.

Di luar benteng, hijan turun semakin deras, kabut tebal menutupi menara Velskorath.

Alaric menutup dokumen di tangannya perlahan. “Kalau kami setuju... suplai pangan kami tidak akan cukup untuk perang panjang.”

“Kita belum berperang," balas Severeion.

“Belum?” Alaric mengankat satu alisnya.

Harvald bersandar ke kursi, jemarinya memutar cincin emas di jarinya. “Dan kalau operasi ini gagal?”

Lihat selengkapnya