A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #37

36. PERBATASAN MORVATH

Kabut pagi menggantung rendah di atas Sungai Selatan saat kapal Vaelor bergerak pelan mengikuti arus rawa. Air hitam memantulkan cahaya matahari pucat yang baru naik dari balik pepohonan besar di tepi sungai. Akar-akar pohon tua menjuntai turun sampai hampir menyentuh permukaan air, sebagian tertutup lumut hijau basah yang bergerak pelan diterpa angin.

Suara kayu kapal berderit mengikuti arus. Burung rawa terbang rendah di antara kabut tipis, sesekali menukik mendekati air sebelum kembali menghilang di sela dahan.

Di kejauhan, rumah-rumah panggung berdiri tersebar di tepi sungai. Asap tipis keluar dari cerobong kayu. Seorang nelayan melempar jala dari perahu kecilnya, dua anak berlari di jembatan kayu sempit sambil membawa ember ikan.

Kael berdiri di ujung kapal, tangan kanan bertumpu di pagar kayu. Mantel hitamnya bergerak pelan tertiup angin sungai. Ia menatap riak air di bawah kapal.

Salah satu awak kapal berjalan melewati Kael, ia membawa gulungan jaring. “Kalau arusnya begini,” gumam pria itu pada rekannya, “kita bisa sampai desa selatan sebelum malam.”

Rekannya mengangguk, menarik tali layar kecil di sisi kapal.

Suara burung rawa terdengar dari arah pepohonan kiri sungai. Kepala Kael bergerak lebih dulu. Seekor burung hitam muncul sepersekian detik kemudian dari balik ranting, melintas rendah di atas air sebelum menghilang lagi ke kabut.

Nila berdiri beberapa meter di belakang Kael. Ka menyandarkan bahu di tiang kapal, tangannya menggosok pisau kecil di atas kain. Matanya mengikuti arah mata Kael beberapa detik, lalu beralih ke tangannya sendiri. “Sejak kapan kau mulai dengar suara burung sebelum burungnya muncul?”

Kael diam sebentar. “Aku juga nggak tahu.”

Nila menatap Kael beberapa detik lebih lama, lalu memasukkan pisau ke sarungnya.

Asap tipis keluar dari tungku kecil dekat dapur kapal. Beberapa awak duduk melingkar, mereka makan ikan asap dan sup rawa dari mangkuk kayu.

Wesi muncul dari belakang tong air, ia meraih dua potong ikan besar. “Yang ini buatku.”

Salah satu awak berdiri. “Itu jatah kami!”

“Sekarang jatahku.”

“Itu ikan terakhir!”

Wesi menggigit salah satunya. “Kalian masih punya sungai.”

Awak kapal itu melangkah mendekat, jari telunjuknya mengarah ke wajah Wesi. “Kalau kau makan lagi, kita nggak punya makan malam.”

Wesi mengunyah santai, lalu menoleh ke arah air. “Kalau aku bisa nangkep ikan lebih besar pakai tangan kosong, aku dapet jatah dobel.”

“Tidak mungkin." Awak kapal itu menurunkan tangannya. “Kalau gagal?”

Wesi menunjuk ikan di tangannya. “Aku kembalikan.”

Salah satu awak lain tertawa pendek. “Dia bakal tenggelam.”

“Taruhan dua koin.”

“Empat.”

Wesi menyeringai lebar. “Kalian gampang banget diperas.” Ia melompat dari sisi kapal.

Air sungai muncrat tinggi. Beberapa awak berdiri sambil tertawa.

“Bodoh!”

“Arusnya deras!”

Nila mendesah pelan, tangannya terulur mengambil mangkuk makan. “Dia bakal bikin masalah bahkan di kapal pemakaman.”

Arkan duduk tidak jauh dari tungku kecil, tangannya memutar apel pelan. Ia menoleh ke tempat Wesi berdiri, lalu menoleh ke botol kaca kosong di dekat kakinya.

Cahaya api kecil dari tungku memantul samar di permukaan botol. Kael melirik sekilas ke arah Arkan lalu menoleh ke arah sungai.

Suara teriakan terdengar dari bawah kapal.

“WOI!”

Wesi muncul dari sisi kanan kapal, mengangkat ikan rawa hampir sepanjang lengannya.

Awak-awak kapal bersorak.

“Itu curang!”

“Kau pasti nusuk itu ikan duluan!”

Wesi melempar ikan besar itu ke atas dek. Ikan itu menggelepar liar di depan Vaelor yang baru keluar dari ruang kemudi. Air memercik ke sepatu hitamnya.

Para awak kapal saling tatap beberapa detik.

Vaelor menunduk menatap ikan itu, lalu perlahan mengangkat matanya ke arah Wesi yang masih setengah badan di sungai.

“Putra mahkota,” kata Wesi santai, “makan siangmu.”

Beberapa awak menahan napas.

Lihat selengkapnya