Kabut sore menggantung rendah di atas sungai sempit saat kapal Vaelor mulai memasuki ujung rawa Morvath. Air hitam bergerak lambat di bawah lambung kapal, hampir tanpa riak. Akar-akar pohon besar menjulur dari lumpur tepi sungai seperti tangan pucat yang membeku di tengah gerakan. Lumut basah menggantung panjang dari dahan, air menetes satu per satu ke permukaan rawa.
Rumah-rumah panggung mulai muncul dari balik kabut. Kayunya gelap dan basah. Sebagian lantai miring ke arah sungai. Jaring ikan dan tulang-tulang hewan kecil yang sudah mengering tergantung di bawah atap rendah. Tiang-tiang rumah dipenuhi bekas goresan panjang menyerupai cakar.
Suara kayu kapal yang berderit pelan, sesekali bunyi air menabrak tiang rumah panggung.
Salah satu awak kapal memperlambat layar. Tangannya bergerak cepat di tali kapal, matanya melirik rumah-rumah di kiri sungai.
“Turunkan kecepatannya,” gumam pria itu.
Tak ada yang membantah.
Vaelor menatap tiga warga desa memindahkan keranjang ikan di salah satu jembatan kayu. Mereka berhenti saat melihat lambang Morvath di sisi kapal. Seorang perempuan menarik embernya lalu berjalan cepat masuk rumah. Pria tua di belakangnya menutup pintu tanpa suara.
Di rumah lain, seorang ibu menarik anak kecil dari pagar kayu sebelum bocah itu sempat melambai ke arah kapal.
Pintu ditutup. Kait besi berbunyi pendek.
Vaelor berdiri di depan kapal satu tangan di gagang pedangnya. Matanya mengikuti gerakan warga yang menghilang satu per satu ke balik rumah.
“Ramah sekali,” gumam Wesi, ia menyandarkan siku di pagar kapal.
Kael berdiri beberapa langkah di belakang Vaelor. Matanya bergerak perlahan mengikuti permukaan sungai di bawah rumah panggung. Airnya terlalu tenang saat kapal lewat, riaknya cepat kembali rata.
Seekor burung rawa bertengger di tiang kayu dekat sungai. Burung itu tiba-tiba terbang. Kael mengangkat kepala lebih dulu sebelum suara kepakan sayapnya terdengar. Nila menatap Kael dari sudut mata.
Kapal mendekat ke dermaga kecil, separuh papan kayunya hampir tenggelam. Tiang-tiang penyangga dipenuhi lumut hijau gelap. Sebuah lonceng tua tergantung di dekat ujung dermaga. Karat menutupi hampir seluruh permukaan. Mata Kael menyipit menatap tali lonceng. Serat tambangnya masih bersih dibanding kayu-kayu lain di sekitarnya.
Salah satu awak kapal melompat turun, ia membawa tali tambat. Suara sepatunya menghantam papan dermaga terdengar terlalu keras di tengah desa.
Suara langkah kaki mendekat dari jalan kayu sempit di antara rumah panggung. Seorang pria tua berjalan pelan, ia menopang tubuhnya pada tongkat kayu panjang. Tubuhnya kurus, bahunya miring sedikit ke kiri. Separuh wajahnya dipenuhi bekas luka kasar yang menjalar sampai leher seperti bekas gigitan lama. Matanya berhenti di lambang Morvath di kapal lalu naik ke wajah Vaelor.
Pria itu berdiri tegak pinggir dermaga. Vaelor turun dari kapal lebih dulu. Awak-awak kapal memberi jalan. Kepala desa memperhatikan itu beberapa detik.
“Kami hanya singgah untuk malam ini,” kata Vaelor.
Pria tua itu tetap berdiri tegak. Suara tetesan air dari bawah dermaga terdengar jelas.
“Sudah lama Morvath tidak datang sejauh ini.” Nada suaranya datar.
Vaelor menatap lurus ke mata pria tua itu. “Wilayah ini tetap bagian Morvath.”
“Mm.” Kepala desa menggeser tongkat kayunya pelan di papan dermaga. “Tetap saja sudah lama.”
Angin rawa bergerak melewati rumah-rumah panggung. Salah satu tirai jendela bergerak sedikit sebelum tertutup lagi.
Kael menoleh ke sisi kanan dermaga. Ia menatap simbol cakar besar terukir di tiang rumah paling dekat sungai. Bekas kayunya masih terang dibanding bagian lain dinding itu.
Nila menatap rantai besar tergantung dekat bawah rumah panggung. Sebagian rantai masuk ke air hitam, menghilang ke bawah permukaan.
Mata Wesi menyipit, menatap warga desa yang berdiri jauh dari dermaga. Semua mata mereka bergerak ke arah sungai lebih sering daripada ke arah rombongan Morvath.
Kepala desa memutar badan. “Kalau mau menginap, rumah kosong di dekat menara air masih bisa dipakai.”
Ia lanjut berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Vaelor mengangkat tangannya ke awak kapal. “Turunkan suplai secukupnya.”
“Ya, Tuan Vaelor.”
Vaelor menoleh sekilas saat dua awak bergerak tanpa bertanya lagi.
Wesi menyeringai kecil di belakangnya. “Kau mulai terdengar seperti bangsawan sungguhan.”
“Diam.”