A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #39

38. MONSTER RAWA

Awan tebal menggantung rendah di atas pepohonan rawa, menutup sisa cahaya bulan sedikit demi sedikit. Air hujan menghantam atap kayu. Kabut rendah bercampur dengan cipratan air sungai yang mulai naik perlahan di bawah rumah-rumah panggung.

Kael berdiri di dekat pagar luar rumah. Air hujan menetes dari ujung rambutnya ke kerah mantel hitamnya. Sungai di depan desa hampir menyatu dengan langit malam. Garis-garis tipis arus terlihat bergerak pelan di antara tiang kayu dan akar pohon rawa.

Arkan berdiri diam di sampingnya, ia menggenggam gagang war hammer yang tersandar di bahunya. Cahaya pucat dari salah satu lentera terakhir memantul samar di sisi logam senjatanya.

Satu per satu cahaya menghilang. Seorang pria tua menarik tali jendela, daun kayu menutup rapat. Di rumah sebelah, seorang ibu membungkuk cepat, menarik anak kecil yang masih berdiri di jembatan kayu masuk ke dalam rumah, lalu mengunci pintunya dengan dua rantai.

Air sungai naik, papan kayu di bawah kaki Kael mengeluarkan suara panjang saat arus menghantam tiang rumah.

Arkan menoleh ke arah rumah-rumah tanpa cahaya. "Mereka tahu sesuatu akan datang."

"Hm," sahut Kael tanpa menoleh.

Air hujan memantul dari permukaan sungai hitam sampai kabut bergerak di atasnya.

KREEETTT.

Arkan menoleh ke bawah rumah panggung terdekat. Suara itu datang dari bawah rumah-rumah.

Salah satu lentera terakhir padam. Desa tenggelam dalam gelap kebiruan hujan malam dan kilat samar jauh di balik rawa.

Kael berbalik ke arah rumah, Arkan mengikuti dari belakang.

Di dalam rumah, api kecil menyala lemah di tungku tanah liat dekat dinding. Asap tipis memenuhi langit-langit. Bau lumpur basah bercampur ikan asin dan kayu lembap memenuhi ruangan sempit itu.

Nila berdiri dekat jendela kecil, ia menarik gagang pisau pendek di pinggangnya, lalu menggeser sedikit kain penutup jendela, matanya menatap keluar lewat celah kayu.

Kabut bergerak di antara tiang rumah panggung. Permukaan sungai bergelombang pelan.

Wesi duduk di dekat pintu. Pisau kecil berputar pelan di antara jarinya. Vaelor berdiri dekat dinding kayu. Mantelnya masih basah sebagian. Matanya bergerak ke lantai setiap kali papan rumah bergetar kecil dari bawah.

Kepala desa duduk dekat tungku. Separuh wajahnya tertutup bayangan api. Tangannya menggosok permukaan cangkir kayu.

KREEETTT.

Nila menoleh ke bawah lantai. Papan rumah bergetar kecil di bawah sepatunya.

Vaelor mengangkat kepala sedikit. "Kenapa kalian tidak pergi?"

Kepala tertawa pendek. "Pergi ke mana?" Suaranya serak, habis ditelan usia.

Hujan menghantam atap lebih keras.

Kepala desa meletakkan cangkir kayu pelan di lantai. Jemarinya berhenti beberapa detik di bibir cangkir, lalu menarik tangan lagi.

Di luar jendela, sesuatu bergerak di bawah air. Bayangan panjang dan epat. Menghilang lagi di sela tiang rumah.

Wesi menatap kepala desa tanpa berkedip. "Kalian sudah hidup begini berapa lama?"

Kepala desa menoleh ke arah jendela tertutup. "Lebih lama dari yang ingin kuingat."

Sunyi kembali turun.

Di luar, suara air terdengar berubah. Sesuatu bergerak lambat di bawah rumah-rumah. Kael berdiri dari tempatnya dekat pintu, lalu berjalan keluar ke hujan.

Wesi menoleh sekilas ke Vaelor. "Aku bosan duduk," ia berdiri, berjalan menuju pintu.

Nila mendengus pelan. "Kau bakal bilang begitu bahkan kalau dunia runtuh."

"Kalau dunia runtuh setidaknya ada hiburan," suara Wesi lebih pelan dari biasanya.

Air rawa mencapai mata kaki saat Kael berjalan ke arah dermaga tua desa. Hujan turun miring diterpa angin. Kabut rendah menyapu tiang-tiang rumah panggung seperti napas dingin.

Lihat selengkapnya