Matahari hangat memantul di permukaan sungai lebar saat kapal Vaelor bergerak meninggalkan jalur air hitam Morvath. Warna sungai berubah perlahan dari gelap kehijauan menjadi cokelat emas yang hidup. Pohon-pohon rawa mulai menipis, digantikan deretan pohon tinggi berdaun lebar yang menggantung terang di bawah cahaya pagi. Aroma buah matang, kayu basah dan asap panggangan bercampur di udara.
Di kejauhan, suara lonceng pelabuhan terdengar samar. Kota Thalewyn muncul perlahan di tikungan sungai besar.
Kota sungai itu berdiri bertingkat mengikuti tepian air. Jembatan kayu besar melintang di atas sungai utama, dipenuhi orang dan kereta kecil yang bergerak tanpa henti. Kain warna-warni tergantung di antara bangunan bertingkat terang, bergerak pelan diterpa angin pagi. Kapal dagang memenuhi dermaga panjang di sisi kota. Tiang layar berdiri rapat seperti hutan kayu di atas air.
Burung sungai beterbangan rendah di antara kapal-kapal.
Salah satu awak kapal tertawa kecil, ia bersandar di pagar. “Akhirnya kota normal.”
Rekannya mengangguk cepat. “Aku rela mandi kalau kotanya begini.”
“Bohong.”
“Tergantung penginapannya.”
Suara tawa kecil menyebar di dek kapal.
Wesi berjalan mendekat ke arah awak kapal berdiri. Ia menggigit sesuatu yang masih mengepul tipis. “Kalau ada makanan mahal, aku suka kota ini.”
Arkan melirik makanan di tangan Wesi. “Kau ambil dari mana?”
“Dapur.”
“Itu jatah awak.”
“Mereka masih hidup.”
Arkan membuka mulut, lalu menutup lagi, tangannya mengusap wajah.
Kael berdiri dekat ujung kapal. Rambut hitamnya bergerak pelan tertiup angin sungai. Matanya bergerak mengikuti pelabuhan yang semakin dekat. Suara roda kereta menghantam papan kayu terdengar dari jembatan besar. Di sisi lain kota, logam berdenting pendek dari bengkel pandai besi. Langkah kaki cepat, teriakan pedagang dan suara seruling jalanan.
Nila menatap Kael dari dekat tiang layar. “Kau kelihatan seperti mau perang.”
“Ramai," sahut Kael tanpa menoleh.
“Itu namanya kota.”
"Dia kan makhluk hutan." Suara Wesi terdengar dari arah belakang.
Sebuah kapal dagang besar lewat di sisi kanan mereka. Awak kapal melambaikan tangan sambil tertawa ke arah awak Morvath. Beberapa nelayan di jembatan sungai meneriakkan sesuatu yang tenggelam di antara suara air dan lonceng pelabuhan.
Kapal Vaelor bergerak masuk ke jalur utama pelabuhan Thalewyn. Dua penjaga pelabuhan berdiri di dermaga kayu besar. Baju ungu tua mereka dihiasi garis emas tipis di bahu dan dada. Sigil timbangan emas tergambar di tengah jubah.
Salah satu penjaga berbicara dengan pedagang rempah di dekat dermaga. Lalu menoleh ke kapal Vaelor, ia menatap lambang Morvath. Tubuhnya menegang, penjaga lain menoleh cepat ke arah yang sama.
“Morvath?”
“Itu kapal rawa?”
Bisik-bisik bergerak di antara para pedagang dan pekerja dermaga.
Kapal menghantam sisi dermaga pelan. Tali dilempar. Kayu berderit pendek saat awak kapal mengikat sandaran.
Vaelor turun lebih dulu. Mantelnya bergerak pelan tertiup angin sungai. Bekas luka tipis di lehernya masih terlihat samar di bawah cahaya pagi.
Penjaga pelabuhan membungkuk singkat. “Selamat datang di Thalewyn, Tuan Vaelor.”
Vaelor berhenti. “Terima kasih.” Nada suaranya datar.
Wesi turun tepat di belakang Vaelor, ia menggigit buah kuning terang. Air buah menetes ke dagunya. Penjaga pelabuhan berkedip beberapa kali melihatnya.
Vaelor melirik tanpa menoleh penuh. “Kau ambil dari mana?”
“Pedagangnya lambat.”
Teriakan terdengar dari belakang tumpukan peti rempah. “OI!”
Seorang pria gemuk berlari mendekat, jemarimya menunjuk Wesi dengan wajah merah. “Itu bayar dulu!”
Wesi mengangkat buah yang tinggal separuh. “Sudah dicicip.”
Arkan menutup muka dengan tangan. Nila menghembuskan napas panjang ke udara hangat pagi.
Pedagang itu berhenti mendadak saat melihat penjaga pelabuhan berdiri dekat Vaelor. Matanya berpindah dari lambang Morvath ke wajah Vaelor beberapa kali.
“Ah…”
Wesi mengunyah santai.
Pedagang itu mengangkat tangan. “Ya sudah. Anggap hadiah selamat datang.”
“Lihat?” Wesi menoleh ke Arkan. “Orang kota baik-baik.”
“Kau mencuri.”
“Tapi sopan.”
Arkan menatap area pelabuhan. Kuli angkut membawa peti rempah melewati kerumunan. Ikan besar tergantung dari kait besi dekat kios sungai. Buah tropis warna merah dan emas ditumpuk tinggi di atas meja kayu. Asap panggangan naik dari warung dekat dermaga bersama aroma rempah panas yang menusuk hidung.
Ia menoleh ke sisi jalan, beberapa musisi jalanan memainkan seruling dan alat petik kecil sambil duduk di bawah kain warna hijau terang.
Kael berjalan beberapa langkah di belakang grup. Matanya bergerak ke atap-atap rumah. Ke bayangan di sela jembatan. Ke kerumunan orang yang bergerak terlalu rapat.
Seekor anjing jalanan tidur dekat tong ikan mengangkat kepala saat Kael lewat, telinganya turun. Hewan itu berdiri perlahan lalu mundur ke bawah kereta tanpa suara.
Kael melihatnya sebentar lalu lanjut berjalan.
“Tuan Vaelor.” Suara halus memotong keramaian pelabuhan.
Vaelor menoleh ke asal suara. Seorang pria setengah tua berjalan mendekat, empat pengawal berpakaian hijau-emas berjalan di belakangnya. Jubah hijau tuanya dijahit benang emas tipis di bagian kerah dan lengan. Beberapa cincin batu terang menghiasi tangannya.