A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #41

40. PERSIAPAN

Awan abu menggantung rendah di atas langit Khaldur, memantulkan cahaya merah samar dari hutan terbakar di belakang Ignar. Batang-batang pohon hitam berdiri miring seperti tombak patah. Sebagian mengeluarkan asap tipis dari retakan kayu yang membara pelan di dalamnya.

Sepatu bot Ignar menghancurkan lapisan abu basah setiap kali melangkah. Serpihan hitam melewati wajahnya. Suara derak bara terdengar pelan. Ia berjalan meninggalkan Hutan Bandit ke arah utara.

Langkahnya terhenti di pinggir Jurang raksasa membelah dataran batu. Dindingnya turun lurus ratusan meter ke bawah, dipenuhi bekas jalur kereta besi, rantai tambang sebesar tubuh manusia, rel tua patah, dan tiang penyangga yang menancap ke batu hitam. Kabut panas naik perlahan dari kedalaman. Jauh di dasar, kilau emas kecil berpendar samar.

Ignar menatap lubang itu. Angin bau logam dan debu batu menyapu wajahnya. "Kerajaan itu membuat lubang sebesar ini." Suaranya tenggelam di dalam jurang.

Ia mengangkat kepala ke arah utara. Tembok Khaldur berdiri di kejauhan di bawah langit kelabu. Benteng batu hitam besar, sebagian menara luarnya tertutup asap industri yang keluar dari dalam kota. Cerobong tinggi menjulang di balik dinding kerajaan. Cahaya tungku membara samar di sela kabut abu.

Ignar menatap kota itu beberapa detik lalu berjalan ke arahnya.

Suara dentuman logam jauh dari arah kota. Jauh di bawah jalan batu dan aula istana Kerajaan Khaldur, udara berubah dingin dan lembap.

Lorong bawah tanah membentang panjang di antara dinding batu kasar yang dipenuhi rantai besi. Air menetes dari langit-langit gelap ke lantai logam. Dua penjaga berdiri di depan pintu baja besar dengan tombak hitam di tangan mereka. Sigil tiga koin emas dan mahkota retak terukir dalam di tengah pintu.

Langkah Harvald bergema pelan di lorong. Zirah kulit hitamnya bergerak saat ia berjalan. Salah satu penjaga menundukkan kepala sebelum menarik tuas besi.

Pintu terbuka perlahan. Suara logam bergesek memenuhi ruangan. Cahaya tungku kecil memantul di dinding basah. Bau darah bercampur debu batu memenuhi udara.

Seorang pria kurus dirantai ke kursi besi di tengah ruangan. Tubuhnya penuh luka sayatan kecil. Kedua tangannya diikat terbuka di atas sandaran logam. Darah segar mengalir tipis dari ujung kukunya ke lantai.

Seorang pekerja membawa batu biasa sebesar kepalan tangan. Tangannya gemetar sedikit saat menyentuhkan batu itu ke kulit Vessel.

Permukaan batu mulai berubah warna. Abu-abu berubah kuning lalu berubah lagi menjadi emas. Pekerja lain mengambil hasilnya dan melemparkannya ke dalam peti kayu besar yang hampir penuh.

Suara emas jatuh terdengar terus menerus di ruangan sempit itu. Harvald berdiri diam menatap para pekerja. Tatapannya turun ke tangan Vessel yang terus bergetar kecil di atas rantai besi.

"Lebih cepat."

Tak ada yang menjawab.

Seorang pekerja bergerak cepat mengambil batu lain. Tangan Vessel bergerak lemah saat batu berikutnya disentuhkan ke kulitnya. Darah mengalir lebih deras dari sela kukunya.

"Kita butuh emas lebih banyak."

Salah satu pekerja menelan ludah sebelum bekerja lebih cepat. Napas mereka terdengar lebih berat di ruangan dingin. Peti emas lain didorong masuk dari sudut ruangan. Rantai di kursi Vessel berbunyi kecil tiap kali tubuh kurus itu bergerak.

Harvald berjalan mendekat. Mata Vessel yang kosong bergerak sedikit ke arahnya. Harvald berhenti tepat di depan kursi besi itu.

Emas di peti belakangnya memantulkan cahaya kuning pucat ke wajah Vessel yang pucat pasi.

Api biru kecil menyala di sepanjang lorong batu bawah tanah Lovrane. Pantulannya bergerak samar di lantai hitam yang basah. Suara langkah Noctis terdengar pelan saat ia melewati sel-sel besi yang sebagian kosong dan sebagian berisi tubuh kurus yang tak bergerak.

Noctis berhenti di depan satu sel kecil di ujung lorong. Seorang Vessel batu duduk bersandar di dinding rantai. Kedua tangannya sudah tidak ada. Bekas luka hitam kasar menutup pangkal lengannya. Napasnya pendek. Ember air berdiri dekat kakinya.

Noctis masuk tanpa suara. Pintu besi terbuka pelan.

Tangannya bergerak sedikit. Air di ember mulai berputar pelan. Naik membentuk bilah tipis transparan di udara.

Vessel itu mengangkat kepalanya. Bibir pecahnya bergerak sedikit tanpa suara.

Bilah air melesat, tubuh Vessel tersentak pendek. Garis merah terbuka di lehernya, darah menyembur ke lantai batu.

Lihat selengkapnya