A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #42

41. MENUJU IBUKOTA

Kabut tipis menggantung rendah di atas air, matahari mulai naik dari balik deretan atap merah kota sungai. Cahaya kuning hangat memantul di permukaan sungai besar, memecah bayangan kapal dagang menjadi garis-garis panjang yang bergoyang perlahan. Suara rantai kapal dan suara kayu dermaga yang terus bergerak pelan diterpa arus sungai.

Kuli angkut berjalan memikul peti rempah di bahu, suara sepatu mereka menghantam papan kayu basah bersahut-sahutan dengan teriakan pedagang ikan di sisi lain dermaga. Kain-kain warna cerah bergerak di antara tiang kapal, sementara burung sungai berputar rendah mencari sisa makanan dekat air.

Kapal Morvath masih bersandar di ujung pelabuhan. Lambang tangan di atas rawa di layar bergerak lambat tertiup angin pagi. Beberapa awak kapal menurunkan peti suplai, mereka sesekali melirik ke arah Vaelor berdiri dekat tangga dermaga bersama kapten kapal.

Kapten kapal menyerahkan gulungan izin perjalanan dengan kedua tangan. "Perjalanan darat?" tanya kapten.

"Lebih cepat." Vaelor menerima gulungan lalu mengangguk kecil.

Kapten mengangguk pelan. "Dan lebih aman buat politik."

Ia berbalik, berjalan ke arah Kael. Salah satu awak muda hampir membungkuk terlalu dalam, lalu berdiri tegak lagi, wajahnya sedikit menegang. Vaelor melirik sekilas, lalu menoleh ke sungai.

Wesi muncul, menggigit buah merah, ia berjalan pelan melewati tumpukan peti. Jus buah menetes tipis di jarinya. Seorang pedagang tua di belakang baru sadar keranjangnya lebih ringan beberapa buah.

"HEI!"

Wesi melempar satu buah lagi ke belakang tanpa melihat. Arkan menangkapnya. "Kau bakal dibunuh pedagang suatu hari nanti," gumam Arkan, ia memutar buah di depan wajahnya.

"Kalau makanannya enak." Wesi menyeringai kecil. "Aku tidak keberatan."

Nila mendesah pelan, ia melirik ke dalam tas persediaan.

Mereka meninggalkan Thalewyn saat matahari mulai naik. Pupil mata Arkan membesar menatap jalan batu besar keluar kota membelah ladang hijau luas, memanjang sampai tepian sungai. Suara kapal dan pasar perlahan tenggelam diganti bunyi roda kereta dan desir angin ladang.

Mereka melewati jalur utama kerajaan, hamparan kebun anggur dan sungai bersih, mengalir tenang di sisi jalan. Pohon-pohon tinggi berdaun emas berdiri berjajar seperti pagar alami, daunnya bergerak lembut diterpa angin hangat. Jembatan batu putih melintasi aliran sungai kecil tiap beberapa ratus langkah, kincir angin berputar lambat di kejauhan.

Kereta bangsawan beberapa kali lewat. Roda kayunya nyaris tidak mengeluarkan suara di atas jalan batu halus. Penjaga jalan berpakaian hijau-emas House Auren berdiri di pos kecil dekat persimpangan, tombak mereka memantulkan cahaya siang.

Vaelor berjalan di tengah grup, ia memakai mantel hijau gelap pemberian House Keravin Flumen. Rambut hitamnya diikat lebih pendek. Beberapa orang menundukkan kepala saat berpapasan dengan mereka.

"Kau mulai kelihatan mahal." Wesi melirik Vaelor sebentar.

Vaelor menoleh. "Aku tidak tahu itu hinaan atau pujian."

"Aku juga belum mutusin."

Arkan tertawa kecil dari belakang.

Sebuah kereta keluarga lewat di belakang mereka. Tirai jendelanya sedikit terbuka, seorang pria paruh baya duduk bersama anak perempuan kecil di dalam. Tatapannya berhenti pada sigil Morvath di mantel Vaelor. Tangannya naik ke dada lalu mengangguk pelan.

Vaelor mengangkat tanggannya ke dada, lalu mengangguk.

Kael melihat sekilas dari depan jalur lalu kembali menatap jalan.

Mereka melewati bukit rendah menjelang sore. Wesi memejamkannmata, ia meregangkan tangannya, menarik napas dalam. Arkan menatap kebun anggur di sisi jalan, lautan hijau memanjang mengikuti aliran sungai. Nila berhenti di sisi jalan, menatap buruh panen bergerak di antara tanaman, menggensong keranjang buah di punggung mereka.

Arkan mengembuskan napas pelan. "Aku mengerti kenapa semua orang ingin perang merebut wilayah ini."

"Kau yakin tidak mau naik kuda?" Wesi berjalan pelan di samping Kaelor.

Vaelor melirik tanpa berhenti berjalan. "Kalian berjalan kaki."

"Kalau kau punya uang, bisa beli kuda untuk bawa persediaan," tambah Nila dari belakang.

Arkan mengangkat tangan cepat. "Setuju."

Lihat selengkapnya