A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #43

42. IBUKOTA AURELITH

Kabut sungai menggantung rendah di depan tembok ibu kota. Air kanal besar mengelilingi sebagian kota, warna langit dan menara-menara putih terpantul di atas air sungai. Perahu kanal kecil melintas pelan di bawah jembatan utama. Peti buah, gulungan kain, dan tong anggur disusun di atas dek.

Skuad Kael berdiri di depan gerbang besar ibukota Aurelith. Pilar batu putih menjulang seperti sisi kuil kuno, ukiran daun dan garis emas yang memanjang sampai ke lengkungan atas. Patung raja-raja lama berdiri di kedua sisi jalan masuk dengan pedang tertancap ke tanah, burung-burung putih bertengger di kepala batu.

Arkan mendongak, menatap sigil timbangan emas House Auren di atas gerbang bergerak tertiup angin pagi.

Ia menoleh ke arah kereta bangsawan keluar masuk tanpa berhenti. Pelayan berjalan cepat membawa kotak kayu. Penjaga berarmor hijau-emas berdiri di sepanjang jembatan dengan tombak tegak lurus. Bau roti hangat dan bunga taman ikut terbawa angin dari balik tembok kota.

Wesi bersiul pelan, ia ikut mendongak. "Baiklah," katanya. "Yang ini kaya beneran."

Arkan menoleh ke air kanal di bawah jembatan batu. "Aku takut jatuh terus disuruh bayar denda."

Nila menatap menara-menara putih di dalam kota. Cahaya matahari pagi memantul di kubah kaca menara.

Mata Vaelor menyipit, menanatap jauh ke tengah ibukota. Pohon raksasa menjulang di atas atap bangunan seperti sesuatu yang tumbuh dari dunia berbeda. Batangnya sebesar benteng. Cabangnya membentang menutupi sebagian langit kota.

Kael berdiri paling belakang. Tatapannya bergerak ke atap, jendela, bayangan balkon, tangan penjaga dan roda kereta. Mengikuti suara langkah kaki, teriakan pedagang, seruling dan suara ratusan manusia yang bercampur di udara.

Penjaga gerbang menatap lurus ke arah Arkan lalu mengangkat tangan. "Nama dan tujuan."

Vaelor maju melewati Arkan dan Wesi. Mantel hijau gelapnya bergerak pelan tertiup angin. Ia menyerahkan surat bercap sigil House Zenn.

Penjaga itu membuka gulungan surat, lalu beralih ke sabuk dan dada Vaelor. Penjaga itu meluruskan punggung, diikuti penjaga lain. Tubuhnya bergeser ke samping.

"Putra House Zenn."

Penjaga lain memukul dada dengan tangan kanan. "Selamat datang di Aurenhall."

Gerbang terbuka penuh. Mereka melewati bayangan pilar batu putih. Mata Wesi melebar menatap kalan utama ibu kota membentang lebar di depannya.

Arkan menatap jembatan lengkung putih di atas kanal-kanal kecil. Nila menoleh ke rumah-rumah tinggi di sisi jalan, matanya menatap bunga tergantung di balkon.

Mereka melewati taman kota, dipenuhi pohon berbunga putih dan bangku batu. Orang-orang duduk menikmati matahari pagi. Musisi memainkan harpa dekat air mancur. Anak-anak berlari mengejar burung putih di pinggir kanal.

Beberapa kepala menoleh ke arah mereka, menayap lurus ke mantel Vaelor, war hammer Arkan, chain blade Wesi dan mata Kael.

Di distrik pusat, kereta House Auren sudah menunggu. Dua pelayan turun, membawa peti pakaian.

"Kamar persiapan telah disiapkan untuk tamu House Auren."

Wesi mengangkat alis. "Kita didandani sekarang?"

Arkan menatap lurus peti kayu besar. "Kalau ada sepatu mahal, aku menyerah."

Mereka masuk ke bangunan batu putih dekat kanal utama. Jendela-jendela tinggi terbuka ke arah taman kota. Pelayan bergerak cepat di dalam ruangan, menggantung pakaian formal satu per satu.

Vaelor keluar pertama, mantel hijau tua dengan garis emas jatuh rapi di bahunya. Sarung tangan hitam menutupi tangannya sampai pergelangan.

Wesi bersandar di kursi, jari telunjuknya mengarah ke dada Vaelor. "Nah tuh. Sekarang kau resmi mahal."

Vaelor menatap dirinya sendiri sebentar di cermin tinggi. "Aku cuma ganti pakaian."

"Bukan itu masalahnya," gumam Arkan.

Nila keluar berikutnya, gaun perjalanan hitam-hijau, kainnya jatuh rapi mengikuti langkahnya. Rambutnya diikat lebih. Seorang pelayan muda menoleh ke arah Nila, ia menabrak meja.

Nila memalingkan mata. Pelayan itu menunduk, kedua telapak tangannya naik setinggi dada.

Arkan mengentakkan kakinya, kepalanya bergerak menatap celana dan bajunya.

"Kau terlihat seperti pengawal Vaelor," Wesi menoleh ke arah Arkan, ia menggigit apel di tangannya.

Arkan menggerakkan bahunya beberapa kali. "Kalau baju ini robek karenamu, aku bunuh kau."

Lihat selengkapnya