A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #44

43. JALUR SELATAN

Lonceng pagi berbunyi dari menara-menara putih ibu kota. Pantulan cahaya matahari bergerak pecah di permukaan air kanal yang tenang, memantul ke dinding batu terang dan jendela-jendela tinggi manor para bangsawan. 

Beberapa pelayan kota menurunkan pita kain dari tiang lampu jalan, dua orang tua sibuk menyapu kelopak bunga dari jembatan kanal utama. Perahu kecil bergerak lambat di air yang tenang, membawa keranjang buah dan tong wine menuju pasar pagi.

Dua kuda cokelat tua mengibaskan ekor mereka malas, sesekali mendengus saat tali kekang mereka bergesekan dengan tiang kayu, uap tipis keluar dari lubang hidung kuda. Seorang kusir duduk di atas kereta sambil menguap, tangannya memegang tali kendali.

Peti makanan ditumpuk rapi di belakang kereta bersama gulungan kain perjalanan, peta jalur selatan, dan beberapa kantung air tambahan yang diberi segel ungu-emas House Auren.

Arkan mengikat tali terakhir di sisi beban kereta, menariknya sekali untuk memastikan simpulnya kuat, lalu mengusap dahinya dengan punggung tangan. "Kau tahu," katanya tanpa mengangkat kepala, "aku mulai ngerti kenapa bangsawan nyuruh orang lain bawa barang."

Wesi lewat di belakangnya sambil menggigit apel di tangannya. "Karena mereka pintar."

Arkan menoleh. "Karena mereka malas."

"Itu juga bentuk kepintaran."

Nila duduk di tepian air mancur kecil halaman manor, tangannya membuka peta jalur selatan. Rambut hitamnya diikat lebih tinggi. Jemarinya bergerak mengikuti garis jalan besar yang membelah wilayah selatan Aurenhall, matanya sesekali melirik ke arah langit lalu menoleh ke arah Arkan. "Kalau kita terus lewat jalur utama, kita bisa sampai jalur selatan sebelum malam," katanya.

Arkan menoleh. "Kalau kita nyasar?"

"Kita punya Kael."

Arkan mendengus. "Jawaban yang pintar."

Kael berdiri sendirian dekat balkon batu halaman atas. Matanya menatap lurus ke seletan, melewati atap-atap ibukota. Angin pagi bergerak pelan melewati mantel hitamnya. Suara roda kereta, lonceng toko, dan panggilan pedagang pagi terdengar dari arah kota.

Pintu manor terbuka pelan, Vaelor keluar terakhir. Mantel panjang ringan bergerak mengikuti langkahnya. Dua pelayan menyingkir dari jalannya, sebelum Vaelor mendekat.

Wesi menoleh ke arah Vaelor. "Kau mulai jalan kayak bangsawan tua."

Vaelor melirik sebentar. "Aku harap itu bukan hinaan."

"Mungkin."

Arkan mendengus kecil sambil tertawa. Nila menutup petanya. Kael tetap diam di balkon. 

Lonceng pagi ibu kota berbunyi panjang dari menara pusat Aurenhall. Burung-burung putih beterbangan dari cabang pohon raksasa di tengah kota. Gerbang besi manor terbuka perlahan, kedua daun pintunya berayun tanpa suara. Kusir pertama menarik kendali, kereta mulai bergerak pelan melewati gerbang. Kuda-kuda beban yang diikat di belakang kereta mengikuti tanpa perlu ditarik.

Gerbang selatan Aurenhall jauh lebih sunyi dibanding gerbang utama kota. Benteng batu putih berdiri di atas bukit panjang, menghadap hamparan daratan selatan. Tidak ada antrean kereta bangsawan, beberapa pedagang jauh di sisi jalan, barisan penjaga berdiri diam di bawah panji House Auren yang bergerak pelan diterpa angin. Di luar gerbang, jalan batu besar memanjang lurus membelah lautan rumput hijau sampai menghilang di horizon.

Caelum Auren berdiri di dekat tangga gerbang saat mereka tiba. Empat ksatria pribadi berdiri beberapa langkah di belakangnya bersama dua rider kerajaan yang memegang tali kuda mereka masing-masing. Cahaya pagi memantul tipis di cincin sigil emas di tangannya saat ia memandang grup Kael mendekat.

Vaelor berhenti beberapa langkah di depannya. "My Lord." Vaelor mengangguk pelan.

Caelum berjalan mendekat.

"Ada satu permintaan lagi." Tangan Vaelor terangkat sampai dada, jemarinya mengepal.

Caelum mengangkat mata sedikit.

Vaelor menunjuk salah satu rider kerajaan. "Saya perlu mengirim orang ke Thalewyn."

Rider itu langsung menegakkan badan.

"Beritahu awak kapal Morvath bergerak menuju Dermaga Shelvarith. Kami akan bertemu mereka di sana."

Caelum mengangguk, lalu menoleh ke salah satu rider. Rider kerajaan memutar kudanya, suara tapal kuda menjauh cepat menuruni bukit batu.

"Sekarang orang langsung lari tiap kau ngomong." Wesi melirik ke arah Vaelor.

Angin bergerak dari selatan, aroma rumput panjang dan tanah hangat menyapu wajah mereka. Caelum menatap jalan besar di luar gerbang beberapa saat lebih lama. "Hindari lembah selatan."

Arkan mengangkat alis. "Kenapa?"

"Hindari saja," jawab Caelum tanpa menoleh. Nada suaranya pendek.

Arkan menoleh ke arah Wesi

Wesi mengangkat bahu. "Sepertinya itu serius." Matanya menatap lurus ke luar gerbang.

Kael berdiri diam beberapa langkah di belakang mereka. Matanya bergerak pelan mengikuti garis horizon jauh di bawah langit pucat. Caelum menoleh ke arahnya sebentar. Tatapan mereka bertemu hanya sepersekian detik.

Kael berjalan melewati gerbang lebih dulu. Nila berjalan di samping kereta, peta sudah digulung, dimasukkan ke dalam tas pinggangnya. Arkan menuntun kuda beban kedua, sesekali menoleh ke belakang. Wesi berjalan paling depan, di samping Vaelor. Ia menoleh kiri dan kanan, menelusuri ladang-ladang, rumah-rumah petani yang mulai jarang, ke langit yang semakin terbuka.

Lihat selengkapnya