A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #45

44. LEMBAH SELATAN

Kael mendongak, menatap langit putih pucat seperti kain tuadi atas bukit-bukit selatan. Kabut tipis bergerak pelan, menempel rendah di atas padang rumput. Rumput liar tumbuh di sela-sela batu, menjulur seperti jari-jari hijau yang perlahan merayap ke permukaan. Pagar-pagar kayu di sisi jalan menyisakan tiang-tiang miring yang sebagian patah di pangkalnya. Lambang House Auren di papan kayu hampir tidak terbaca di bawah jamur abu dan hujan lama.

Mereka sampai di percabangan besar menjelang siang. Dua jalur terbentang di depan. Kael menatap lurus ke depan, mulut lembah terbuka lebar di antara dua bukit gundul. Kabut tebal bergerak menutupi kedalam lembah. Ia menoleh ke kanan, memutar ke barat, mengikuti aliran sungai kecil yang berkelok di kaki pegunungan.

Nila merogoh tas, meraih peta lalu membukanya. Sudut kertas berkibar di terpa angin. Matanya bergerak dari satu jalur ke jalur lain, lalu ke arah lembah di depan mereka.

Vaelor berdiri di samping Nila, menatap jalur yang membelah bukit.

"Kalau muter lewat barat" Nila menggeser jari di peta, "kita tambah lima hari."

Wesi mendecak pelan. "Lima hari buat lihat batu sama rumput? Menarik sekali."

Arkan berdiri di samping kuda beban, satu tangan memegang tali kekang. "Yang satunya?"

"Dua hari kalau tidak ada masalah.""Dan?"Nila menutup petanya perlahan. "Dan jalurnya ditutup."

Sunyi beberapa detik. Angin dari arah lembah bergerak pelan, aroma tanah basah dan lumpur tercium dari dalam lembah. Mata mereka bergerak ke arah Kael.

Kael berdiri beberapa langkah di depan. Matanya menyusuri jalur lembah dari ujung ke ujung, ke arah kabut yang menggantung diam. "Kita masuk." Ia menarik napas dalam, lalu lanjut berjalan.

Arkan mengangkat alis sedikit.

Wesi menyeringai. "Itu baru keputusan yang kukenal."

Wesi berjalan di belakang Kael, Arkan menarik kuda, Nila melipat peta, Vaelor menyusul paling belakang, matanya menyipit, menatap punggung Kael beberapa detik. Bahu Kael menegang.

Mereka meninggalkan percabangan, papan penunjul jalan di belakang bergerak miring diterpa angin, kayu tua berderit pelan. Suara langkah mereka bergema pelan diantara rumput liar dan pepohonan.

Mereka memasuki jalur lembah menjelang siang. Jalan batu besar perlahan retak-retak. Rumput liar tumbuh menembus sela batu. Beberapa bagian tenggelam separuh di tanah lembap. Suara rantai kuda bergesekan memantul pelan, suara burung, serangga dan angin ladang perlahan menghilang.

Wesi menoleh ke belakang beberapa kali. Menara-menara Aurenhall sudah hilang dari pandangan. "Aku baru sadar," matanya menyusuri sekitar, "aku lebih suka tempat rame."

"Karena di tempat rame kau bisa nyolong makanan," sahut Arkan.

"Dan orang bisa nusuk kau diam-diam," balas Wesi tanpa menoleh.

Mereka melewati jembatan batu tua menjelang tengah hari. Lengkungannya masih utuh, sebagian pagarnya sudah runtuh masuk ke jurang kecil di bawahnya. Batu-batu besar bergelantungan di tepi jurang kecil yang kering. Sungai sempit mengalir lambat di antara batu hitam. Airnya keruh kehijauan dan hampir tidak bergerak.

Arkan menoleh ke sisi jembatan. Ia menatap pos istirahat kerajaan, atapnya ambruk separuh, pintu kayu terbuka sedikit, bergerak pelan setiap angin lewat. Matanya menyipit, menatap lurus ke dalam saat mereka lewat. Meja panjang berdiri miring di sudut ruangan. Cangkir tanah liat pecah berserakan di lantai berdebu. Di dekat dinding, roda kereta tua setengah tenggelam di lumpur kering.

"Tempat ini ditinggal berapa lama?

"Aku mulai nggak suka tempat ini," sahut Wesi merapatkan jalan ke sisi kereta.

Salah satu kuda tiba-tiba berhenti, matanya membesar ke arah semak-semak di sisi jalan, telinganya berputar cepat ke kiri dan kanan. Arkan menarik tali kekangnya dua kali.

"Hei." Vaelor mengelus pelan leher kuda.

Kuda itu mendengus keras, matanya terus bergerak ke sisi kabut di bawah bukit. Kaki depan kuda itu menghentak tanah beberapa kali.

Lihat selengkapnya