Hujan turun tipis di atas sungai hitam Vhelmora, jatuh ke kanal-kanal sempit yang membelah jalanan Vhelmora. Kabut bergerak rendah di antara bangunan batu, menyapu kaki jembatan besi dan tiang-tiang kanal. Menara-menara hitam Vhelmora berdiri rapat di bawah langit kelabu, batu-batu tembok basah mengilap, dipenuhi lumut tipis. Sigil House Vein bergerak pelan di atas gerbang utama.
Perahu sungai bergerak lambat melewati kanal utama. Air mengalir dari atap-atap miring membentuk tirai tipis di depan pintu-pintu batu. Para penjaga berjalan dengan mantel basah, sepatu mereka memercikkan air dari genangan ke genangan. Salah satu dari mereka mengangkat kepala menatap langit, lalu menunduk lagi. Cahaya lampu minyak menggantung di sepanjang jalan, kuning redup di tengah kabut abu.
Tujuh penunggang kuda memasuki gerbang utara benteng Vhelmora menjelang sore. Kuda mereka mengembuskan napas putih tipis. Armor para penjaga di atas tembok memantulkan cahaya hujan seperti kulit ikan gelap.
Gerbang besi terbuka perlahan, suara rantai berat bergesekan panjang. Salah satu penjaga menunjuk ke arah dalam benteng tanpa bicara. Pria bertubuh besar di paling depan turun dari kudanya lebih dulu. Sepatunya menghantam batu basah. Sisik gelap terlihat sampai ke bawah rahangnya, ia menarik tinggi mantel lehernya kembali. Air hujan menetes di bekas luka panjang yang membelah sisi kepalanya.
Kordym menatap benteng Vhelmora beberapa detik. "Tempatnya ramah sekali."
Di belakangnya, seorang perempuan kurus melewati sisi kudanya sebelum penjaga sempat mendekat. Tubuhnya sudah berpindah beberapa langkah lebih jauh saat mantel penjaga baru bergerak tertiup angin bekas lewatnya.
"Bau lumpur." Ujung jari Sheryl mengetuk pagar besi pelan sambil berjalan.
"Karena ini kota sungai," sahut Mordyk, ia menarik sarung tangan kulitnya. Jemarinya penuh bekas luka bakar kecil. Ia menggenggam kembali sarung tangannya, udara di dekat tangannya bergerak singkat. Lentera gantung di samping gerbang bergetar kecil.
Merry turun dari kudanya. Sepatu botnya menghantam genangan dangkal. Lumpur tipis naik mengikuti sisi kulit sepatunya sebelum jatuh kembali ke batu basah. Jemarinya menyentuh dinding gerbang beberapa detik.
Seekor kuda di belakang Merry menghentakkan kaki. Pria kecil bertubuh bungkuk di sampingnya menarik tali kekang cepat sebelum kudanya mundur lebih jauh. Kuku hitamnya mencengkram tali kekang lebih erat.
"Karena di bawahnya kosong." Draev mendongak ke bawah lorong benteng, bahunya bergerak kecil. Matanya menatap bayangan salah satu tiang gerbang bergerak lebih lambat dari cahaya obor di sekitarnya.
Talevt mengangkat matanya pelan dari balik bayangan. "Dan tempat kosong biasanya menyimpan sesuatu."
Mereka masuk lebih dalam ke benteng. Lorong batu Vhelmora sempit dan tinggi. Air hujan menetes dari sela atap besi hitam. Di beberapa sudut, vessel kerajaan berdiri berjaga tanpa banyak bergerak. Mata mereka mengikuti tujuh orang itu lewat, lalu kembali diam.
Pria berambut panjang di belakang rombongan mengangkat kepalanya sedikit. Matanya bergerak ke langit-langit batu. "Sepi." Toryn mendongak, matanya menatap langit-langit batu
"Tidak," sahut Merry pendek di dekat dinding. Tangannya kotor tanah sampai ke kuku. Lumpur tipis menempel di sepatu. "Dengarkan lebih lama."
Beberapa detik kemudian suara sungai mulai terdengar. Air deras di bawah benteng. Rantai kapal. Sesuatu menghantam kayu jauh di bawah kanal.
Mereka tiba di aula dalam benteng saat malam mulai turun penuh. Pintu kayu hitam setinggi dua kali tubuh manusia terbuka perlahan ke dalam. Cahaya hijau redup dari obor minyak menerangi ruangan batu panjang di baliknya. Air merembes dari sela-sela batu, membentuk garis-garis hitam tipis di permukaan yang dicat abu-abu gelap. Api unggun di perapian besar menyala terang, cahayanya bergerak di langit-langit tinggi, memantul di lampu-lampu besi yang tergantung.
Peta besar membentang di tengah aula. Sungai-sungai digambar dengan tinta hitam tebal. Para pelayan berjalan tanpa suara di sepanjang lorong, membawa nampan kosong atau tumpukan kain kering yang masih mengepul tipis. Mata mereka bergerak cepat ke pintu-pintu, ke jendela-jendela, ke arah tangga batu yang berputar naik ke menara selatan.
Seekor gagak hitam hinggap di pagar batu balkon lantai tiga, kepalanya bergerak patah-patah ke kiri dan kanan. Matanya merah gelap. Gagak itu mengepakkan sayap saat salah satu pelayan lewat, terbang rendah melewati jendela, lalu menghilang ke dalam kabut.
Pintu kayu ek besar di ujung lorong barat terbuka perlahan. Meja batu panjang berdiri di tengah, laporan yang belum dibuka, dan segel-segel lilin hitam dari berbagai kerajaan. Empat lentera minyak menggantung di langit-langit, mengeluarkan cahaya kuning pucat yang bergerak setiap kali angin masuk melalui celah jendela batu.
Queen Seralith Vein berdiri di dekat meja. Rambut hitam panjang jatuh lurus sampai pinggang. Pakaian abu gelapnya menyatu dengan bayangan ruangan. Tangannya bertumpu di meja batu, jemarinya panjang.
Salah satu vessel Severrion berhenti beberapa langkah lebih pendek dari yang lain. "Queen Seralith."
Seralyth mengangguk pelan. "Perjalanan kalian terlambat dua hari.
Kordym melepas sarung tangannya pelan. "Kabut sungai di utara." Sisik komodo abu gelap bergerak pelan di kulitnya.
"Semua jalur sungai sedang buruk." Suara Seralith datar.
Hujan menghantam kaca tinggi di belakangnya. Air mengalir panjang di permukaan jendela seperti bayangan bergerak.
Seralith menoleh. "Kalian sudah siap mati di sini?"
Talevt melangah mendekat. "Kami terlahir untuk membasmi monster Darah."