A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #47

46. HEWAN DARAH

Kabut bergerak rendah di sisi jalan, melewati mata kaki, perlahan naik ke pinggang saat angin bertiup dari arah bukit. Puluhan pasang mata merah kecil terbuka di sela rumput, bergantian muncul dan tenggelam di balik kabut putih abu.Salah satu kuda mengangkat kepala, matanya membesar, kaki depannya menghentak tanah. kuda kedua menarik tali kekang ke belakang.

"Diam." Arkan menarik tali kekang dengan kedua tangan, tubuhnya tertarik ke belakang.

Seekor kelinci keluar perlahan dari balik rumput. Bulunya rontok di beberapa bagian, kulitnya basah merah keabu-abuan. Kuping panjangnya sobek di ujung, menggantung lemas di sisi kepala. Kaki belakangnya panjang. Mulutnya bergerak, mengunyah potongan jari manusia, kuku masih menempel di ujung kulit yang mengering.Kelinci itu berhenti beberapa meter dari Kael. Kepalanya miring, lalu mencondong ke depan. Rumput di sisi jalan bergerak, puluhan kelinci melompat keluar bersamaan.

Puluhan kelinci darah melesat, mulut terbuka, barisan gigi kecil dan tajam berlumuran darah terlihat dari dalam mulut. Wesi mengayunkan chain blade. Rantai besi berdenting saat bilah melengkung berputar di udara, menebas tiga ekor dalam satu ayunan. Darah menyembur ke rumput, tubuh-tubuh kecil itu terlempar ke samping, beberapa masih bergerak kejang-kejang.

Seekor kelinci melompat ke punggung kuda pertama, mencakar leher kuda dengan kaki belakangnya. Kuda itu meringkik, berputar. Arkan melepas tali kekang kuda di tangannya. Ia meraih war hammer dari punggung, menghantam kelinci dengan gagang besi. Tubuh kecil itu terpental, jatuh di rumput, lalu bangkit lagi.

Kael menggeram, tubuhnya setengah merendah, kuku tangan kanannya memanjang keluar dari ujung jari. Tiga ekor kelinci melompat ke arahnya. Ia mengayunkan cakarnya, tiga tubuh kecil terbelah di udara, darah menetes di sisi wajahnya. 

"Mereka terlalu banyak." Arkan mengayun war hammer ke kelinci yang melompat ke arah tubuh kuda.

 Batu retak saat dua tubuh kecil hancur di bawah kepala palunya. Kuda di sampingnya menendang liar ketika satu kelinci menggantung di pahanya. Vaelor menangkap kelinci dengan tangan kosong. Jemarinya meremukkan kepala kelinci.

"Jalan terus," suara Kael rendah, cakarnya merobek tubuh kelinci yang melompat ke arahnya. Ia melepas mantel, membuka pakaian atasnya, melempar ke arah kuda.

"Jangan berhenti!" Nila membungkuk, telapak tangannya menyentuh tanah.

Tanah di sisi jalan terangkat membentuk dinding pendek setinggi betis. Beberapa kelinci yang melompat menabrak dinding tanah.

Puluhan kelinci lain melompati dinding, melayang di udara. Wesi memutar chain bladenya lagi. Puluhan tubuh kelici terbelah.

Vaelor berjalan di sisi kiri kuda, sisik hijau gelap mulai muncul di leher dan pergelangan tangannya. Ia menangkis dua kelinci yang melompat ke arah kuda beban dengan lengan kirinya, 

Arkan menggantung war hammer di punggung kuda, meraih kapak di pinggang. Ia menarik tali kekang kuda. Mereka terus berjalan pelan melewati jalan batu lembah. Chain blade Wesi terus berputar di atas kepala mereka, meniggalkan jejak darah di jalan batu, lengan kirinya bergerak lebih pelan, putaran chain blade melambat.

"Ada berapa banyak makhluk sialan ini?" Arkan menyambar satu ekor di udara dengan tangan kosong, lalu menebas dengan kapaknya.

Kael masuk ke bentuk hybird Direwolf. Cakarnya terus bergerak, menusuk dan merobek tubuh kelinci yang melompat dari arah depan. Puluhan tubuh kelinci bergelimpangan di sisi jalan batu.

"Jalannya naik," Nila mengibaskan kedua tangannya. Tiang-tiang keluar dari dalam tanah, menghantam tubuh kelinci di udara. "Di depan ada tanjakan."

Salah satu kelinci meloncat ke bahu Nila. Nila menjerit pendek saat gigi kelinci hampir menggigit lehernya. Vaelor menarik tubuh kelinci, membantingnya ke batu. Darah hitam menyebar ke sisi jalan.

Kael menatap jalan di depannya. Tanjakan landai, kedua sisi lembah menyempit. "Naik. Di sana mereka tidak bisa datang dari semua sisi."

Kuda terus bergerak panik di tengah kabut. Napas mereka memburu, uap putih tipis menyembul dari mulutnya. Rantai barang berguncang keras setiap kali roda menghantam batu retak.

Mereka mempercepat langkah. Kelinci-kelinci masih mengejar. Vaelor dan Wesi bergantian menahan serangan dari belakang. Kael dan Arkan membersihkan depan.

Kabut makin tebal semakin mereka masuk. Langit abu di atas lembah hampir tidak terlihat lagi di antara bukit-bukit tinggi.

Wesi menebas rendah, tubuhnya terus bergerak mundur mengikuti langkah kuda di belakangnya. "Aku benci tempat ini!"

"Baru sadar?" Vaelor menghantam satu kelinci, tubuhnya terpental ke dinding lembah di sisi jalan.

Seekor kelinci darah melesat dari batu besar. Kael menangkapnya di udara. Makhluk itu menggigit telapak tangannya sampai darah keluar tipis. Rahangnya masih bergerak saat Kael meremas lehernya perlahan. Kael membuang tubuh itu ke samping tanpa melihat.

Tatapan mata merah di depan jalur bergerak ke arah Kael. Kelinci di barisan belakang melompat ke dinding lembah, melewati Wesi dan Vaelor. Puluhan kelinci melompat ke arah Kael.

"Kael." Arkan menoleh ke arah Kael.

Kael menarik napas pendek. Pupil matanya menyempit lebih tajam, kukunya bergerak lebih panjang. "Terus jalan."

Ia maju sendiri beberapa langkah ke depan. Kael menghantam dua ekor dengan punggung tangan. Tubuh kecil itu terpental ke batu. Kelinci lain datang dari bawah. Cakar Kael menghantam tanah. Tiga ekor kelinci hancur di bawah tekanan cakarnya.

Arkan menebas tubuh kelinci yang melompat ke arah kael, dua potong kelinci jatuh di sisi jalan. Wesi menyusul ke sisi Kael, ia memutar chain blade rendah di dekat tanah. Tubuh-tubuh kecil terpotong beruntun, darah memercik sampai ke sepatu mereka.

Lihat selengkapnya