A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #48

47. SUNGAI SHELVARITH

Kabut lembah tertinggal jauh di belakang mereka saat matahari naik lebih tinggi. Jalan tanah mulai melebar di antara rerumputan basah dan pohon-pohon rendah. Udara berubah pelan. Bau lumpur busuk dari lembah perlahan hilang, aroma air dingin dan kayu basah yang terbawa angin dari arah timur.

Kuda-kuda berjalan lambat di jalan berbatu. Luka gigitan kecil terlihat di paha dan leher mereka. Salah satu kuda pincang ringan setiap beberapa langkah. Darah merah mengering di bulu bawah perutnya.

Kael berhenti dekat aliran air kecil di sisi jalan. Air jernih mengalir melewati batu-batu pucat, cahaya matahari terpantul di atas aliran sungai. Ia berjongkok, mencelupkan tangannya ke air. Darah hitam larut pelan dari sela kukunya, mengalir mengikuti arus tipis. Bekas gigitan kecil masih terlihat di telapak tangannya. Kulit di sekitarnya perlahan menutup.

Vaelor berdiri beberapa langkah di belakangnya. Sisik di leher dan pipinya sudah hilang sebagian, garis hijau gelap tipis di bawah kulit. Ia menatap air beberapa detik, lalu membungkuk mengambil segenggam air dan membasuh wajahnya.

Wesi duduk di batu besar dekat jalan, kepalanya menunduk. Tangannya merobek kain bajunya, lalu menggosok darah kering di bilag chain bladenya. "Kalau ada yang bilang perjalanan ini bakal menyenangkan," gumamnya pelan, "aku pengen ketemu orangnya."

Arkan menarik tali kekang salah satu kuda. "Kalau ketemu, bilang aku juga mau mukul dia." Ia meletakkan war hammer di samping batu.

Nila duduk di bawah pohon kecil, punggungnya bersandar ke batang. Sepatunya penuh lumpur mengering sampai betis. Ia membuka sarung tangannya pelan. Jemarinya gemetar kecil setiap kali bergerak.

Kael berdiri, mengibaskan air dari tangannya. "Shelvarith."

"Kita harus cari kapal." Vaelor menoleh ke arah Kael. "Masih empat hari jalan kaki. Dan kuda itu..."

Keduanya menatap kuda yang pincang. Hewan itu mengangkat kepalam mendengus, lalu menunduk lagi.

"...Belum tentu kuat terus berjalan," lanjut Vaelor.

Seekor burung kecil melintas rendah di atas jalan. Wesi mengangkat kepala pelan mengikuti suara kepakan sayap itu. "Baru sadar ada suara beginian lagi." Ia tertawa pendek tanpa tenaga.

Mereka kembali berjalan menjelang siang. Jalan tanah perlahan naik ke bukit rendah yang dipenuhi rumput liar dan pohon-pohon berakar besar. Angin bergerak lebih lembap di antara batang pohon. Suara air terdengar samar dari balik bukit.

Kael berjalan paling depan, Vaelor berjalan di belakangnya. Nila di samping kuda, sesekali menepuk leher hewan itu saat langkahnya mulai miring karena pincang. Arkan dan Wesi di belakang.

Langkah Kael terhenti di puncak bukit. Matanya menatap sungai besar Shelvarith di bawah bukit. Air membentang lebar sampai ke kabut jauh di timur, bergerak pelan seperti lembaran logam abu yang terus mengalir. Puluhan aliran kecil jatuh dari tebing-tebing batu rendah di sisi sungai, air terjun pendek menyebar di antara akar pohon besar. Kabut tipis menggantung rendah di atas permukaan air. Kapal-kapal datar bergerak lambat mengikuti arus, layar abu mereka menggembung kecil tertiup angin sungai.

Rumah-rumah panggung berdiri di sepanjang tepian air. Tiang-tiang kayu hitam masuk jauh ke dalam sungai. Jembatan gantung kecil menghubungkan satu dermaga ke dermaga lain. Asap tipis naik dari cerobong rendah di antara atap-atap kayu basah. Lonceng kapal berbunyi jauh di tengah kabut.

Arkan berdiri di samping Vaelor. "Demi Elder.""Itu Shelvarith?" Wesi menyipitkan mata, lalu menghela napas. "Akhirnya."

Arkan mengembuskan napas panjang. "Setidaknya ada air yang nggak coba makan kita."

"Belum tentu," sahut Vaelor tanpa menoleh.

Mereka turun menuju kota sungai kecil di tepi Shelvarith menjelang sore.

Papan kayu bertuliskan Tharel tergantung miring di dekat jembatan masuk. Cat putihnya memudar dimakan hujan dan lumut. Air sungai mengalir di bawah rumah-rumah panggung, cahaya matahari sore terpantul ke bagian bawah lantai kayu.

Orang-orang berjalan membawa keranjang ikan. Anak-anak berlari di atas jembatan sempit sambil tertawa keras. Perahu kecil diikat rapat di sisi dermaga. Kain-kain basah tergantung di antara tiang rumah. Pedagang sungai berteriak dari satu kapal ke kapal lain sambil melempar tali tambat. Bau ikan asin, kayu basah, dan sup panas bercampur di udara lembap.

Langkah orang-orang melambat saat melihat mereka. Tatapan mereka berhenti di lumpur hitam yang masih menempel di sepatu dan darah kering di pakaian. Seorang pria tua di dekat pasar ikan memindahkan embernya menjauh tanpa bicara. Dua pembawa peti memberi jalan lebih lebar saat Kael dan Vaelor lewat.

"Kalian dari Aurenhall?" suara perempuan tua terdengar dari kios ikan kecil.

Arkan mengangguk singkat tanpa berhenti berjalan.

Tangan perempuan itu bergerak cepat membuat tanda kecil di dada sebelum kembali membersihkan ikan sungai di atas meja kayu.

Kuda-kuda dibawa menuruni jalur kayu dermaga yang licin oleh air sungai. Salah satu kuda beban tersandung saat menapaki papan miring, lutut depannya menghantam kayu keras sebelum tubuhnya ditahan dua pekerja dermaga. Napasnya pendek, busa tipis bercampur darah mengering menempel di sisi mulut.

"Pelan. Pelan, dasar tolol."

Seorang pria tua bertubuh kurus keluar dari bangunan panjang beratap seng hitam di tepi kanal. Apron kulitnya penuh noda lumpur dan darah hewan. Tangannya menyentuh leher kuda tanpa banyak bicara. Jemarinya menekan sisi rahang, turun ke dada, lalu berhenti di luka gigitan dekat paha belakang.

Kuda itu meringkik pelan saat pria tua itu membuka daging robek dengan dua jari.

"Digigit apa ini?"

"Monster Lembah," jawab Arkan pendek.

Tangan pria tua itu berhenti sepersekian detik. Orang-orang dermaga yang tadi masih sibuk memindahkan peti mulai melirik dari kejauhan. Seorang anak kecil yang membawa ember ikan langsung ditarik menjauh oleh ibunya.

Pria tua itu meludah ke sungai. "Masukkan ke dalam."

Pintu kandang perawatan dibuka. Ruangannya hangat dan lembab, dipenuhi bau rumput basah, minyak obat, dan darah hewan. Lentera gantung bergerak pelan di atas tiang kayu. Di sisi kanan, dua ekor kuda lain berdiri dengan kaki dibalut kain tebal.

Kuda Kael hampir roboh lagi saat masuk. Vaelor menahan sisi lehernya.

"Tarik napas, ayolah..." gumam Arkan sambil menepuk pelan sisi kepala kudanya.

Pria tua itu mengambil pisau pendek dari meja kayu. Bilahnya dipanaskan sebentar di atas api kecil sebelum ia jongkok dekat luka gigitan.

Lihat selengkapnya