A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #49

48. PERMINTAAN

Cahaya matahari pagi tertahan awan pucat di atas kanal utama, memantul pecah di permukaan sungai yang terus bergerak di bawah kota. Suara rantai kapal bergesekan terdengar dari berbagai arah, bercampur benturan kayu, teriakan buruh angkut, dan bunyi derek besar yang menarik peti barang dari lambung kapal dagang.

Air menghantam tiang-tiang rumah panggung dengan ritme lambat. Burung sungai melintas rendah di antara kabut, nyaris menyentuh kepala orang-orang yang berjalan di jembatan kayu basah. Beberapa burung menukik ke sungai, menyambar sisa ikan yang jatuh di sela-sela papan dermaga

Kael berdiri dekat pagar dermaga tinggi, mantel hitamnya bergerak kecil diterpa angin sungai. Di bawahnya, kapal-kapal datar bergerak melewati kanal, lambung kayu bergesekan pelan sebelum kembali menjauh mengikuti arus.

Wesi duduk di atas peti barang. Kepalanya menunduk, kedua tangannya membuka lilitan rantai chain blade. Sesekali ia menguap tanpa menutup mulut.

Arkan berdiri dekat kuda beban, tangannya bergerak memeriksa tali pelana. Luka gigitan di paha kuda sudah dibalut kain tebal hijau tua. Hewan itu masih berdiri kaku setiap kali berat tubuhnya berpindah ke kaki belakang.

Nila duduk di pagar dermaga, dagunya bertumpu di lutut. Rambutnya bergerak pelan tertiup angin lembap sungai. Tatapannya mengikuti kapal perang yang lewat perlahan di kanal utama, barisan pemanah berdiri diam di atas dek hitam mereka.

Vaelor berdiri sedikit terpisah dari yang lain. Mantel rawa gelapnya tertutup kabut tipis. Matanya mengarah ke tengah sungai.

Suara klakson kapal besar terdengar panjang dari balik kabut. Beberapa pekerja dermaga menoleh. Teriakan antar kapal berhenti sepersekian detik sebelum suara kayu dan rantai kembali memenuhi udara.

Kabut sungai terbelah perlahan. Lambung hitam besar muncul dari balik kabut, bergerak lambat mengikuti arus kanal utama. Akar-akar kering menggantung di sisi kapal seperti jari-jari panjang yang mengeras. Layar cokelat kehijauan terbuka setengah di atas tiang tinggi, sigil House Zenn terlihat samar di permukaan kain basah.

Beberapa penjaga sungai berdiri lebih tegak saat kapal mendekat. Buruh angkut minggir dari jalur tambat tanpa diminta.

Wesi mengangkat satu alis kecil. "Akhirnya datang juga."

Tali tambat dilempar dari atas kapal. Dua awak berpakaian rawa gelap turun lebih dulu ke dermaga. Armor kulit mereka dipenuhi ukiran akar tipis kehijauan. Salah satu dari mereka langsung berjalan menuju Vaelor.

"My Lord." Awak kapal berlutut satu kaki di depan dermaga basah.

Vaelor mengangguk. Tangannya bergerak sedikit. "Persiapan kapal?"

"Semua sudah siap, Young Lord. Kami bisa berangkat kapan pun." Awak kapal berdiri perlahan.

Kael menatap awak-awak kapal bergerak cepat di belakang Vaelor. Peti barang diturunkan. Jalur tambat dibuka. Dua orang berbicara singkat pada Vaelor dengan nada formal rendah. Ia berjalan mendekat ke arah Vaelor. "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik."

Vaelor tersenyum kecil. "Yah. Mengantar kalian ke Shelvarith."

Arkan melirik Vaelor sebentar, lalu menarik tali pelana.

Wesi mendekat, tangannya menyilang di dada, rantai chain blade menggantung di pinggangnya "Jadi kau akan kembali ke Morvath?""Tidak." Vaelor menggeleng. "Ada satu tugas lagi dari Lord Zenn. Aku harus pergi ke kerajaan Thorrend. Menemui Raja Tyreon."

Wesi menyipitkan mata. "Thorrend?" Ia menoleh cepat ke Arkan. "Bukannya itu benua asal Arkan?"

Arkan menoleh cepat ke arah Wesi.

Nila bergerak cepat. Telapak tangannya memukul lengan Wesi, suara pukulan terdengar keras, berapa buruh di dekat mereka menoleh. "Selain bodoh, kau juga tuli. Kerajaan Thorrend bukan benua Thorrend."

"Apa maksudmu benua asalku?" Arkan berjalan mendekati Wesi, matanya menyipit.

Nila, Kael, dan Vaelor menoleh ke arah Arkan bersamaan. Langkah orang-orang berlalu di belakang mereka. Seorang buruh memikul peti ikan melewati sisi dermaga sambil mengumpat pada rekannya yang berjalan terlalu lambat. Kapal kecil menabrak tiang kayu di bawah kanal sebelum kembali hanyut mengikuti arus.

Wesi berkedip sekali. "Ah tidak." Ia mengangkat tangan kecil. "Aku cuma asal bicara."

"Tidak mungkin." Arkan menatap lurus mata Wesi

Wesi menggaruk pipinya pelan, ia memejamkan mata, mengerutkan dahi, menempelkan jari telunjuk ke dagu.

Nila menghela napas, ia bersandar ke ke pagar dermaga. "Kalau dia mulai mikir, biasanya ada yang salah."

Wesi menoleh ke arah Nila, matanya menyipit. "Diam kau." Ia menoleh ke Arkan, kepalanya bergerak dari atas ke bawah.

"Coba lihat dirimu." Wesi menunjuk asal ke arah wajah Arkan. "Kulitmu tidak seputih kami orang utara." Jarinya bergerak ke Vaelor. "Juga tidak sepucat orang rawa." Ia mengangkat dagu sedikit. "Dan matamu oranye."

Arkan diam.

"Seperti orang-orang Thorrend."

Suara derek besar berdentang keras di belakang mereka. Tiga peti kayu besar bergerak naik di atas kanal.

"Memangnya kau pernah lihat orang Thorrend?" Mata Arkan menyipit, ia berjalan satu langkah ke arah Wesi.

"Pernah."

"Oi—" Nila memukul lengannya lagi. "Tukang ngarang."

Wesi mengusap lengannya, ia mendecak. "Tapi udah lama."

Lihat selengkapnya