Pantulan cahaya pagi menyebar dari atap logam, jendela kaca, dan lapisan emas yang menghiasi bangunan-bangunan besar di dalam kota. Roda kereta tambang berderak di kejauhan. Dentang palu terdengar dari kawasan peleburan. Rantai gerbang bergerak perlahan di salah satu menara pengawas.
Ignar berjalan santai di tengah koridor utama istana. Sepatu botnya melangkah di atas lantai batu hitam yang mengilap seperti permukaan air beku. Garis-garis emas tipis mengalir di sela batu, pola bercabang ke segala arah hingga menghilang di bawah karpet merah panjang.
Lysara berjalan di sampingnya, mantelnya menyapu lantai, sesekali menoleh, menatap wajah samping Ignar. Setiap sepuluh langkah, sepasang prajurit berarmor emas kusam berdiri tegak. Tangan mereka mengepal hulu tombak berat, mata lurus menatap koridor.
Mereka melewati patung singa setinggi dua manusia dewasa. Surai mereka dipahat rinci sampai ke helaian paling kecil. Mata batu menghadap lurus ke depan. Cakar menekan alas marmer putih yang dipenuhi ukiran lambang kerajaan.
Di salah satu balkon dalam istana, dua bangsawan menghentikan percakapan mereka. Salah satunya menunduk sedikit melihat ke bawah.
Seorang pelayan muda membawa nampan berisi cangkir perak melintas dari arah berlawanan. Pelayan itu hampir menabrak seorang penjaga, tangannya gemetar. Cangkir di atas nampan bergeser, jari-jarinya bergerak cepat menahan sebelum jatuh ke lantai. Pelayan itu menunduk saat Ignar berjalan melewatinya.
Lysara memperlambat langkah, kepalanya sedikit miring. "Apa?"
Ignar menoleh. "Tidak ada."
"Kau melihat dia dari tadi."
Ignar mengangkat satu bahu. "Dia hampir menjatuhkan nampannya."
"Itu saja?"
"Itu saja."
"Kau bahkan tidak melihat istana ini," suara Lysara rendah, nyaris tenggelam oleh dentang pandai besi dari luar. "Semua orang yang pertama kali menginjakkan kaki di Kharvos biasanya menghabiskan waktu dengan mendongak."
Langkah kaki Ignar terus bergerak. "Aku sudah pernah lihat yang lebih besar."
Lysara mengatupkan bibir. Matanya menyipit. "Kau serius?"
Langkah Ignar terhenti, ia menoleh pelan. "Kau mau aku berdiri dan mengagumi pegangan pintu itu?" Jari telunjuk Ignar mengarah ke pintu ganda aula utama.
Mereka terus berjalan, melewati pintu ganda setinggu tiga meter terbuka ke dalam.
Tatapan Ignar menyusuri aula kastil, beberapa bangsawan kerajaan berdiri di samping singgasana King Harvald. Seorang pria tua berbisik di telingan Harvald, jarinya menunjuk daerah pegunungan di salah satu peta.
Langkah kaki Ignar melambat, lalu berhenti lima langkah dari tangga singgasana tanpa membungkukkan badan. Dua penjaga berarmor emas di samping singgasana menggeser kaki ke depan. Tangan mereka bergerak ke gagang pedang di samping pinggang. Lysara menarik napas pelan.
Harvald mengangkat tangan kanannya, dua penjaga tadi mundur ke tempatnya. Tangan kanannya bergerak mengelus janggut putih rapi di dagunya. "Jadi kau Ignar," suara Harvald bergetar. "si matahari berjalan."
Ignar menatap lurus mata Harvald. "Tergantung siapa yang bertanya."
Beberapa kepala menoleh. Lysara menggigit bagian dalam pipinya.
"Aku Raja Khaldur," ia menatap lurus ke Ignar tanpa berkedip.
Ignar mengangguk. "Kalau begitu iya."
Seseorang di antara para bangsawan menggeser tubuhnya, suara kain mahal bergesekan terdengar jelas di tengah ruangan. Lysara menahan bibirnya bergerak.
Sudut bibir Harvald bergerak sedikit. "Baik." Ia duduk tegak. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku datang untuk meminta Vessel Emas."
Seorang pelayan yang menuangkan minuman menghentikan gerakannya. Dua penasihat kerajaan saling berpandangan. Salah satu jenderal mengangkat kepala.
"Meminta?" Harvald mengulang ucapan Ignar.
"Kalau kata itu terdengar lebih sopan."
"Dan kalau tidak?"
Ignar mengangkat bahu. "Aku tetap akan membawanya."
Armor salah satu penjaga berdenting saat ia bergerak setengah langkah ke depan. Lysara menoleh ke arahnya.
"Dengan atau tanpa ijinmu."
Harvald kembali mengangkat tangan. Gerakan penjaga itu berhenti di tempat. Harvald berdiri dari singgasana. Langkahnya bergema saat melangkah di anak tangga. "Kau tahu berapa banyak emas yang kami hasilkan darinya?"
"Tidak."
"Kau bahkan tidak penasaran?"
"Tidak."
"Aneh." Mata Harvald menyipit.
"Ada banyak orang yang rela membunuh demi emas."
Harvald berhenti dua langkah di depan Ignar. "Kau tidak tertarik?"
"Aku tidak datang untuk emas."