Cahaya matahari tertahan di balik awan, kabut tebal merayap rendah di atas tanah gambut, berputar diantara pangkal pohon raksasa di Hutan Kabut. Ranting kecil patah di ketinggian. Potongan kayu berlapis es meluncur menembus kabut, membentur dahan di bawahnya, mendarat di atas tanah. Air menetes dari ujung batu cadas yang mencuat dari tanah.
Hamparan lumut pucat menutupi akar-akar besar yang muncul dari tanah. Lapisan es tipis menempel di sebagian permukaan, urat-urat putih memanjang mengikuti bentuk kayu. Di kejauhan, sesuatu bergerak di balik kabut.
Seekor rusa bertanduk besar berdiri di antara pepohonan. Tubuhnya membeku, matanya terbuka. Lapisan es menutup sebagian wajahnya. Kabut bergerak melewati tanduknya.
Lapisan es menutupi jejak tanah beberapa langkah dari bangkai, memajang menyusuri tanah menuju arah timur.
Suara dedaunan bergesekan terdengar pelan. Seseorang berjalan di antara pohon. Jubah putih kebiruan bergerak perlahan mengikuti langkahnya.
Sepatu botnya menyentuh tanah, membeku saat kakinya terangkat. Kabut menempel di ujung jubahnya sebelum terlepas lagi beberapa langkah kemudian. Dua monster kecil berbulu hitam di atas cabang pohon, mata kuning mengikuti langkah Erelith.
Erelith terus berjalan, ujung jubah putih kebiruan bergerak menyapu permukaan daun-daun basah. Pohon besar muncul di depannya. Batangnya penuh bekas cakar. Empat garis panjang membelah kulit kayu dari atas sampai ke dekat akar. Serpihan kayu berserakan di tanah. Tangannya terulurx menyentuh bekas cakaran sebentar.
Ia melanjutkan langkah, matanya menatap batu besar terbelah empat bagian. Akar pohon tercabut dari tanah. Tanah tergulung seperti dihantam sesuatu dengan kekuatan besar
Erelith terus melangkah lurus. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan secara bergantian. Langkahnya berhenti di tepi area terbuka, dikelilingi pohon-pohon pakis raksasa merunduk. Pandangannya turun ke permukaan tanah yang melunak, bercak darah tersebar di atas hamparan lumut yang menghitam.
Tubuhnya turun, berlutut satu kaki, jubahnya melebar di atas tanah basah. Ia menarik tangan kanannya dari balik lengan jubah, melepaskan sarung tangan kulit putihnnya perlahan. Ujung jari telunjuknya bergerak turun, menyentuh pinggiran noda hitam kental. Lapisan es tipis tumbuh dari titik sentuh jari, menjalar cepat di atas permukaan cairan hitam hingga seluruh bercak mengeras menjadi kristal keruh. Erelith menarik jarinya kembali, lalu menggosok ujung jari telunjuknya yang memutih.
Angin tipis bergerak di antara pohon. Ia berdiri kembali, mulai berjalan mengikuti jejak ceceran darah di atas. Kabut semakin tebal, pepohonan semakin jarang. Tanah perlahan menanjak, tebing batu muncul dari balik kabut. Kepala Erelith menunduk, menatap hamparan hutan di bawah. Puncak-puncak pohon terlihat seperti lautan gelap, Lapisan kabut tipis bergerak di atasnya dalam. Langkahnya berhenti di tepi tebing, hembusan angin lebih kuat, jubahnya bergerak pelan.
WHOOOM.
Udara bergetar. Kabut di bawah tebing pecah membentuk jalur panjang.
Bayangan besar melintas di atas kepala Erelith, Bunyi benturan berat terdengar dari puncak bongkahan batu tertinggi di ujung tebing, batu-batu kecil berguling ke bawah. Suara kepakan sayap terdengar dari balik kabut.
Matanya mengikuti pergerakan kabut, bayangan itu muncul lagi. Sayap besar membelah udara, bulu putih keperakan menangkap cahaya pagi.
Thariel berdiri di sana, bertengger di atas batu tertinggi dengan tubuh yang menghadap ke arah hamparan kabut di bawah. Makhluk itu memiliki tubuh hibrida masif dengan bulu-bulu berwarna putih keperakan yang basah oleh rintik gerimis. Matanya yang besar berwarna emas murni, berbentuk sepasang celah vertikal tipis yang memancarkan pendaran cahaya konstan
Tubuh hybird Vessel Griffin mendarat di batu tertinggi beberapa puluh meter dari tempat Erelith berdiri. Cakarnya mencengkeram batu, retakan kecil menjalar dari titik pijakan. Kabut bergerak mengelilinginya. Kepalanya menghadap hutan, mata emasnya memandangi hamparan kabut di bawah. Sepasang sayap raksasanya setengah terbuka di sisi tubuh, air menetes dari ujung-ujung bulu terluarnya. Bulu-bulu di lehernya bergerak mengikuti angin.
Kepalanya bergerak sedikit. "Kau terlambat."
Erelith berjalan beberapa langkah mendekat. "Aku berjalan, Thariel"
Mata emas Thariel bergeser ke arahnya. "Alasan yang buruk."
"Aku tidak terburu-buru."