A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #52

51. HUTAN KABUT

Kabut menggantung setinggi dada manusia, bergerak perlahan tertiup angin dari arah timur.

Jalan setapak membelah pepohonan. Akar-akar besar muncul dari tanah lembap, melintang seperti tulang punggung makhluk yang terkubur. Di sisi jalur, tiang kayu berdiri miring. Separuh bagiannya lapuk dimakan hujan dan lumut. Tengkorak monster bertanduk terganrung di atasnya.

Kelompok Kael berjalan di jalur setapak, tertutup daun berserakan. Bekas roda melesak ke dalam tanah, mengeras, ditutupi lumut dan rumput liar. Di dekat akar pakis raksasa, sebilah besi berkarat dari rahang jebakan berukuran besar mencuat dari balik timbunan daun mati, pegasnya terlepas.

Wesi berhenti tepat di depan tiang kayu yang paling tinggi. Tubuhnya sedikit membungkuk, wajahnya mendekat ke arah papan. Tangannya mengusap permukaan kayu, membersihkan sisa jamur yang menempel. "Hurufnya hilang setengah."

Nila berjalan melewatinya tanpa berhenti. "Kau bisa baca?"

Wesi menoleh ke Nila. "Kau pikir aku bodoh?"

"Hanya bangsawan yang diajarkan baca tulis." Langkah Nila berhenti. "Dan kau?"

Jari telunjuk Wesi mengarah ke Kael. "Kael mengajariku membaca."

Arkan menoleh ke Kael. "Ternyata kau memiliki cukup kesabaran, ya."

Kael menatap tulisan di papan jalan. "Mungkin karena orang yang menulisnya sudah mati."

Nila mendengus. "Tidak ada yang menyuruhmu membaca."

Wesi menoleh ke papan lagi. "Kalau ada tulisan jangan masuk biasanya di dalamnya memang ada sesuatu yang menarik."

Nila memijit pelipisnya. "Atau memang jangan masuk."

"Itu juga mungkin," Wesi kembali melangkah menyusul posisi Nila.

Kabut bergerak perlahan di sela pohon. Kael berjalan paling depan, sepatu botnya meninggalkan bekas tipis di tanah basah. Tatapannya bergerak dari satu sisi jalur ke sisi lain.

Arkan berjalan paling belakang, langkah berhenti di dekat pohon di sisi jalur, bekas panah tua tertancap di tengah batang. Jemarinya menyentuh bekas retakan di sekitar anak panah. "Sudah lama." Ia menarik tangannya, serpihan kayu menghitam di bawah kukunya.

Kael melirik sekilas, tanpa berhenti. Pandangannya lurus ke arah lekukan jalur setapak yang menyempit.

Langkah kaki Kael berhenti, ia berjongkok, menatap bercak hitam mengering. Ujung jarinya mengusap permukaan bercak, mendekatkan ke hidung.

"Darah?" Arkan berhenti di belakang Kael.

Kael mengangguk, lalu berdiri, lanjut berjalan.

Beberapa langkah dari noda darah, mereka menemukan jebakan pemburu yang masih terbuka. Rahang besinya tertanam setengah di lumpur, pegasnya patah. Rantai pengikatnya tertarik jauh ke arah semak. Hanya jejak tanah yang pernah tercabik sesuatu dengan tenaga besar.

Wesi berjongkok. Mengangkat bagian besi yang tersisa. "Kalau aku yang kena ini, kakiku putus."

Nila melirik. "Syukurlah kau tidak cukup berharga untuk dijadikan umpan."

"Aku merasa dihina."

"Kau memang sedang dihina."

Wesi menghela napas panjang.

Mereka lanjut berjalan masuk lebih dalam Hutan Kabut. Kabut mulai naik menutupi akar. Pohon-pohon tumbuh lebih dekat satu sama lain, batangnya lebih besar, cabangnya saling bertaut seperti jari-jari raksasa yang mengunci langit.

Bangkai monster tergeletak di bawah akar pohon besar. Tubuhnya membengkak, kulitnya terbuka di beberapa bagian.

Beberapa puluh langkah kemudian muncul bangkai lain. Arkan berhenti lebih lama, tatapannya mengikuti jalur kerusakan di sekitar area. Pohon tumbang, tanah terbelah. Batu besar bergeser dari tempat asalnya.

Arkan berjalan memutari batang pohon yang tumbang, matanya mengamati arah patahan serat kayu. "Ini bukan karena pemburu".

Nila berlutut di di tepi parit tanah yang terbelah. Jemarinya bergerak meraba kedalaman parit. "Terlalu berantakan."

Kael berdiri di dekat kepala bangkai lembu di belakang mereka. Matanya tertuju pada bekas cakar yang membelah batang pohon. Garis-garis memanjang hampir setinggi kepala orang dewasa. Rahangnya bergeser, menatap lurus ke arah kegelapan hutan di depan jalur setapak.

"Bagus," Wesi menancapkan ujung chain blade ke tanah, mengembuskan napas panjang.

Nila menoleh, dahinya berkerut. Apa yang bagus?"

"Kalau ada yang cukup besar untuk membuat semua ini," Wesi menggeser chain bladenga, menunjuk ke arah pohon yang hancur dan parit tanah bergantian, "berarti kita dibayar terlalu murah."

Suara tetesan air jatuh dari daun terdengar lebih jelas. Jauh di dalam kabut, sesuatu bergerak. Suara ranting patah terdengar, lalu hilang.

Di sisi lain Hutan Kabut, jalur yang berbeda membelah lereng berbatu, jajaran pohon pinus hitam tumbuh saling mengunci dahan, jalan setapak dipenuhi akar dan semak liar.

Mordyk berjalan paling depan. Mantel gelapnya bergerak mengikuti langkahnya. Merry berjalan di sampingnya. Di belakangnya, Talevt berjalan sambil memperhatikan lereng kanan. Kordym menarkk sarung tangannya. Sheryl dan Draev menyisir area belakang bersama beberapa prajurit pendukung. Thorin melompat dari satu dahan ke dahan lain di atas mereka.

Suara logam perlengkapan mereka terdengar pelan setiap kali jalur menanjak.

"Kita terlambat." Talevt memecah kesunyian.

"Belum," sahut Mordyk tanpa menoleh. mantelnya tersangkut dahan pakis, ia menyentak pelan, dahan patah melepas lilitan mantelnya.

Kordym tertawa pendek. "Kau selalu bilang begitu setiap melewati perbatasan."

"Karena kita masih berjalan."

Taelvt menggeser sarung pedangnya. "Itu bukan jawaban."

Mordyk melanjutkan langkah.

Sheryl menatap punggungnya beberapa detik. "Karena dia selalu terlambat."

Beberapa prajurit di belakang menahan senyum.

Mereka memasuki area yang lebih terbuka. Pohon besar tumbang melintang, akarnya tercabut dari tanah. Bekas darah mengering di samping akar.

Draev berlutut, tangannya enyentuh permukaan tanah. "Mungkin dua hari."

Kepala Thorin bergerak patah-patah, mata emasnya memperhatikan area sekitar, bergerak mengikuti bekas kerusakan yang menyebar sampai puluhan meter. Semak hancur, batu pecah, cabang pohon patah.

"Monster darah?" Draev menoleh ke Mordyk.

Mordyk menurunkan tubuhnya, ia berjongkok, mengamati jejak yang tertinggal di lumpur. "Mungkin."

Talevt mengangkat kepala, menatap bayangan hitam di sekitar mereka "Atau sesuatu yang lebih buruk."

Kordym mendecak. "Kalimat yang menenangkan."

Lihat selengkapnya