A BLOOD OF CREATION

Arata Kaivan
Chapter #53

52. PERTEMUAN PERTAMA

Kabut menggantung rendah di Hutan Kabut, bergersk pelan melawan tiupan angin. Di bawah bayangan dahan pepohonan yang rapat, Kael berdiri di antara akar besar yang mencuat dari tanah lembab, satu tangannya terangkat setinggi pinggang. Nila mengubah posisi kakinya tanpa suara di belakangnya. Wesi memutar rantai chain blade di pergelangan tangan kanannya, ibu jarinya menahan ayunan rantai. Arkan mengangkat war hammer dari bahunya, menggenggamnya dengan kedua tangan, matanya bergerak menyisir celah-celah pohon di kanan dan kiri.

Dari arah depan, derap langkah kaki terdengar,

Bayangan tubuh besar muncul dari balik kabut, mantel gelap menyapu tanah, ujungnya basah menyeret lumpur. Bayangan lain muncul satu per satu di belakangnya, perempuan berjalan di sisi kiri belakang, pria gondrong di sisi kanan, dan dua orang mengapit dari sisi berbeda. Suara gemertak logam berbunyi di barisan paling belakang. Kael mendongak, pantulan mata emas menatap lurus ke arah mereka.

Bayangan di balik kabut berhenti. Jarak antara dua kelompok itu dua belas langkah. Kabut mengisi celah di antara mereka, bergerak pelan.

Laki-laki besar di depan itu menatap Kael. Matanya bergerak sebentar ke Nila, ke chain blade Wesi, ke war hammer di tangan Arkan, lalu kembali ke Kael. "Pemburu." Suaranya datar.

Kael tidak menjawab. Matanya bergerak menghitung posisi, jarak.

Nila maju setengah langkah ke sisi kiri Kael. "Kalian juga bukan orang yang tersesat di hutan."

Kordym menarik napas pendek, sudut bibirnya sedikit naik. "Kebetulan kita semua tersesat di tempat yang sama."

Dari barisan paling belakang, seseorang menggeser sarung pedang. suara tetesan air dari dahan basah memenuhi kesunyian diantara mereka.

Wesi menatap ke arah suara gesekan pedang, senyum tipis muncul di wajahnya. "Kalau ini salah paham, aku sarankan kita ngobrol dulu. Sambil duduk kalau bisa. Sudah lama aku tidak duduk."

Mordyk mendengus. "Tidak ada waktu untuk itu."

Satu detik berlalu. Tanah di bawah kaki mereka bergetar, bergelombang ke luar dari satu titik seperti ada sesuatu yang mendorong dari bawah permukaan. Wesi melompat mundur, rantainya terentang penuh di tangannya. Arkan menekan kakinya ke tanah, tubuhnya tidak bergerak dari tempatnya berdiri, lumpur di bawah sepatunya retak tipis ke segala arah.

Merry menekan kedua telapak tangannya ke permukaan lumpur. Tanah di sekitar kaki kelompok Kael melunak, meresap ke bawah. Sepatu Arkan tertarik ke bawah, ia mengangkat satu kaki, melangkah mundur ke akar pohon yang lebih keras.

"Kalian tidak bisa bergerak." ucap Merry datar.

Nila berjongkok, telapak tangannya menyentuh tanah di titik yang berbeda, jarinya menekan dalam. Struktur tanah di bawah mereka kembali mengeras.

Tanah di bawah telapak tangan Merry bergerak menyelimuti tangannya. Ia menggeser tangannya, tanah di tangannya melunak menjadi lumpur.

"Kalian yang terlalu lama berdiri di satu tempat," kata Nila tanpa mengangkat kepala.

Tangan kiri Kordym melempar batu, melepaskan tekanan dari ujung jarinya, uap tipis mengepul. Ledakan kecil membelah akar pohon di sisi kiri, serpihan kayu beterbangan ke udara dan jatuh ke lumpur. Jalur mundur kelompok Kael terpotong. Wesi menghilang dari tempatnya berdiri sebelum serpihan kayu itu sempat mendarat.

Lihat selengkapnya