Kabut yang menghilang karena sapuan sayap Thariel tidak sempat menutup kembali. Sisa uap kelabu itu bergulung-, terseret angin kencang. Di bawah rimbun dahan pinus hitam yang patah, lantai hutan berguncang beraturan. Suara jeritan manusia terdengar bersahutan dari balik barisan pepohonan, terputus derit moncong monster darah yang merangsek masuk.
POP.
Wesi muncul di atas batu besar di sisi kiri, chain blade terayun, menghantam sisi kepala monster darah yang mencoba menerobos ke arah pemburu Rogan. Tombak panjang prajurit Vhelmora meluncur dari arah kanan, Wesi sudah tidak ada di sana sebelum tombak mencapai pelipisnya.
POP.
Ia muncul tiga puluh langkah ke kanan, tepat di belakang dua prajurit Vhelmora yang hampir terjepit antara batang pohon dan tubuh monster darah. menghantam gagang chain bladenya ke tengkuk pelindung prajurit Vhelmora.
Dari arah lain, Sheryl melesat di antara dua monster darah yang saling bertabrakan. Mantelnya bergerak terlambat dibanding tubuhnya. Kepalannya mengarah lurus ke perut Wesi, membelah kabut sore.
POP.
Wesi muncul di atas batu besar, rantai chain blade masih terulur dari tangannya, tubuhnya condong ke depan. Lutut kanan Wesi sedikit bergetar saat tumit sepatunya menghantam tanah gambut basah.
"WESI!" suara Arkan bergaung di antara benturan besi. Ia menahan ayunan kapak pendek prajurit lain dengan gagang kayu war hammer-nya, matanya menyipit mencari siluet rekannya di tengah pusaran lumpur.
POP.
Wesi hilang sebelum cakar monster darah lain mencakar lengan bajunya. Ia muncul kembali di atas bongkahan batu yang lebih tinggi, tepat di samping formasi lingkaran Arkan. "Aku dengar!"
Arkan menyentakkan kapak lawannya ke samping, melangkah menutupi sisi belakang Wesi. "Berhenti pindah terus!" teriak Arkan tanpa menoleh.
Wesi menghilang kembali saat tiga mahluk darah meluncur bersamaan dari lereng licin. Ia muncul kembali lima langkah di dari Arkan, sebelah tangannya bertumpu di lutut. "Kalau aku berhenti, aku mati!" ia menyeka sebutir keringat dingin yang mengalir menembus batas rambutnya.
Jeritan manusia terdengar dari arah belakang, seseorang terlempar keluar dari kabut. Tubuhnya menghantam tanah dan berguling sampai menabrak batu, darah membasahi lumut. Suara ledakan Kordym mengguncang sisi kiri area pertempuran. Akar pohon tercabut dari tanah, lmpur dan serpihan kayu beterbangan ke udara.
Sheryl berdiri diam di atas akar pohon yang mencuat setinggi dadanya, matanya mengikuti titik asap abu-abu yang ditinggalkan perpindahan tubuh Wesi.
POP.
Wesi muncul di sela-sela dua batang pohon pinus. Ujung pisau Sheryl mengarah lurus ke perut Wesi. Wesi menghilang lagi sebelum pisau Sheryl mencapai tubuhnya.
Tubuh Wesi muncul lagi di sisi lain, mantel gelap Sheryl sudah berada satu meter di depannya. Bilah pedang Sheryl berayun ke leher Wesi, ujung pedannya menyerempet kulit Wesi sebelum kembali menghilang.
Darah merah menetes di atas batu di sisi utara, satu tangan Wesi menyentuh leher. Jarinya basah merah.
"Kau selalu memilih tempat yang bisa kau lihat." Kepala Sheryl bergerak mengikuti arah kemunculan Wesi.
Wesi menurunkan tangannya, menatap darah di jarinya sebentar. "Aku mulai tidak suka orang pintar."
Monster darah melompat dari balik batang pohon, Sheryl bergerak lebih dulu. Pedangnya menembus rongga mata monster itu. Tubuh monster darah jatuh di antara mereka.
Tumpukan tanah gambut di bagian tengah lembah mendadak naik setinggi dada manusia, barisan bukit kecil memotong jalur lari pasukan Vhelmora. Merry menekan kedua telapak tangannya lebih dalam ke dalam lumpur, aliran air di bawah tanah berputar membentuk pusaran yang menarik akar-akar pohon tercabut dari tumpuannya.
Nila menghantamkan tumit kirinya ke permukaan tanah, retakan lurus membelah bukit lumpur buatan Merry menjadi dua bagian. Bongkahan tanah padat hancur, terlempar ke udara sebelum jatuh menimpa bangkai monster darah di bawahnya. Lumpur hidup yang mengalir membeku menjadi tanah kering retak.
"Kau keras kepala," jemari Merry bergerak meliuk di dalam lumpur.
Nila menahan napasnya, melonggarkan cengkeraman jarinya pada permukaan batu meredam guncangan yang merambat naik ke pergelangan kakinya. "Kau juga."
"Aku akan menenggelamkanmu," Merry menggeser tumpuan lututnya, lumpur baru mencuat dari sisi kanan Nila, meruntuhkan dinding tanah yang baru dibangun.
Nila memutar tubuhnya setengah lingkaran, ujung jubahnya basah terkena cipratan lumpur. "Itu yang membuatmu terdengar keras kepala." Ia mengepalkan tangannya.
Gumpalan sebesar kepala manusia mendorong ke atas dari dalam tanah di antara mereka, berputar setengah lingkaran oleh tekanan saling berlawanan, lalu terlempar ke kiri, menghantam batang pohon.
Di kejauhan, suara kepakan sayap kembali terdengar, keduanya mendongak sesaat. Bayangan besar melintas di atas kabut.
POP.
Wesi muncul kembali di dekat barisan batu yang dijaga Nila. Tubuhnya terhuyung ke arah kiri, bahunya menghantam batang pohon pinus tua. Tangan kiri Wesi bergetar, jari-jarinya kaku, menekuk. Otot di sekeliling pergelangan tangannya terkunci. Darah kental merah pekat mengalir keluar dari lubang hidung kanannya, menetes lambat melewati garis bibirnya yang pucat.