Serpihan kristal es setebal satu jengkal rontok dari pepohonan. Denting logam perlahan menghilang di Hutan Kabut. Kael, Erelith, Mordyk, Rogan dan beberapa pemburu liar berdiri di atas lapisan es beku.
Thariel terbaring miring di cekungan tanah berlapis es. Kirinya membentang kaku, ujung bulu abunya perlahaan menghitam, racun rahang Mordyk bergerak menjulur ke pangkal sayap. Sayap kanannya menekuk, patah tertekan berat tubuhnya. Paruh tajamnya terbuka sedikit, gumpalan kabut putih tebal membeku sebelum sempat membubung ke atas dahan.
Direwolf Kael berdiri satu langkah dari tubuh Thariel. Darah hitam mengalir dari bahunya, menetes ke es di bawah kakinya. Komodo Mordyk berdiri dua kaki, ekornya menahan berat tubuhnya, lidahnya menjulur keluar masuk dari rahangnya. Erelith dua langkah di belakang mereka, kedua tangannya lurus di sisi jubahnya.
Mata hitam Thariel bergerak lambat, menyisir permukaan es lalu berhenti di ujung cakar depan Kael.
Kael melangkah maju. Permukaan es di bawah cakarnya retak. Kaki depan Thariel terangkat sedikit di atas tanah, tubuhnya bergetar, lalu jatuh lagi. Cairan hijau pekat dari racun Mordyk mejalar dari paha belakangnya, bergerak cepat ke tubuh atasnya.
Langkah Kael berhenti tepat di depan kepala Thariel. Ia mengangkat kaki depannya, cakarnya memanjang, lalu menghantam ke tengkorak kepala Thariel, bunyi remukan tulang terdengar di sela keping es yang berjatuhan. Tubuh singa Thariel menejang, kaki belakangnya menyentak ke samping sebelum otot lehernya terkulai di atas hamparan es.
Angin gunung turun lebih kencang, bulu perak Thariel bergoyang mengikuti arah angin.
Darah hitam mengalir dari lubang cakarang Kael di tengkorak Thariel. Cairan itu melayang di udara, menggumpal menjadi bulatan kecil, lalu berdenyut pelan. Bentuknya perlahan memanjang, lalu berubah menjadi helai bulu burung abu-abu.
"Relic darah." Mordyk mengeram di belakang tubuh Thariel.
Kael menurunkan pandangan matanya, menatap relic darah helai bulu di atas tubuh Thariel.
Erelith melangkah maju melewati bahu Kael, ujung jubahnya menyapu lapisan es di atas tanah Hutan Kabut. Tangannya terulur, meraih relic darah Griffin, memasukkannya ke dalam botol penyegel darah.
Kelopak mata Ereltih terpejam, mengangkat kedua tangannya. Retakan dari dinding atap es menjalar ke seluruh permukaan Hutan Kabut. Lapisan es tipis yang menyelimuti batang-batang pohon pinus hancur berserakan.
Kael memutar tubuh Direwolf-nya, ukurannya perlahan mengecil, bulu hitamnya menyusut berganti kulit manusia, kukunya memendek, matanya kembali membulat. Ia berjalan menuju mantel hitamnya, menutupi tubuh telanjangnya
Di tengah hamparan lumpur basah beberapa gumpalan es tidak ikut mencair. Langkahnya berjalan lambat menuju salah satu bongkahan es di dekat bekas posisi bertarung Nila. Jemarinya meraih bongkahan es yang membeku di atas tanah. Ia memutar tubuhnya, berjalan perlahan ke arah Kael. Tangannya terulur, menyodorkan bongkahan kristal es.
"Ini milik kelompokmu," ucap Erelith datar.
Kael mengulurkan tangan kanannya lalu menggenggam bongkasa es dari tangan Erelith. Lalu melangkah ke jasad Wesi yang terbujur kaku. Tangannya terulur ke leher dan belakang lutut, menggendong tubuh Wesi.