Butiran pasir halus bergerak menyeret suara angin di atas permukaan tanah retak. Sejauh mata memandang, Tanah kering dan batuan pasir terkikis angin membentuk lengkungan gersang. Cahaya matahari hampir tenggelam di ujung barat.
Arkan terlempar, menggelinding tiga kali di atas tanah kering yang berdebu, tubuhnya terhenti menghantam batu hitam. Darah mengering kaku menempel di bahu kirinya.
PLOP.
Satu lipatan ruang kembali meletup tepat lima langkah di sisi kanannya. Tubuh Sheryl terhempas, menghantam tanah kering. Bilah pedang panjang terlepas dari genggamannya, berdenting dua kali sebelum tergeletak di sela rumput.
Seorang wanita duduk di atas permukaan batu datar yang lebar. Kaki kanannya menyilang di atas lutut kirinya, sikutnya bertumpu di paha, menopang dagunya. Ia menoleh ke arah suara di belakang tubuhnya. Matanya menatap lurus mata orange Arkan, lalu beralih ke Sheryl.
Sherryl berdiri, melepas mantel tebalnya, keringat mengucur dari pori-pori kulitnya. Ia berjalan mendekati pedagngnya yang terlempar, tangannya terulur, jemarinya menggenggam erat gagang pedangnya, laluberbelok ke arah Arkan. Lan
Ujung tajam pedang diseret di atas permukaan tanah. Langkah Sheryl berhenti satu langkah di depan kepala Arkan. Ia merendahkan pandangannya, menatap ke bawah.
Mata Arkan menyipit menatap tubuh Sheryl, tangan kanannya terangkat menutupi wajahnya.
Sheryl mengangkat pedang setinggi bahu, mengayunkan pedangnya lurus ke leher Arkan, memotong udara panas di sekitar Arkan.
Ayunan pedang Sherryl berhenti sebelum menyentuh leher Arkan, ujung pedang menembus perutnya, Darah Marun menetes dari ujung pedang ke tanah. Bilah pedang tertarik ke belakang.