A Crown Of Two Kingdoms

Erika Hasan
Chapter #1

Chapter 1 - The Heir and the Veiled Princess

"Your Highness!"

Suara langkah sepatu bot yang tergesa-gesa mendekat, membuyarkan kesunyian yang sedang dinikmatinya. Lucian tidak bergeming. Tangan kanannya terus menggerakkan batu asah di sepanjang bilah pedang yang berkilat. Di hadapannya, kayu-kayu dalam perapian berderak, sesekali memercikkan api yang menerangi gelapnya malam.

"Your Highness..." Pria yang berdiri di hadapannya terdengar terengah-engah. "Saya mencari Anda ke seluruh penjuru istana."

"Ada apa?" tanya Lucian tanpa mengangkat kepala.

"Ada titah dari Yang Mulia Raja."

Tangan Lucian masih bergerak di sepanjang bilah pedangnya.

"Anda diperintahkan untuk menjemput putri dari Genova di pelabuhan Ashcombe."

"Itu tugas Komandan Whitmore," sahutnya acuh tak acuh.

"Ada perubahan, Your Highness. Komandan Whitmore mendapat perintah baru untuk mendampingi His Majesty mempersiapkan penyerangan ke wilayah utara."

Gerakan tangan Lucian terhenti.

Di kejauhan, ringkikan kuda terdengar samar dari arah istal. Ia terdiam beberapa saat sebelum mendengus pelan.

"Jadi, seorang komandan militer menengah ditugaskan ke medan perang, sementara aku, sang putra mahkota, justru mendapat kehormatan untuk menjemput calon istri ayahku."

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis. Ia mengangkat kepala dan menatap prajurit di hadapannya. Pria itu segera menundukkan wajah.

"Berapa orang yang ditugaskan?"

"Lima prajurit, Your Highness."

"Baiklah." Lucian meletakkan batu asahnya, lalu bangkit berdiri. "Siapkan semuanya. Kita berangkat sebelum fajar."

Ia melangkah melewati prajurit itu, kemudian menepuk pundaknya dua kali.

"Jangan biarkan calon ratu kita menunggu.”


***


Matahari belum menampakkan diri. Sisa udara malam masih menyelimuti kota ketika enam ekor kuda meninggalkan gerbang utama Blackhall Palace. Lucian memimpin rombongan kecil itu. Sebilah pedang dengan gagang bertatah batu obsidian hitam tergantung di pinggangnya.

Tidak ada iring-iringan untuk mengantar kepergian mereka. Tidak ada bunga atau doa yang menyertai perjalanan itu. Bahkan, tak seorang pun tampak peduli ketika sang putra mahkota meninggalkan istana.

Tentu saja. Tugas yang diembannya bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Menjemput putri dari kerajaan yang telah ditaklukkan. Tidak lebih dari itu. Putri tersebut tak ubahnya rampasan perang yang akan diserahkan kepada sang penakluk.

Tidak ada kehormatan dalam tugas semacam itu. Sama seperti tidak pernah ada tugas penting yang dipercayakan kepadanya.

Gelar putra mahkota memang melekat pada namanya, tetapi kekuasaan tak pernah benar-benar berada di tangannya. Di istana itu, ia hanyalah sebuah pajangan. 

Keberadaannya dibutuhkan untuk memastikan takhta ayahnya tetap aman, bukan untuk mempersiapkannya menjadi raja.

Menjelang tengah hari, rombongan itu telah melewati batas wilayah ibu kota. Setelah menyeberangi sungai Eldermere yang memisahkan ibu kota dari desa-desa di sekitarnya, mereka hanya perlu menempuh beberapa jam perjalanan lagi sebelum tiba di Ashcombe, desa paling ujung batas kerajaan.

"Percepat langkah kalian!" serunya kepada para prajurit. "Kita harus tiba di Ashcombe sebelum sore."

Derap kaki kuda semakin cepat menyusuri jalan setapak yang membelah hutan. Tak lama kemudian, rombongan kecil itu menyeberangi Sungai Wyndmere, yang mengalir melintasi wilayah selatan Athelford. Dari jembatan batu yang mereka lalui, atap-atap rumah mulai terlihat di kejauhan. Ashcombe sudah tidak jauh lagi.

Beberapa saat kemudian, Lucian memperlambat kudanya ketika mereka memasuki desa pelabuhan tersebut.

Ashcombe membentang di sepanjang pesisir selatan Athelford. Bangunan-bangunan beratap curam berjajar di kedua sisi jalan berbatu. Sebagian berdinding putih dengan rangka balok kayu hitam yang tampak menonjol. Asap tipis mengepul dari cerobong-cerobong bata, sementara papan nama penginapan dan kedai bergoyang tertiup angin laut.

Desa itu lebih ramai daripada yang dibayangkan Lucian.

Para pedagang menjajakan hasil bumi, kain wol, roti, dan ikan asin di sepanjang jalan menuju pelabuhan. Gerobak-gerobak bermuatan barang bergerak perlahan di antara kerumunan, sementara para buruh sibuk menurunkan peti dari kapal yang baru saja merapat.

Teriakan pedagang bercampur dengan suara camar dan derit tali kapal. Bau ikan asin, garam, dan kayu basah memenuhi udara. Di kejauhan, beberapa kapal dagang tampak meninggalkan pelabuhan dengan layar terkembang. Sementara itu, di seberang perairan, garis pantai Genova terlihat samar di bawah cahaya matahari siang.

Sebuah menara pengawas berdiri di atas bukit kecil yang menghadap pelabuhan. Panji hitam House of Wycliffe, bergambar singa emas dengan dua sayap gagak, berkibar di puncaknya.

Di dekat gerbang desa, sejumlah prajurit berjaga dengan tombak dan pedang di pinggang. Mereka memeriksa kereta dan rombongan yang datang maupun pergi.

Lucian memperlambat kudanya ketika melewati pos penjagaan.

"Di mana rombongan dari Genova?" tanyanya kepada salah seorang penjaga.

Lihat selengkapnya