A Crown Of Two Kingdoms

Erika Hasan
Chapter #2

Chapter 2 - A Glimpse Beneath the Veil

Langkah tegap Lucian kembali memimpin rombongan memasuki penginapan. Isabelle menyusul satu langkah di belakangnya bersama para pelayan dan prajurit mereka.

Lantai kayu berderit pelan di bawah langkah kaki. Udara hangat menyambut mereka, membawa aroma kayu bakar dari perapian, bir ale, semur daging domba, dan rempah-rempah dari dapur. Di antara semua itu, tercium pula bau wol basah dari pakaian para pelancong yang baru tiba.

Sebuah perapian batu berukuran besar berdiri di salah satu sudut ruangan. Di dekatnya, beberapa meja panjang dan kursi kayu ek yang kokoh telah ditempati para tamu. Percakapan dan tawa terdengar dari berbagai penjuru, sesekali bercampur dengan bunyi gelas yang beradu.

Seorang pria bertubuh besar tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Ia membungkuk di hadapan Lucian.

"Selamat datang, My Lord." Matanya sempat beralih kepada Isabelle sebelum ia kembali menundukkan kepala lebih dalam. 

"Siapkan sepuluh kamar. Dua kamar terbaik untuk kami. Beri makan dan pastikan kuda-kuda di luar mendapat perawatan," perintah Lucian.

"Tentu, My Lord. Silakan ikuti saya."

Pria itu berbalik dan mulai melangkah menuju tangga. Lucian mengikutinya, tetapi langkahnya mendadak terhenti ketika menyadari Isabelle tidak bergerak dari tempatnya.

Alih-alih mengikuti mereka, wanita itu justru berjalan mendekati perapian dan duduk di salah satu kursi kayu. Kedua tangannya diletakkan di pangkuan, sementara pandangannya tertuju pada nyala api di hadapannya.

"Kau tidak mau beristirahat, Princess?" tanya Lucian sinis.

"Saya akan memeriksa kamar terlebih dahulu, My Lord, sebelum Su Alteza –Yang Mulia Tuan Putri– menempatinya," jawab Elena, lagi-lagi mendahului Isabelle.

Rahang Lucian mengeras. Ia menoleh kepada pelayan itu, lalu mengalihkan pandangan kepada wanita yang masih duduk di dekat perapian.

Ia berjalan menghampirinya dengan kedua tangan mengepal di sisi tubuh.

"Jangan bersikap seolah-olah kau seorang putri terhormat di kerajaan ini, Princess," desisnya dengan rahang terkatup. "Kau tidak lebih dari barang rampasan perang."

Jemari Isabelle yang bertaut di pangkuan mencengkeram kain gaunnya. Ia mengangkat kepala, menatap mata biru Lucian dengan sorot penuh kemarahan, lalu perlahan bangkit dari kursinya.

"Aku bukan barang rampasan," katanya. Suaranya yang semula lembut kini terdengar dingin dan tegas, tak kalah tajam dari ucapan Lucian. "Aku datang dengan sebuah perjanjian."

"Ya, tentu saja." Lucian tersenyum sinis. "Perjanjian yang membuat Genova bertekuk lutut di hadapan Athelford."

Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

"Dan kau adalah harga yang harus mereka bayar agar kami tidak menghancurkan kerajaanmu."

Sesaat, tak seorang pun berani menyela.

Isabelle tetap berdiri tegak di hadapannya. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, sementara sorot matanya menyiratkan kemarahan yang belum terucap. Ia sempat mengalihkan pandangan sesaat, sebelum kembali menatap Lucian tanpa gentar.

Lucian pun tidak mengalihkan pandangan. Rahangnya masih mengeras, seolah ia menunggu Isabelle membantah setiap kata yang baru saja dilontarkannya.

"Jadi, pilihanmu sekarang," katanya akhirnya. "Masuk ke kamar dengan kakimu sendiri, atau kuseret kau ke atas."

Ia berbalik sebelum Isabelle sempat menjawab.

"Kita berangkat sebelum fajar," tambahnya sambil menaiki tangga menuju lantai atas.


***


Lucian berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam yang sebagian tertutup awan.

Sebenarnya tidak ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Namun, entah mengapa, pikirannya terasa sulit tenang. Kejadian sepanjang hari bersama putri dari Genova itu seolah menguras kesabarannya. Ia bahkan belum tiba di istana, tetapi sudah bisa membayangkan betapa merepotkannya kehidupan di sana nanti dengan kehadiran tuan putri yang angkuh itu.

Lucian mengembuskan napas berat.

Jika putri itu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki, kemungkinan besar ia akan kembali disingkirkan. Sama seperti yang pernah terjadi dahulu.

Namun, jika itu benar-benar terjadi, apakah hidupnya akan menjadi lebih baik?

Pikirannya beralih kepada orang-orang yang pernah hidup bersamanya. Rakyat yang masih menderita di bawah kepemimpinan seorang raja yang lebih sibuk memperluas wilayah daripada memperbaiki kehidupan mereka. Orang-orang yang setiap hari hanya memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup, sementara istana sibuk menghitung seberapa luas wilayah yang bisa ditaklukkan berikutnya.

Selama sepuluh tahun pertama hidupnya, Lucian tumbuh di antara mereka. Ia tahu bagaimana rasanya hidup tanpa kepastian, bekerja keras hanya untuk mendapatkan makanan, dan menyaksikan orang-orang kehilangan harapan. Dua puluh tahun berikutnya di istana memberinya kesempatan untuk melihat sisi lain kekuasaan. Ia belajar bahwa keputusan seorang pemimpin bisa mengangkat kehidupan sebuah bangsa, tetapi juga mampu menghancurkannya.

Lucian mengalihkan pandangan ke balkon kamar di sebelahnya. Pikirannya kembali tertuju pada putri bercadar itu.

Ia masih terlalu muda untuk menjadi istri ayahnya. Wanita itu bahkan lebih pantas menjadi adik kecil Lucian. 

Namun, bagi ayahnya, usia bukan persoalan. Selama perempuan itu sehat dan mampu melahirkan seorang pewaris laki-laki, ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya.

Lucian menggeleng pelan. Ia berbalik dan hendak masuk ke kamar ketika suara langkah dari balkon sebelah membuatnya berhenti. Ia berdiri di ambang pintu, urung melangkah masuk.

Lihat selengkapnya