Sepanjang sisa perjalanan, wajah itu terus terbayang di benak Lucian. Kulitnya seputih pualam, bibir tipis yang merona, serta garis rahang yang anggun. Ia bahkan bisa membayangkan bibir sewarna ceri itu mengucapkan makian yang didengarnya semalam.
Lucian menyeringai. Namun, seringainya segera memudar.
Apa alasan wanita itu menutupi wajah cantiknya dengan cadar? Rencana apa yang sedang disusun putri taklukan itu?
Lucian mengarahkan pandangannya kembali ke jalan di depan.
Untuk saat ini, keamanan kerajaannya jauh lebih penting daripada hal lain. Karena itu, ia akan mengawasi Isabelle dengan saksama.
***
Hari hampir gelap ketika rombongan memasuki gerbang kota. Jalanan mulai lengang seiring datangnya malam.
Beberapa warga yang masih berada di luar rumah sempat memandang rombongan itu dengan kening berkerut sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak banyak penduduk yang mengenalinya. Lucian tumbuh besar di sebuah desa jauh dari ibu kota. Setiap kali berjalan-jalan menyusuri kota, ia biasa memperkenalkan diri hanya sebagai Lucian, tanpa menyebut nama belakang Wycliffe.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di gerbang istana Blackhall. Lucian menghentikan kudanya tepat di depan undakan batu menuju pintu utama.
Sejumlah pelayan telah menunggunya. Ia turun dari kuda, lalu seorang pelayan pria segera menghampirinya.
"Your Highness—"
Lucian mengangkat tangan, menghentikan ucapan pria itu.
"Panggil aku My Lord," bisiknya.
Pelayan itu mengernyit, tetapi tidak bertanya lebih jauh.
Dari belakang, terdengar langkah kaki mendekat. Isabelle berhenti satu langkah di depan Lucian.
"Your Highness, welcome to Athelford."
Pelayan pria itu sempat mengerutkan kening saat melihat cadar yang menutupi wajah sang putri. Namun, ekspresinya segera kembali datar. Ia membungkuk hormat, diikuti lima pelayan wanita yang berdiri di belakangnya.
Isabelle mengangguk kecil.
"Kamar Anda telah kami siapkan di sayap kiri istana, begitu pula tempat bagi para pengawal Anda."
Isabelle tidak menjawab. Ia hanya menatap pelayan pria itu dalam diam.
Pelayan tersebut melirik Lucian, seolah mengharapkan penjelasan.
"Dia mengerti bahasa kita," sahut Lucian. "Dia hanya malas berbicara."
Isabelle tetap diam, tetapi jemarinya mengepal di sisi tubuh.
Pelayan pria itu tampaknya memahami situasi di hadapannya. Ia kemudian menunjuk seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun yang berdiri tak jauh darinya.
"Silakan ikuti Mildred, Your Highness. Dia akan mengantar Anda ke kamar pribadi."
Wanita bernama Mildred itu membungkuk hormat. Isabelle mengamatinya sejenak lalu berjalan menaiki undakan batu, memasuki istana tanpa sepatah kata pun.
Lucian mengikuti kepergian wanita itu dengan pandangan hingga sosoknya menghilang di balik koridor.
"Your Highness, bagaimana perjalanan Anda?" tanya pelayan pria tadi.
"Melelahkan," jawab Lucian singkat.
Ia kemudian melangkah masuk, diikuti pelayan tersebut.
Mereka melewati koridor batu sebelum sebuah pintu kayu ek besar dengan ukiran lambang House of Wycliffe dibukakan untuknya. Pintu itu kemudian tertutup kembali.
Istana Blackhall dibangun dengan kemegahan khas bangunan kuno. Dinding-dinding batu menjulang tinggi, sebagian tertutup panel kayu ek berwarna gelap. Permadani wol tebal tergantung di beberapa sisi, meredam suara langkah sekaligus menahan udara malam yang merembes dari celah-celah bangunan.
Di atas kepala, balok-balok kayu besar membentuk kerangka langit-langit yang kokoh. Sebuah lampu gantung besi berukuran besar tergantung di tengahnya, memantulkan cahaya dari puluhan lilin lebah yang menyala.
Udara di dalam istana dipenuhi aroma kayu ek yang terbakar di perapian batu, lilin lebah yang meleleh, serta semir kayu yang samar-samar tercium dari perabotan tua.
"Panggil aku Lord Whitmore di depan putri itu, Giles," ujar Lucian sekali lagi sembari menaiki tangga batu menuju kamarnya.
"Baik, Your Highness."
"Dan bawakan bir ke kamarku. Tenggorokanku kering."
"Segera, Your Highness."
Giles mengantarnya hingga ke depan pintu kamar, lalu membiarkan sang pangeran beristirahat.
***