Isabelle terbangun dengan napas memburu. Dadanya naik turun cepat, sementara keringat membasahi pelipisnya. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas. Namun, jantungnya masih berdegup begitu kencang, seolah baru saja berlari menyelamatkan diri dari sesuatu.
Sejak tiba di Blackhall Palace, sudah beberapa kali ia terbangun setelah mengalami mimpi buruk.
Pada malam pertama, ia melihat seekor burung mati di dalam sangkar. Dua malam berikutnya, burung itu menghilang. Sebagai gantinya, ia melihat dirinya sendiri terkurung di dalam sangkar yang sama. Namun, mimpi semalam jauh lebih mengerikan.
Sebuah tangan besar mencengkeram pinggangnya. Ia tidak tahu siapa pemilik tangan itu. Tidak ada cahaya di sekelilingnya, tidak ada suara, bahkan tidak ada jalan untuk melarikan diri. Hanya kegelapan yang menyelimutinya.
Kedua tangan Isabelle merengkuh tubuhnya sendiri. Ingatannya kembali pada kejadian siang hari di tengah hutan, ketika pria barbar itu menariknya dengan kasar hingga keluar dari kereta.
Isabelle bergidik. Ia masih bisa mengingat bagaimana tangan pria itu melingkari pinggangnya. Tidak pernah ada pria yang menyentuh tubuhnya sebelumnya. Bahkan membayangkan kejadian tersebut saja sudah membuatnya merasa tidak nyaman.
"¡Ay, Dios mío!" bisiknya.
Ia meraih rosario yang tersembunyi di balik gaun tidurnya, lalu meletakkannya di dada dan menggenggamnya erat.
"Lindungi aku, Tuhanku."
Selama beberapa saat, Isabelle menundukkan kepala dan melafalkan doa dalam hati. Jemarinya perlahan mengendur seiring napasnya yang mulai teratur. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menyibakkan selimut dan menjejakkan kaki di lantai yang tertutup permadani tebal.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu.
"Señora Infanta."
Elena melangkah masuk dengan membawa nampan berisi wadah perak besar dan sehelai kain lembut. Ia meletakkan nampan itu di meja kecil dekat ranjang.
"Andai saja mimpi buruk itu tidak terus mengganggu Anda," gumam Elena cemas saat melihat wajah Isabelle yang masih pucat. "Anda mengalaminya lagi?"
Isabelle mengangguk. "Selalu, Elena."
Elena tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya memandang Isabelle dengan iba. Sudah beberapa malam ia menyaksikan sang putri terbangun dalam keadaan seperti itu, tetapi belum sekalipun Isabelle bersedia menceritakan apa yang sebenarnya ia lihat dalam mimpinya.
Pintu kembali diketuk.
Elena segera menoleh, sementara Isabelle berpaling dan membelakangi pintu.
Pintu terbuka.
"Señora Infanta."
Mendengar suara yang dikenalnya, Elena mengembuskan napas lega. Isabelle pun kembali menoleh.
"Ada apa, Juana?" Keningnya berkerut melihat kecemasan di wajah pelayannya itu.
"Saya baru mendengar pembicaraan para pelayan di dapur. Raja Edward akan kembali hari ini."
Seolah ada palu kecil yang menghantam dadanya.
Sudah waktunya?
"Beliau dan pasukannya akan tiba di istana siang nanti."
Wajah Isabelle menegang. Tangannya kembali menggenggam erat rosario di balik gaun tidur sutranya. Untuk sesaat, ia hanya diam, membiarkan kabar itu meresap ke dalam pikirannya.
Kemudian, perlahan, ia mengalihkan tatapan kepada Elena.
"Saatnya, Elena."
Elena mengangguk patuh. "Sí, Infanta.”
***
Iring-iringan panjang pasukan Raja Edward memasuki gerbang utama Blackhall Palace. Sang raja memimpin barisan dengan menunggangi seekor kuda hitam besar, diikuti dua komandan militernya. Di belakang mereka, para prajurit berbaris rapi, membawa panji-panji Athelford yang berkibar tertiup angin.
Ketika tiba di halaman dalam istana, Raja Edward menarik tali kekang kudanya. Seorang pengawal segera menghampiri untuk membantunya turun. Di hadapannya, para pejabat istana dan bangsawan telah berbaris menyambut kedatangan sang raja. Sejumlah warga terpilih juga diizinkan menyaksikan upacara itu dari sisi halaman.
"LONG LIVE KING EDWARD! LONG LIVE ATHELFORD! LONG LIVE HOUSE OF WYCLIFFE!"
Seruan itu menggema di seluruh halaman. Beberapa orang mengangkat tangan, sementara yang lain menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan.
Isabelle berdiri di koridor lantai dua yang menghadap halaman dalam istana. Kedua tangannya bertumpu pada pagar batu berukir, sementara pandangannya menyapu kerumunan di bawah. Dari tempat itu, ia bisa menyaksikan seluruh prosesi penyambutan tanpa terhalang siapa pun.
Raja Edward tampak berjalan dengan kebanggaan yang nyaris menyerupai kesombongan. Para bangsawan berusaha menunjukkan kesetiaan mereka melalui senyum dan pujian. Di deretan paling depan, Isabelle melihat pria yang menjemputnya beberapa hari lalu. Pria yang selama ini dikenalnya sebagai Komandan Whitmore.
"Jadi, dia memang bukan komandan biasa?" pikir Isabelle saat melihat posisi pria itu. Ia berdiri di antara para pejabat tinggi dan komandan militer, tidak jauh dari tempat Raja Edward akan menerima penghormatan.
Sang raja berjalan menuju panggung kehormatan yang telah disiapkan di ujung halaman. Ia mengangguk kecil kepada orang-orang yang mengucapkan selamat atas kemenangannya, sebelum menaiki beberapa anak tangga dan berdiri menghadap kerumunan.
Wajahnya tampak tegas, dengan sorot mata biru yang tajam. Usianya mungkin telah melewati setengah abad, tetapi tubuhnya masih tegap dan langkahnya tetap mantap.
"My Lords. My brave soldiers. My people!"
Suara Raja Edward terdengar lantang, menguasai seluruh halaman.
"Sekali lagi, kemenangan menjadi milik kita. Northwatch telah jatuh ke tangan Athelford. Benteng terakhir yang melindungi kerajaan di utara kini telah terbuka. Jalan menuju jantung Rathmór terbentang di hadapan kita!"
Sorak-sorai kembali terdengar. Beberapa prajurit mengangkat pedang mereka ke udara.
Isabelle mengepalkan kedua tangannya. Bagi mereka, itu adalah kemenangan yang patut dirayakan. Namun bagi Rathmór, hari itu mungkin menjadi awal kehancuran.
Raja Edward mengangkat satu tangan, meminta kerumunan kembali tenang.
"Atas keberanian dan kesetiaan mereka, aku akan memberikan penghargaan kepada para pria yang telah mempertaruhkan nyawa demi kemenangan ini."
Ia menoleh kepada seorang pria paruh baya yang berdiri di hadapannya.
"Jenderal Hargreaves. Mulai hari ini, engkau akan memegang komando atas lima ribu prajurit kerajaan."
Tepuk tangan riuh menyambut pengumuman itu. Pria berambut kelabu tersebut maju beberapa langkah, lalu berlutut dengan satu kaki. Ia menundukkan kepala dan meletakkan tangan kanan di dada.
"Kesetiaan dan pengabdianku hanya untuk Yang Mulia."
Setelah menerima anggukan dari sang raja, Hargreaves bangkit dan berdiri di sisi panggung kehormatan.
Raja Edward kemudian mengalihkan pandangannya kepada pria lain.
"Sir Robert Whitmore. Atas pengabdianmu kepada mahkota, mulai hari ini engkau kuangkat sebagai komandan pasukan kerajaan dengan seribu prajurit di bawah komandomu."
Isabelle mendengus pelan.
Pria yang tidak ikut berperang juga mendapat kehormatan? Kerajaan ini sungguh lucu.
Seorang pria maju dari antara para pejabat militer. Tubuhnya tinggi dan tegap, dengan rambut ikal keemasan. Ia berlutut di hadapan Raja Edward dan menundukkan kepala, mengikuti tata cara penghormatan yang sama.
Isabelle terdiam.
Tunggu. Pria itu bukan orang yang menjemputnya.
Matanya membelalak. Ia bergantian menatap pria berambut keemasan yang kini berdiri di hadapan raja, lalu pria yang selama ini dikenalnya sebagai Komandan Whitmore.
Jika pria yang berdiri di sana adalah Sir Robert Whitmore, lalu siapa pria yang menjemputnya dari Ashcombe?
Pertanyaannya terjawab ketika Raja Edward kembali bersuara.
"Dan tentu saja, aku tidak akan melupakan putraku sendiri. Putra Mahkota Lucian telah menyambut kepulanganku dengan penuh kehormatan dan menyiapkan persembahan atas kemenangan ini."
Apa?
Putra mahkota?