A Deal with The Devil

Katangga
Chapter #3

#3

Raditya tercekat. Apa katanya tadi? Utusan iblis? Dia tidak tahu, ditambah masih bingung, lebih baik yang mana antara bertemu malaikat maut ataukah si iblis sendiri.

"Kenapa? Masih juga tidak percaya?" Si sosok bergaun hijau membuyarkan lamunan. "Waktumu sudah tidak banyak lagi. Setidaknya sampai malaikat maut benar-benar tiba untuk mencabut nyawamu. Perjanjian kita hanya bisa dibuat pada waktu sempit itu."

"Perjanjian?" Raditya mengusap wajah dengan kasar. "Aku merasa tidak pernah memiliki utang apapun padamu. Apalagi iblis."

Si sosok tampak menghela napas. "Sayang sekali. Padahal, kamu bisa saja memiliki kesempatan kedua untuk hidup lagi. Bahkan membalas dendam atas tindakan keji beberapa orang padamu. Tapi ya sudahlah, jika itu pilihanmu. Aku bisa berikan kesempatan ini pada yang lain."

"Tidak. Tunggu! Maksudku ...."

Raditya merasakan gejolak dalam dirinya. Selama hidup dia selalu berada pada jalan yang lurus. Tidak pernah terpikir olehnya, bahkan dalam mimpi sekalipun akan bekerjasama dengan iblis. Namun, saat bayang-bayang tragedi kematiannya berulang, pemuda itu merasa tidak ada salahnya.

"Apa yang bisa aku berikan sebagai gantinya?" 

"Pintar." Si sosok tersenyum. "Sederhana saja. Yaitu dengan jiwamu. Kamu harus jadi budak sang iblis. Menjalankan tugas-tugas darinya. Termasuk menjadi utusan sepertiku juga."

"Jadi, kamu ...?" 

"... Itu tidak penting sekarang!" potong si sosok. "Sekarang mau lanjut atau tidak? Malaikat maut sebentar lagi bakal datang. Silahkan pilih sendiri!"

Raditya tidak bisa berpikir. Tapi setidaknya bisa memahami, kalau malaikat maut benar-benar tiba, dia harus menerima kematiannya. Sedangkan orang-orang serakah itu dengan seenaknya menikmati jerih payah keluarganya.

"Ya. Aku mau!"

"Bagus." Si sosok menjentikkan jari. "Dengan begitu, kamu telah terdaftar sebagai calon utusan iblis."

Lihat selengkapnya