LAIKNYA napas yang tertahan lalu dilepaskan berlahan, begitu pula cahaya mentari mulai merembes pelan di sela-sela pepohonan dan bukit-bukit bebatuan granit.
Silas bangun sebelum sang mentari naik sepenuhnya menyinari hutan. Tubuhnya hafal jam berapa sekarang, sebab dia terlatih bangun di waktu subuh. Berlahan dia bangkit dari ranjang sederhana. Dinginnya lantai terasa ketika dua telapak kakinya menyentuh lantai batu.
Di hadapannya, terdapat dinding kayu yang tergantung tali, kapak, cangkul, dan jaket coklat berbulu. Tidak ada bingkai foto dan benda-benda serupa pajangan yang biasanya berfungsi sebagai dekorasi. Bahkan televisi dan radio pun tidak akan kamu temukan di situ. Baik interior dan eksterior rumah ini sederhana, tergolong sangat sederhana. Orang banyak mungkin akan mengatakan bahwa rumah kayu ini sangat polos, ya, terlampau polos malahan.
Silas mencepol asal rambut hitamnya yang sudah sepundak, beberapa helai sisanya tampak terurai. Dia kemudian melangkah keluar rumah dengan handuk di pundak. Sesampainya di sungai, dia membasuh wajahnya dengan air yang begitu jernih pun menusuk dinginnya. Tetapi itu menyegarkan.
Suasana hutan begitu menenangkan. Udaranya lembap dan dingin. Tetapi, sekali lagi, itu menyegarkan. Dedaunan dan rerumputan berembun. Bulir-bulir airnya berlahan jatuh. Di ranting-ranting pohon, burung-burung kecil bersiul-siulan seperti menyanyikan lagu kanon tentang sukacita menyambut hari yang baru. Sementara itu, suara aliran sungai menambahkan kesan syahdu.
Silas mengelap wajahnya dengan handuk.
Pria itu beralih kembali ke dalam rumah, mengambil beberapa alat, lalu keluar di halaman belakang rumah. Di situ terbentang ladang. Itu bukanlah ladang pangan yang rapi seperti di poster-poster pemerintah. Tanahnya miring, garis-garis tanamannya mengikuti kontur alam. Tidak ada garis lurus sempurna, tidak ada papan proyek, ukurannya pun tidak berhektar-hektar dan tidak ada bendera Babel yang berkibar.
Ladang milik Silas memang tergolong kecil dan memiliki tanah miring. Namun, dia tidak mencoba meratakannya dengan buldozer seperti kelakuan beberapa oknum kelas atas yang suka beryel-yel di depan kamera dengan “Go go green!” padahal di belakang gemar sekali menggusur. Silas membiarkan tanah itu apa adanya. Dia menanam beberapa tanaman yang berguna bagi keberlangsungan hidupnya. Salah satunya kentang yang sedang dipanen sekarang.
Tangannya bergerak cekatan ketika memanen, seperti tubuh yang pernah dilatih untuk bertahan hidup dalam kondisi di segala situasi dan kondisi yang penuh tekanan, keras, dan kejam.
Di masa lalu, dia dikenal dengan sebutan Anjing Gila. Itu kehidupannya ketika di dunia bawah. Sungguh, masa-masa yang susah dan gelap. Namun, sebutan itu tidak pernah diucapkan di tempat ini, sebab tidak ada yang tahu, dan mereka tidak perlu tahu. Sekarang, dia hanyalah Silas, seorang petani yang hidup tenang seorang diri di hutan Alba.
Akhirnya, sebagian hasil panennya kali ini sudah siap dikonsumsi.
Sarapan Silas sederhana saja. Kentang yang dipanggang, ditambahkan olesan mentega, lalu topping keju. Tak lupa juga telur mata sapi dan segelas susu sapi segar. Tunggu, dia baru sadar ada satu yang kurang. Diliriknya rak di sebelah kiri dapur. Ada selusin botol susu di situ. Semua kosong.
Silas meraih jaket coklatnya. Kemudian berjalan menuruni jalur setapak yang penuh tanah dan kerikil. Dia menuju desa. Tak berlangsung lama, pintu rumah terbuka. Dia kembali lagi mengambil sekantung kentang yang ketinggalan.
***
Desa Alba membentang luas. Di kawasan pinggiran, rumah-rumahnya terdiri dari kayu dan bebatuan alam. Jarak dari satu rumah ke rumah yang lainnya cukup berjauhan, sebab setiap halamannya cukup luas. Bahkan ada yang memelihara sapi dan kambing di situ. Sementara di kawasan pusat desa, bangunan-bangunan berdempetan. Sebagian besar arsitektur bangunannya tampak masih klasik, tetapi ada juga beberapa yang sudah direkonstruksi tampak lebih modern.
Di kejauhan, danau memantulkan cahaya dari sang mentari yang mulai semakin meninggi. Air danau itu begitu tenang, nyaris terlalu tenang.
Di beberapa sudut desa dapat ditemui tanda-tanda kemashyuran Babel dengan papan iklan kemajuannya. Ada pula layar besar di dinding balai desa yang menayangkan siaran berita pagi. Di situ wajah si pewarta perempuan optimis, bibirnya mengembang tersenyum menampilkan barisan gigi putih nan rapi bersih, suaranya bulat dan stabil.
“Babel terus melangkah maju,” ucap si pewarta. “Stabilitas nasional tetap menjadi prioritas utama untuk kesejahteraan bersama.”
Radio-radio di beberapa titik memutar lagu ceria yang diselingi iklan layanan masyarakat tentang kemajuan infrastruktur dan masa depan cerah bagi generasi mendatang. Papan iklan berdiri di jalan utama, menampilkan visual gedung-gedung tinggi pencakar langit, pekerja-pekerja tersenyum optimis seperti si pewarta cantik di layar, dan slogan-slogan sampai dihafal anak-anak karena terlalu sering diputar.
Silas tidak berhenti untuk sekedar melirik, karena dia memang tidak peduli. Dia melangkah lurus menuju kedai sederhana milik Sofia yang tampaknya baru saja buka. Dia dapat menduga bahwa dialah pelanggan pertama hari itu.
Kedai Sofia lebih mirip ruang tamu yang terbuka untuk umum. Rak-rak kayu berisi roti, keju, sayur-sayuran, buah-buahan, lalu ada botol-botol berisi jus dan susu segar, dan beberapa kebutuhan pokok yang lain. Sementara di sudut ruangan ada beberapa bangku panjang yang menghadap ke arah jalan. Di depan bangku panjang itu terdapat meja yang berisi buku-buku bekas, yang barangkali diharapkan dapat mengisi waktu luang bagi para pengunjungnya.