DI jalan besar berdiri papan proyek. Lambang Negara Babel tercetak di sudut kiri atas. Logo Perusahaan Karsis Dominion di sudut kanan atas. Huruf-huruf yang menjanjikan masa depan tercetak di situ. Fon tebal, besar, mencolok. Seolah mencoba meyakinkan dengan bahasa yang berani.
PROYEK STRATEGIS NASIONAL
MENUJU KEMULIAAN BABEL YANG LEBIH CEMERLANG
Di bawahnya terdapat deretan poin yang berbunyi: pembangunan jalan penghubung, perluasan jaringan listrik, fasilitas industri energi kreatif, dan satu lagi baris yang dicetak dan mendapat banyak atensi oleh masyarakat.
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
Foto-foto ilustrasi memperindah papan proyek tersebut. Di situ terdapat dunia yang tidak (atau malah belum) pernah ada di Desa Alba, karena itu hanya bisa didapati di kota-kota besar di Babel. Ilustrasi tentang gedung-gedung tinggi pencakar langit menjulang di balik perbukitan yang sudah tampak dirapikan. Jalan raya yang luas dan lurus membelah hutan-hutan hijau yang tertata rapi. Dan langit biru cerah, secerah harapan di tulisan tebal "MENUJU KEMULIAAN BABEL YANG LEBIH CEMERLANG".
Beberapa warga desa tidak peduli, tetapi ada lebih banyak yang peduli. Mereka berhenti sejenak dan membaca. Ada yang tersenyum. Ada yang mengangguk-angguk, seolah masa depan sudah bisa dihitung. Ada juga yang berdiri lama, tangan terlipat di dada, menatap hutan di belakang papan seakan mencoba mengingat letak tanahnya sendiri.
"Katanya nanti listrik lebih murah, gratis malahan," ujar seorang wanita paruh baya.
"Katanya nanti desa kita lebih maju dan akan masuk peta nasional," sahut seorang lelaki.
"Banyak pekerjaan yang tersedia. Dengar-dengar ada berjuta lapangan pekerjaan nantinya," sahut yang lain.
"Berapa jumlah pastinya?"
"Sembilan belas juta lapangan pekerjaan katanya, itu yang aku dengar."
"Tapi ... ladang dan rumahku di situ," gumam seorang pria, hampir tak terdengar.
Kekhawatiran seorang pria yang terakhir itu tenggelam di kerumunan warga. Ucapannya itu tidak sefrekuensi dengan mereka yang optimis, begitu pula dengan janji harapan yang tertulis dengan huruf-huruf kapital yang mendominasi. Matanya tertuju pada peta kecil di sudut kanan bawah papan. Itu peta Desa Alba yang mencakup luasnya tanah dari pemukiman, hutan, perbukitan granit, hingga danau. Garis merah memotong wilayah-wilayah di situ. Si pria mengikuti garis merah dengan telunjuknya, pelan lalu berhenti di satu titik. Di sanalah ladang dan rumahnya berdiri. Ada juga peternakannya yang di situ hidup sekawanan domba. Dia tak berkata apa-apa lagi. Hanya bisa menarik dan membuang napasnya panjang, lalu pergi dengan langkah gelisah.
Pada hakikatnya Desa Alba adalah wilayah yang kaya raya. Perbukitan granit di situ mengandung torium yang sangat melimpah. Torium disebut-sebut sebagai bahan baku energi masa depan yang aman dan bersih. Wilayah ini begitu sempurna dan tentunya "berpotensi" begitulah istilah dari pemerintah yang sering diberitakan. Secara geologis wilayah ini juga minim bencana seperti gempa. Letaknya juga jauh dari kota-kota besar, di mana padat penduduk. Yang terpenting, penduduknya tergolong sedikit, sekitar 800-an jiwa. Di mata penguasa mereka mudah dibujuk, dipindahkan, dan tentunya jika memprotes akan lebih mudah dibungkam.
Sementara itu danau dan sungai yang memberi sumber kehidupan masyarakat desa, dilirik sebagai pendingin reaktor yang murah dan efektif.
Padang rumput dan hutan yang menjaga tanah dari longsor bahkan tak luput dari lirikan. Mereka melihat bahwa itu adalah lahan kosong yang belum dioptimalkan.
Semua kekayaan Alba ini sudah tersusun rapi dalam proposal, disederhanakan dalam infografik, lalu dipoles menjadi kalimat yang terdengar mulia.
Energi masa depan, kemajuan berkelanjutan!
Di balai desa, layar besar menampilkan siaran langsung. Di situ Presiden Babel, Lucius Valerius muncul dengan setelan rapi, berdiri di podium dengan latar bendera Babel. Dia berbicara dengan nada terukur, tegas, dan percaya diri. Dia sudah terlatih agar suaranya tidak pernah terdengar ragu.
Si presiden berbadan tambun tersenyum optimistis menatap kamera.
"Stabilitas nasional adalah fondasi kemajuan," ujarnya. "Kita membangun demi generasi mendatang menuju kemuliaan Babel yang lebih cemerlang."
Warga menyimak. Ada yang terpukau. Ada yang hanya berdiri. Ada yang menonton sambil menyilangkan tangan dengan wajah kaku dan tidak senang.