GEREJA Santo Clemens berdiri tenang pada bukit di pinggiran Desa Alba. Gereja tua berarsitektur neogotik itu tampak anggun pun megah dari segala sisi. Menaranya menjulang tinggi ke atas dengan busur-busur lancip yang salah satu ujung tertingginya terdapat salib. Walau sudah lama sekali usianya, dinding-dinding bebatuan kelabu itu tetap kokoh berdiri.
Cahaya Minggu pagi terpantul lembut ke dalam ruangan disaring melalui kaca-kaca patri. Kaca-kaca patri itu membentuk mozaik-mozaik indah dengan gambar Santo Clemens. Selain Santo Clemens, ada pula gambar Roh Kudus yang berupa merpati, juga para malaikat, Santa Maria bersama Santo Yosef dan kisah-kisah pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
Tampak di halaman depan warga Alba datang dengan pakaian terbaik yang mereka miliki. Para perempuan mengenakan gaun sederhana nan sopan. Sementara para lelaki mengenakan kemeja dan celana kain yang tampak disetrika rapi-rapi. Barangkali baju yang mereka kenakan sebagiannya merupakan warisan dari generasi sebelumnya.
Anak-anak berlarian dengan kegirangan, sebagian lagi digandeng ayah dan ibunya. Wajah-wajah polos mereka tidak sepenuhnya mengerti mengapa minggu pagi ini terasa berbeda, tetapi anak-anak itu bisa merasakannya.
Minggu kali ini gereja tampak lebih ramai pengunjung dari biasanya. Di halaman gereja terparkir mobil-mobil mewah. Jelas, mobil-mobil itu bukan milik warga desa. Pelatnya saja sangat unik, berbeda dengan punya masyarakat kebanyakan. Sopir-sopir membukakan pintu untuk orang-orang penting. Pengawal-pengawal berpenampilan necis turut mendampingi, wajah mereka datar dan selalu waspada. Kehadiran mereka menghebohkan Gereja Santo Clemens. Para awak media pun turut meliput, tak lupa pula dengan bunyi-bunyi “cekrek!” dari kamera mereka yang mendukung kehebohan suasana kala itu.
Tokoh-tokoh pejabat dan pengusaha tersenyum menyapa semuanya. Ada anggota dewan daerah, wakil kementerian, dan beberapa pengusaha. Para lelakinya tampak perlente, tak lupa pula dengan arloji-arloji mengkilap mereka, yang mungkin berpuluh-puluh juta harganya. Sementara para wanita mengenakan gaun dan perhiasan hingga heels bermerek dari para desainer terkenal. Di depan pintu gereja mereka menyalami Pastor Paul dan para biarawan-biarawati dengan hangat dan tampak tulus. Kamera-kamera para awak media sibuk menjepret momen-momen kecil tersebut, yang nantinya akan diberi keterangan seperti "iman dan kemajuan berjalan bersama”. Di dalam gereja, mereka mengambil tempat paling depan. Di antara mereka, ada pula yang jarang atau bahkan tidak pernah berdoa, orang-orang itu hadir hari ini hanya demi citra diri semata.
Bunyi lonceng pun berdentang, umat-umat yang masih di luar buru-buru masuk. Bangku-bangku panjang terisi hampir penuh. Bisik-bisik pelan yang terdengar, perlahan menghilang ketika arak-arakan putra-putri altar bersama Pastor Paul memasuki gereja. Pemain organ dan sekelompok paduan suara turut melantunkan nyanyian sukacita yang terdengar merdu dan megah.
Silas, orang terakhir yang tiba di gereja mengambil tempat duduk di bangku paling pojok sebelah kanan. Ketika berjalan di pintu depan tadi, dia hampir saja menonjok para pengawal yang menatapnya tajam dan penuh keangkuhan. Silas sebenarnya datang tanpa banyak pertimbangan lagi. Undangan Pastor Paul kemarin masih terngiang di kepalanya. Perumpamaan tentang Aquila dan Columba pun masih berada dalam alam pikirannya.
Sepasang mata hitamnya mengamati seisi gereja dengan kewaspadaan yang sudah lama menjadi nalurinya. Dia melihat wajah-wajah yang tidak asing lagi di negara ini. Mereka, orang-orang yang biasa berbicara tentang target kemajuan. Mereka juga, orang-orang yang suka berbicara angka dan grafik di hadapan publik. Kini mereka duduk tenang di depan sana dengan tangan terlipat dan kepala sedikit tertunduk. Silas menyeringai. Menurutnya orang-orang itu pandai, pandai sekali berakting dermawan pun rendah hati.
Pandangannya pun berpindah di bangku seberang, beberapa baris ke depan. Di situ si pedagang tua, Sofia, duduk bersama Clara. Sofia mengenakan gaun coklat yang berenda-renda dan sudah tampak cukup kuno untuk gaun di zaman modern ini. Tangannya yang keriput terlipat rapi, tampak tenang mengikuti misa. Sementara itu, Clara yang duduk di sampingnya tampak lebih baik penampilannya dari pertemuan pagi kemarin. Rambut merahnya yang terang kini tersisir rapi dan dibiarkan tergerai. Sementara itu, gaun krem bermotif bunga-bunga tampak membuatnya sangat anggun rupawan, sangat berbeda dengan sosok acak-acakan kemarin yang tampak baru bangun tidur.
Sepasang mata bulat Clara tampak mengamati seisi interior gereja. Gereja di ibukota, tempatnya menimba ilmu dulu, tidak seindah ini. Sesekali tanpa sadar matanya ke arah belakang lalu bertemu sepasang mata hitam yang juga sedang memandangnya.
Tatapan mereka dibuyarkan dengan suara Pastor Paul yang terdengar akan memulai doa pembuka. Ketika tatapan mereka bertemu tadi, tidak ada senyum atau sapaan. Mereka berdua hanya terdiam dan sepakat dengan kehadiran yang saling disadari.
Misa kudus pun berjalan dengan ritme yang khusyuk. Doa dan nyanyian menggema memenuhi ruang-ruang tersudut. Suara-suara itu naik ke langit-langit, memantul, lalu kembali turun sebagai gema-gema nan lembut di telinga. Di saat seperti inilah, Gereja Santo Clemens tampak benar-benar menjadi tempat pertemuan antara umat manusia dan penciptanya.
Kemudian, tibalah saat homili. Pastor Paul melangkah ke mimbar dengan langkah tenang. Wajahnya yang keriput memandang ke seluruh umat. Pandangan dan senyumannya begitu manis dan meneduhkan.
"Hari ini," ujarnya, "kita berkumpul bukan hanya sebagai umat beriman, tetapi sebagai penghuni rumah yang sama."
Kepala-kepala yang tadinya menunduk kini terangkat penasaran.
Pastor Paul pun memulai khotbahnya.
"Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus. Selamat pagi! Selama hari Minggu!
"Hari ini kita semua diajak untuk merenungkan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Namun, acapkali kita anggap biasa-biasa saja. Itulah bumi ... rumah kita bersama. Sabda Tuhan dan ajaran gereja, khususnya melalui Ensiklik Laudato Si' dari mendiang Paus Fransiskus, mengingatkan kita bahwa iman tidak pernah terpisahkan dari tanggung jawab kita terhadap alam lingkungan tempat kita hidup.
"Dahulu sekali, di awal abad ke-13, ada seorang biarawan yang hidupnya sederhana. Dialah Santo Fransiskus dari Assisi. Ia menciptakan Kidung Saudara Matahari. Yang begini bunyinya:
'Laudato si', mi' Signore,
per sora nostra matre Terra,
la quale ne sustenta et governa,
et produce diversi fructi con coloriti flori et herba.'
"Yang artinya 'terpujilah Engkau, Tuhanku, karena saudari kami, Ibu Bumi, yang menopang dan mengasuh kami, dan menumbuhkan berbagai buah-buahan, beserta bunga berwarna-warni dan rerumputan.'
"Itu petikan dari karya indahnya. Tetapi itu bukan sekadar karya indah, itu merupakan pengakuan iman bahwa bumi bukanlah benda mati yang bebas kita eksploitasi sesuka hati. Bumi rumah kita bersama adalah anugerah Tuhan yang juga menopang keberlangsungan hidup kita semua. Santo Fransiskus dari Assisi melihat bahwasannya alam itu bukan sebagai objek, tetapi sebagai saudara dan saudari dalam satu keluarga ciptaan Allah, Bapa kita semua.
"Saudara-saudariku yang terkasih. Mendiang Paus Fransiskus mengingatkan kita melalui ensiklik Laudato Si' yang juga terinspirasi dari kidung Santo Fransiskus dari Assisi tadi, bahwa segala sesuatu dalam ciptaan ini ada hubungan satu dengan yang lainnya. Seperti contohnya ... kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan lingkungan itu sendiri. Pandemi, perubahan iklim, kemiskinan, kelaparan, bahkan migrasi manusia ... akarnya itu sering kali disebabkan oleh ketidakseimbangan hubungan antara manusia dengan alam lingkungan itu sendiri.
"Dewasa ini, manusia sering berpikir bahwa krisis ekologis hanya persoalan teknis. Namun di sisi lain, gereja mengajarkan bahwasannya krisis ekologis merupakan krisis moral dan juga krisis spiritual. Ketika manusia kehilangan rasa syukur dan cinta kasih terhadap sesama ciptaannya, mereka akan melihat bahwa alam hanya sebagai sumber keuntungan yang harus dikeruk dan dieksploitasi secara besar-besaran. Aku peringatkan kepada kamu semua ... berhati-hatilah! Sebab di saat-saat itulah kehancuran 'kan tiba kepadamu.
"Ok, sekarang mari kita lihat apa kata alkitab. Dalam Kitab Kejadian, ada tertulis bahwa Tuhan menciptakan manusia lalu menempatkan mereka di taman Eden untuk memelihara alam ciptaan-Nya. Memelihara, ok, bukan menguasai secara semena-mena, bukan pula mengeksploitasi tanpa batas. Melainkan memelihara, merawat.
"Saudara-saudariku yang terkasih. Dalam Injil hari ini, Injil Matius, Yesus mengajak kita melihat burung-burung di udara dan bunga bakung di ladang. Di situ Yesus tak hanya mengajarkan tentang nilai diri manusia yang mulia dan kepercayaan kepada-Nya, tetapi juga mengajak manusia untuk belajar menghargai ciptaan sebagai tanda kasih-Nya. Alam lingkungan kita bahwasannya ialah guru rohani yang mengajarkan kesederhanaan, kepercayaan, dan harmoni di muka bumi ini.
"Tetapi kenyataannya, manusia yang sudah modern ini menjadi sangat tamak. Lihat saja kehidupan kita ... kita sudah menjadi manusia yang sangat konsumtif. Dalam Laudato Si', Paus Fransiskus menyebut ini sebagai penyakit konsumerisme. Dewasa ini, kita manusia, terbiasa mencari jalan yang instan, demi mengejar keuntungan yang cepat. Segala sesuatu yang serba instan ini membuat kita semua terbuai, menjadi terlalu nyaman, sehingga kemampuan kita untuk merenung hilang. Di kehidupan sehari-hari, kita dapat mendapati fenomena ini. Seperti contohnya, kita acapkali lebih mengenal teknologi lebih baik daripada mengenal tetangga atau malah keluarga kita sendiri. Melalui teknologi dan gaya hidup instan ini pula kita terlatih mengidentifikasi merek-merek barang dengan cepat, tetapi bagaimana dengan alam sekitar kita? Masihkah kita peduli?
"Karena itu, marilah kita kembali merenung dan sadar. Paus Fransiskus menawarkan jalan keluar ... yakni pertobatan ekologis. Ada dua jalan pertobatan ekologis, kontemplasi dan belas kasih.
"Pertama, kontemplasi. Di jalan kontemplasi ini, ia mengajak manusia untuk berhenti sejenak dari kesibukan duniawi. Dalam keheningan, manusia kembali belajar bagaimana melihat dunia dengan cara pandang Tuhan. Di jalan ini, keseimbangan antara pikiran, perasaan, dan tindakan ‘kan tercipta. Ketika manusia mau berhenti dan merenung sejenak untuk sesama ciptaan, ia 'kan menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki dan menguasai, tetapi tentang menerima dan mensyukuri. Kontemplasi ini tidak membuat manusia pasif. Malahan dari kontemplasi lahirlah tindakan yang bijaksana. Orang yang merenung tentang sesama dan alam ciptaan, tentu akan terdorong untuk merawat bukannya merusak.
"Kedua, belas kasih. Di jalan belas kasih ini ... artinya kita harus mampu menderita bersama orang lain. Ingatlah, bahwa belas kasih melampaui teori dan ideologi. Ketika manusia berbelas kasih, kita akan melihat bahwasannya setiap manusia adalah sama, sebagai saudara-saudari dalam satu keluarga ciptaan Tuhan. Belas kasih pula berarti tidak bersikap acuh tak acuh terhadap penderitaan manusia dan kerusakan alam lingkungannya.