A for Aeternvm

Marhaeny Benedikta
Chapter #6

Bab 4. Undangan •

MAKAN siang di biara tadi berakhir dengan percakapan panjang, terutama dengan Pastor Paul. Setelah Sofia dan Clara pulang, tak disangka Silas justru duduk lebih lama dengan Pastor Paul.

Itu sebuah percakapan yang bahkan tak pernah Silas bayangkan akan terjadi dalam hidupnya. Ketika dia mengakui masa lalunya yang penuh dosa, lelaki tua itu tidak menghakimi, bahkan tidak menuntut penjelasan lebih. Bukannya takut, Pastor Paul malah mendoakannya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Silas merasakan diterima dan diperlakukan layaknya seorang manusia.

Dari punggung bukit di halaman depan Gereja Santo Clemens, Silas memandang Desa Alba dengan padang rumput hijau membentang. Danau di tepi permukiman tampak tenang, bak kaca yang memantulkan kondisi langit sore nan cerah. Sementara di sisi lain, terdapat hutan yang membentang luas. Di dalam hutan itulah rumah dan ladang, tempat dia hidup selama tiga tahun belakangan ini.

Silas mulai menuruni jalan bukit. Keranjang kosong di tangan kanannya berayun ringan mengikuti langkah kakinya. Angin sore yang menyusuri lereng begitu halus menerpa dengan aroma tanah. Cahaya mentari mulai condong ke barat sehingga siluet tubuhnya tampak memanjang di depan jalan, seakan mendahului dirinya.

Silas terus melangkah pulang menuju jalan berkelok ke hutan.

Ketika mencapai setengah turunan, netra tajamnya menangkap sesuatu di ujung jalan. Sebuah mobil hitam. Mobil itu berhenti di bahu jalan, sedikit keluar dari aspal. Kaca-kacanya gelap dan mengilap. Cahaya mentari terpantul dari situ. Untuk tempat terpencil seperti ini, mobil mewah itu tampak terlalu mencolok.

Silas tidak berhenti. Langkahnya tetap maju. Namun, ketika melewati mobil itu, dia sengaja memperlambat langkah sepersekian detik. Sekilas melirik ke arah kaca-kaca gelap. Hal itu tak memberi petunjuk sama sekali tentang siapa yang berada di dalam. Tetapi insting lama dalam dirinya menyala, memasang mode waspada. Dia terus melangkah maju menjauhi mobil.

Seratus meter.

Dua ratus meter.

Tiga ratu meter.

Mesin mobil menyala. Lalu bergerak pelan. Mengikuti langkah demi langkahnya.

Silas berhenti. Mobil itu juga berhenti. Dia menoleh ke belakang.

Seorang pria jangkung keluar di pintu kiri. Di saat yang bersamaan, seorang pria plontos keluar dari pintu kanan. Keduanya tampak rapi mengenakan setelan hitam. Wajah mereka datar dan waspada.

Silas mengenali mereka. Mereka bagian dari para pengawal orang-orang penting tadi. Mereka dibayar mahal untuk menjaga citra tuannya dan, bila perlu, mereka tak segan menghapus nyawa seorang target. Mereka adalah hitman yang dipoles rapi sebagai bodyguard.

Si plontos dan si jangkung melangkah mantap mendekati Silas, hingga tersisa jarak sekitar tiga meter. Tidak ada sapaan, senyum, apalagi basa-basi.

"Silas," ucap si jangkung, yang tingginya hampir dua meter.

Silas tidak menjawab.

"Ada yang ingin bertemu."

Silas masih diam, hanya menyimak.

Angin bergerak pelan di antara pepohonan, menyebabkan dedaunannya bergetar lembut. Hening. Sebuah keheningan yang bukannya membawa ketenangan, melainkan ketegangan di antara mereka.

"Ada tawaran." Kali ini si plontos yang berbicara. "Nilainya tinggi. Lebih tinggi dari yang pernah kau sentuh."

Silas menatap dua orang itu bergantian. Tatapannya datar, tampak tak peduli.

"Aku sudah pensiun," ujar Silas, lalu kembali melangkah.

Buru-buru si plontos diikuti si jangkung bergeser setengah langkah, menghalangi jalan.

"Kau bahkan belum dengar detailnya," ucap si plontos. "Ikut dengan kami! Lalu kau bebas untuk—"

"Tidak. Jawabanku tidak. Kalian buang-buang waktu."

Silas melewati mereka. Dia berjalan tenang semakin memasuki hutan rimbun.

Langkah-langkah kaki di belakangnya terdengar. Silas menoleh sedikit dan mendapati kedua orang itu mengekorinya.

Dua orang bodoh dan keras kepala, pikirnya.

Semakin ke dalam hutan, pepohonan semakin rimbun. Cahaya mentari pun samar-samar. Jalan setapak yang tadinya berkerikil kini digantikan dengan dedaunan. Bunyi kersak terdengar ketika mereka menginjak dedaunan kering.

Silas mendengar langkah kaki dua orang itu semakin cepat dan dekat di belakang. Akhirnya, dia berhenti begitu pun dengan kedua orang itu. Atmosfer di sekitar semakin mencekam.

"Kami diminta membawamu," ucap si plontos, "dengan cara apa pun."

Gerakan mereka datang tanpa aba-aba. Tiba-tiba pistol dikeluarkan dari balik jas. Pistol terangkat ke arah Silas, tetapi gerakan mereka masih tergolong lambat untuknya. Silas cepat memiringkan tubuh. Bahunya menurun. Tangan kirinya menepis pergelangan si plontos sebelum moncong senjata itu mengeluarkan peluru.

Letupan terdengar.

Lihat selengkapnya