Rabu, 30 April 2025 - Rumah Sakit Langkarsa
Peluh dingin menetes dari pelipisnya saat matanya terbuka dengan tiba-tiba. Napasnya memburu, dada naik turun seperti baru ditarik dari air tenggelam. Cahaya redup dari lampu langit-langit rumah sakit membias samar di dinding putih yang lembab. Sepi. Hanya suara detak jam dan mesin infus yang mengisi kekosongan ruangan.
Aiman masih bisa merasakan panasnya ledakan, jeritan yang tidak pernah berhenti, dan wajah-wajah yang seharusnya sudah lama terkubur. Lengan kirinya diperban, tulang rusuknya nyeri saat bergerak. Namun, luka itu bukan yang paling menyakitkan. Yang lebih parah adalah luka yang datang setiap kali ia terjaga, perasaan asing dari bayangan-bayangan masa lalu yang tetap tinggal, meski semua orang bilang itu hanya mimpi buruk belaka.
Tangannya mengepal di atas selimut, mencoba meredam getaran di dada yang belum juga tenang. Di sela-sela helaan napas berat, pikirannya menyeretnya kembali, bukan ke malam kecelakaan, tetapi ke saat lain yang sama pahitnya. Usianya tujuh belas tahun kala itu. Kota Langkarsa sedang mencoba memulihkan citra sebagai kota modern dengan kebijakan baru: setiap siswa bermasalah akan dikirim ke barak militer selama enam bulan, program pendisiplinan mental dan fisik yang disahkan langsung oleh gubernur.
Aiman tidak pernah melupakan dinginnya lantai barak, suara sepatu bot para pelatih yang menghantam beton atau rasa asin darah di lidahnya setelah dihukum push-up ratusan kali karena melawan perintah. Ia masuk sebagai remaja yang tenggelam dalam amarah dan rasa bersalah, serta keluar dengan satu keputusan pasti: jika hidupnya dihantui masa lalu, maka ia akan belajar memburunya, bukan lari lagi.
Aiman menutup matanya perlahan, walau tahu tidur takkan membawa ketenangan. Namun tubuhnya lelah, pikirannya seperti tanah longsor yang akhirnya menyerah pada gravitasi. Tak lama, kesadaran menipis dalam kabut samar, bukan tidur nyenyak, tetapi cukup untuk menunda gelombang kenangan berikutnya.
Cahaya pagi menerobos tirai rumah sakit, membentuk garis-garis terang di lantai kusam. Aiman terbangun dengan kepala masih berat, tetapi tubuhnya sedikit lebih tenang. Lalu, suara pintu terbuka pelan. Seorang pria berseragam dinas, postur tegap dan raut wajah yang keras tapi teduh, melangkah masuk.
"Selamat pagi," ucapnya singkat. Ia tak membawa bunga atau buah, hanya membawa map cokelat tebal di tangan.
Aiman mengenalnya. Sosok itu tidak asing. Letnan Adnan Wira, sosok yang beberapa kali ia dengar dari para penyelidik senior, kini berdiri tepat di hadapannya.
"Aku ingin bicara soal langkah ke depan. Kau akan dipindahkan ke tim baru yang akan langsung ditugaskan menangani serangkaian kasus orang hilang yang belum terselesaikan," kata Adnan sambil duduk di kursi di samping ranjang. "Aku yang akan memimpin tim itu dan kau, akan jadi bagian dari dalamnya."
Aiman menatapnya lekat, tidak langsung menjawab. Hanya satu hal yang melintas di benaknya saat itu, kalau kasus ini adalah yang selama ini tertunda dua puluh tahun, maka mungkin … jawaban yang ia cari akhirnya mulai menampakkan diri.
Pria berusia 45 tahun itu menatap samar Aiman dan berusaha bersikap friendly serta ramah. Aiman menghindari tatapan itu. Matanya memandangi jendela buram, seolah-olah ingin keluar dari ruangan tanpa benar-benar bergerak.
"Kau suka kopi, Aiman?" tanya Adnan sambil menyandarkan punggungnya di kursi.